Ada percakapan yang meninggikan, ada pula perbincangan yang merendahkan. Di antara keduanya, seringkali kita terjebak dalam zona abu-abu bernama canda. Sebuah wasiat abadi dari sang khalifah saleh, inilah nasihat Umar bin Abdul Aziz tentang canda yang seringkali melalaikan dan menyeret jiwa pada keburukan, bahkan tanpa kita sadari.

Bayangkan sebuah adegan agung: seorang pemimpin besar, Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz, hendak menjejakkan kakinya pada sanggurdi tunggangannya untuk sebuah perjalanan. Di momen sesingkat itu, di antara gerak dan kesibukan, terucaplah sebuah wasiat yang melintasi zaman, ditujukan bagi para sahabat di sisinya, dan sampai kepada kita hari ini. Sebuah pelajaran tentang bagaimana menjaga lisan dan memuliakan sebuah majelis.

«إِيَّايَ وَالْمِزَاحَ، فَإِنَّهُ يَجُرُّ الْقَبِيحَةَ، وَيُورِثُ الضَّغِينَةَ، وَتَحَدَّثُوا بِكِتَابِ اللَّهِ، فَإِنْ ثَقُلَ عَلَيْكُمْ، فَأَحَادِيثِ الرِّجَالِ. انْدَفِعُوا عَلَى اسْمِ اللَّهِ»

“Jauhilah oleh kalian bercanda, karena sesungguhnya ia akan menyeret pada keburukan dan mewariskan kedengkian. Sebaliknya, berbincanglah kalian tentang Kitabullah. Jika itu terasa berat atas kalian, maka (berbincanglah) tentang kisah-kisah orang saleh. Bergeraklah dengan nama Allah!” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam dalam Fadha’il al-Qur’an)

Jejak Luka dari Canda yang Melalaikan

Pesan pertama dari sang khalifah adalah sebuah peringatan tajam: jauhilah canda atau al-mizah. Mengapa begitu tegas? Beliau menjelaskan dua akibat fatalnya. Pertama, canda yang berlebihan itu “yajurrul qabihah”, ia menarik, menyeret, dan menggelincirkan kita pada sesuatu yang buruk. Betapa sering sebuah tawa dimulai dari hal remeh, lalu berakhir dengan ghibah, merendahkan orang lain, atau bahkan ucapan dusta demi memancing gelak tawa.

Kedua, ia “yuuritsudh dhaghiinah”, mewariskan kedengkian dan kebencian. Luka yang ditimbulkan oleh lisan seringkali lebih dalam dari sayatan pedang. Sebuah lelucon yang menurut kita lucu, bisa jadi adalah sebuah hinaan yang menggores hati saudara kita. Rasa sakit itu mungkin tak tampak, namun ia mengendap, menumbuhkan benih-benih kebencian yang merusak ukhuwah. Inilah inti dari nasihat Umar bin Abdul Aziz tentang canda, sebuah pengingat bahwa menjaga hati saudara kita adalah prioritas utama.

Penawar Terbaik: Kembali pada Kitabullah

Setelah memberikan peringatan, Umar bin Abdul Aziz tidak membiarkan kita dalam kekosongan. Beliau menawarkan penawar terbaik, sebuah alternatif yang meninggikan derajat: “tahaddatsuu bi kitaabillah”, jadikanlah Al-Qur’an sebagai topik perbincanganmu.

Subhanallah. Ini bukan sekadar perintah, melainkan sebuah undangan untuk memasuki taman-taman surga di dunia. Ketika sebuah majelis diisi dengan perbincangan tentang ayat-ayat Allah, tentang tafsirnya, tentang keajaibannya, tentang bagaimana ia menjadi solusi bagi hidup kita, maka majelis itu akan dinaungi ketenangan (sakinah), diliputi rahmat, dan dikelilingi oleh para malaikat. Inilah esensi dari sebuah majelis yang hidup, yang cahayanya menembus hingga ke langit. Bukan sekadar tawa sesaat, melainkan kebahagiaan hakiki yang mengisi relung jiwa.

Jika Terasa Berat, Kisah Orang Saleh Pilihan

Sang khalifah memahami betul kondisi jiwa manusia. Beliau tahu, adakalanya membahas Al-Qur’an secara mendalam terasa “berat” bagi sebagian orang. Maka, beliau memberikan alternatif kedua yang tak kalah mulia: “fa ahaadiitsir rijaal”, maka berbincanglah tentang kisah-kisah orang saleh.

Kisah para Nabi, perjuangan para sahabat, kearifan para ulama, adalah cerminan praktis dari ajaran Al-Qur’an. Dengan membicarakannya, kita sedang menghidupkan kembali semangat mereka di dalam dada. Kita mengambil ibrah, meneladani akhlak, dan memotivasi diri untuk menjadi lebih baik. Ini adalah cara cerdas untuk tetap berada dalam koridor kebaikan, saat jiwa butuh asupan yang lebih ringan namun tetap bergizi. Betapa indahnya nasihat Umar bin Abdul Aziz tentang canda ini, ia bukan hanya melarang, tapi memberi solusi yang bertingkat dan penuh hikmah.

Bergeraklah dengan Nama Allah

Pesan penutup dari wasiat ini adalah sebuah komando: “indafi’uu ‘ala ismillah”, bergeraklah, majulah, dengan nama Allah! Ini adalah spirit untuk tidak hanya diam merenung, tetapi segera mengaplikasikan nasihat ini dalam kehidupan. Mulailah mengevaluasi lingkar pertemanan kita, obrolan di grup WhatsApp kita, dan perbincangan di meja makan kita.

Apakah ia menyeret pada keburukan dan kedengkian, atau ia meninggikan kita dengan cahaya Al-Qur’an dan kisah para teladan? Mari kita bergerak dengan nama Allah, memilih untuk membangun majelis-majelis yang menumbuhkan iman, bukan sekadar membuang waktu dengan canda tawa yang hampa. Sebab, setiap kata yang kita ucapkan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.

Daftar Referensi

  • Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam. Fadha’il al-Qur’an. (Damaskus – Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1415 H / 1995 M).

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,