Pernahkah Kita merasa bahwa meskipun harta sudah terkumpul, jabatan sudah digenggam, dan pujian orang mengalir deras, namun di tengah malam yang sunyi, hati Kita masih merasa hampa dan dikejar-kejar oleh kecemasan yang tak berujung? Seolah-olah ada lubang besar di dalam jiwa yang tak pernah bisa penuh, seberapapun banyak dunia yang kita jejalkan ke dalamnya. Sahabat Qur’an yang saya cintai, bisa jadi itu adalah alarm dari Allah bahwa virus hubbud dunya atau cinta dunia yang berlebihan sedang mulai menggerogoti iman kita tanpa kita sadari.

Ketika Dunia Menjadi Tuan, Bukan Pelayan

Sahabat Qur’an, Islam tidak pernah melarang kita menjadi kaya atau memiliki kedudukan tinggi. Namun, masalah besar muncul ketika dunia yang seharusnya berada di tangan, justru berpindah masuk dan bertahta di dalam hati. Itulah esensi dari hubbud dunya: menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidup, bukan lagi sebagai sarana atau kendaraan menuju kampung keabadian. Ketika dunia sudah menjadi “tuan” dalam hidup kita, maka kita akan menjadi budak yang selalu merasa kurang, haus, dan lelah tanpa henti.

Akibatnya sungguh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Muncul ketakutan yang berlebihan terhadap kematian (wahn), kecenderungan menghalalkan segala cara demi mengejar materi, hingga hilangnya rasa syukur. Hati yang terjangkit cinta dunia akan selalu merasa sempit meskipun tinggal di rumah yang luas. Kita menjadi mudah iri dengan pencapaian orang lain dan sulit untuk berbagi, karena merasa bahwa harta adalah segalanya yang menjamin kebahagiaan kita.

ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ … وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلد\ُنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga-bangga di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak cucu… Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Menyingkap Tabir Kesenangan yang Menipu

Melalui Surah Al-Hadid ayat 20, Allah SWT sedang mengajak kita untuk melakukan “zoom out” agar bisa melihat realitas dunia secara utuh. Dunia disebut sebagai mata’ul ghurur atau kesenangan yang menipu. Mengapa menipu? Karena ia terlihat indah dari kejauhan, namun akan memudar kecantikannya saat sudah kita genggam. Dunia ibarat fatamorgana di tengah padang pasir; seorang yang haus akan terus berlari mengejarnya, namun yang ia dapati hanyalah kelelahan dan debu, bukan air yang menghilangkan dahaga.

Hubbud dunya membuat kita rabun jauh terhadap akhirat. Kita sangat detail merencanakan masa depan di dunia hingga puluhan tahun ke depan, namun kita lalai menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian yang lamanya tak terhingga. Kita sering lupa bahwa status kita di dunia hanyalah seorang pengelana. Rasulullah SAW mengibaratkan kehidupan kita di dunia seperti seorang musafir yang berteduh sejenak di bawah pohon, lalu pergi meninggalkan pohon itu untuk melanjutkan perjalanan.

Menjadikan Dunia Sebagai Ladang Akhirat

Lalu, bagaimana solusi agar kita tidak tenggelam dalam arus hubbud dunya? Caranya bukan dengan membenci dunia atau meninggalkannya secara total, melainkan dengan mengubah mindset kita. Kita perlu menanamkan keyakinan bahwa dunia ini adalah ladang (mazra’ah) untuk akhirat. Apa yang kita tanam di sini, itulah yang akan kita tuai di sana. Harta digunakan untuk sedekah dan wakaf, jabatan digunakan untuk menolong agama Allah, dan ilmu digunakan untuk memberi manfaat bagi sesama.

Saat kita meletakkan dunia di tangan, kita punya kendali penuh untuk melepaskannya kapan saja jika Allah memintanya. Namun jika dunia sudah di hati, maka kehilangannya sedikit saja akan membuat kita hancur dan putus asa. Kunci utamanya adalah zuhud. Zuhud bukan berarti tidak punya harta, tapi zuhud adalah kondisi hati yang tidak terikat oleh apa yang ada di tangan, dan lebih percaya pada apa yang ada di sisi Allah.

Mengingat Kematian Sebagai Pemutus Kelezatan

Sahabat Qur’an, obat paling mujarab untuk penyakit cinta dunia adalah sering-sering mengingat kematian (dzikrul maut). Bukan untuk membuat kita pesimis, tapi untuk memberikan perspektif yang benar bahwa segala yang kita cintai di dunia ini pasti akan kita tinggalkan. Dengan mengingat kematian, ambisi duniawi yang meledak-ledak akan menjadi tenang, dan semangat untuk beramal shaleh akan berkobar kembali.

Mari kita mulai hari-hari kita dengan niat yang benar. Bekerjalah seolah kita akan hidup selamanya untuk memberikan manfaat terbaik bagi umat, namun beribadahlah seolah kita akan mati esok pagi. Semoga Allah menjaga hati kita agar tidak tertambat pada dunia yang fana ini, dan menjadikan kita pribadi yang merindukan pertemuan dengan-Nya di surga nanti.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh: Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat. Website: kunjungi halaman ini WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Karantina Tahfidz Quran Jogja
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,