Dalam bentangan kehidupan yang sarat interaksi, lisan kita adalah pelukis realitas, pengukir hubungan, dan penentu arah hati. Setiap untaian kata yang terucap memiliki daya pantul yang akan kembali kepada kita, membawa serta konsekuensi, baik berupa keberkahan atau sebaliknya. Seringkali, dalam dinamika pergaulan, kita terjebak dalam arus sendagurau yang mengasyikkan, seolah-olah tawa dan canda adalah bumbu wajib dalam setiap pertemuan. Namun, tahukah kita, bahwa ada batas halus yang memisahkan antara humor yang menghangatkan dan sendagurau yang meruntuhkan?
Kisah tentang seorang khalifah adil, Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, menyajikan sebuah renungan mendalam tentang etika berkomunikasi. Diriwayatkan, suatu ketika beliau meletakkan kakinya di pelana unta (gharaz), lalu berkata kepada para sahabatnya:
إِيَّايَ وَالْمِزَاحَ، فَإِنَّهُ يَجُرُّ الْقَبِيحَةَ، وَيُورِثُ الضَّغِينَةَ، وَتَحَدَّثُوا بِكِتَابِ اللَّهِ، فَإِنْ ثَقُلَ عَلَيْكُمْ، فَأَحَادِيثِ الرِّجَالِ. انْدَفِعُوا عَلَى اسْمِ اللَّهِ
Yang kurang lebih berarti: “Jauhilah sendagurau, karena ia dapat menyeret kepada perkara yang buruk dan mewariskan permusuhan. Dan berbicaralah dengan Kitabullah. Jika itu memberatkan kalian, maka (berbicaralah) dengan pembicaraan orang-orang (yang baik). Berangkatlah kalian dengan nama Allah.”
Petuah dari figur yang demikian bijaksana ini adalah mercusuar bagi kita untuk meninjau kembali pola interaksi verbal. Sendagurau, dalam kadar yang proporsional, memang dapat mencairkan suasana dan mempererat keakraban. Namun, ketika ia melewati batas, ia berubah menjadi pedang bermata dua yang menusuk sanubari, melukai kehormatan, bahkan menyulut api permusuhan yang berkepanjangan. Mengapa demikian?
Jejak Sendagurau Berlebihan: Merenggut Kebaikan dan Membangun Jarak
1. Menggiring kepada Kejelekan dan Dosa
Gurauan yang berlebihan seringkali melonggarkan kendali diri. Lisan yang terbiasa bersendagurau tanpa filter bisa jadi tanpa sadar melontarkan kata-kata dusta, ghibah (menggunjing), fitnah, bahkan ejekan yang menyakitkan. Al-Qur’an dengan tegas melarang kita untuk mengolok-olok orang lain, sebagaimana firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
Yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena boleh jadi) mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok); dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan-perempuan lain (karena boleh jadi) perempuan (yang diolok-olok) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk setelah iman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
Ayat ini adalah peringatan keras bahwa tawa yang dibangun di atas penderitaan atau kekurangan orang lain, sejatinya adalah kezhaliman yang akan dipertanggungjawabkan.
2. Mewariskan Permusuhan dan Kebencian
Umar bin Abdul Aziz secara eksplisit menyatakan bahwa sendagurau berlebihan dapat “mewariskan permusuhan.” Sebuah lelucon yang mungkin kita anggap sepele, bisa jadi menorehkan luka dalam di hati orang lain, memicu rasa tidak suka, dan perlahan menumbuhkan benih-benih kebencian. Hubungan yang tadinya akrab, bisa retak karena candaan yang tak pada tempatnya, atau yang terlalu sering melampaui batas sensitivitas seseorang.
3. Melalaikan dari Perkara Penting dan Menurunkan Kewibawaan
Lisan yang selalu disibukkan dengan sendagurau cenderung sulit untuk fokus pada hal-hal yang lebih substansial dan bermanfaat. Waktu yang berharga terbuang untuk obrolan ringan yang tidak menambah ilmu, iman, atau kemaslahatan. Selain itu, seseorang yang terlalu sering bercanda atau dianggap tidak serius, lambat laun akan kehilangan kewibawaan dan rasa hormat dari orang di sekitarnya. Kata-katanya akan dianggap remeh, bahkan ketika ia menyampaikan kebenaran atau nasihat penting.
Mengisi Lisan dengan Kalam Ilahi: Penenang Hati dan Sumber Cahaya
Lalu, apa solusi dari hikmah Umar bin Abdul Aziz ini? Beliau menganjurkan, “Dan berbicaralah dengan Kitabullah.” Ini adalah ajakan untuk mengorientasikan lisan kita pada sumber kebijaksanaan yang tak terbatas: Al-Qur’an. Berdiskusi tentang ayat-ayat-Nya, merenungkan maknanya, berbagi pemahaman, atau bahkan sekadar melantunkannya, adalah cara terbaik untuk mengisi waktu dan melatih lisan kita agar senantiasa berada dalam kebaikan.
1. Al-Qur’an Sebagai Obat dan Petunjuk
Berinteraksi dengan Al-Qur’an bukan hanya memperkaya ilmu, tetapi juga menenangkan jiwa. Dalam firman-Nya:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا
Yang artinya: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.”
Al-Qur’an adalah penawar bagi kegelisahan hati, keraguan pikiran, dan kegersangan jiwa. Setiap ayatnya adalah petunjuk yang terang benderang, membimbing kita menuju jalan yang lurus, jauh dari kesesatan dan keburukan. Mengisi perbincangan dengan hikmah Al-Qur’an berarti kita mengisi ruang interaksi dengan cahaya dan keberkahan.
2. Perbincangan yang Meninggikan Derajat
Apabila Kitabullah terasa berat untuk dibahas secara intens, Umar bin Abdul Aziz memberikan opsi: “maka (berbicaralah) dengan pembicaraan orang-orang (yang baik).” Ini mengindikasikan bahwa perbincangan yang bermanfaat, edukatif, inspiratif, dan membangun adalah juga pilihan yang mulia. Diskusi tentang ilmu, pengalaman hidup yang berharga, atau nasehat-nasehat yang baik dari para ulama dan orang-orang shalih, jauh lebih baik daripada sendagurau yang melalaikan.
Kita, sebagai hamba Allah, memiliki tanggung jawab besar atas setiap kata yang terucap dari lisan. Membiasakan diri untuk menahan lisan dari hal-hal yang tidak bermanfaat, apalagi yang merusak, adalah bentuk ketaatan dan upaya menjaga hati serta hubungan sesama. Alih-alih larut dalam gurauan yang tak berujung, mari kita isi interaksi kita dengan mutiara hikmah dari Al-Qur’an dan perbincangan yang meninggikan derajat.
Ini adalah seruan untuk refleksi diri, untuk menjadi pribadi yang lebih bijak dalam bertutur, dan memilih topik pembicaraan yang tidak hanya menyenangkan telinga, tetapi juga menyejukkan hati dan mencerahkan pikiran. Dengan demikian, kita tidak hanya menjaga diri dari hal-hal yang buruk, tetapi juga menyebarkan kebaikan dan keberkahan melalui lisan kita.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Abū ‘Ubayd Al-Qāsim ibn Sallām, Fadhā’il Al-Qur’ān, hlm. 79, Maktabah Syamilah.
- Q.S. Al-Hujurat: 11
- Q.S. Al-Isra: 82
