Al-Qur’an, kalam Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, senantiasa menjadi sumber inspirasi tak terbatas bagi setiap jiwa yang merindukan petunjuk. Keagungan ayat-ayatnya bukan hanya terletak pada keindahan susunan bahasanya, melainkan pada kemampuannya menyentuh relung hati, membangkitkan kesadaran, dan menggerakkan perubahan. Kisah para sahabat Nabi, radhiyallahu ‘anhum, adalah bukti nyata bagaimana Al-Qur’an meresap dalam sanubari mereka, membentuk kepribadian, dan mengarahkan langkah hidup. Salah satu episode yang menawan hati adalah saat Amirul Mukminin, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, menyikapi sebuah ayat dari Surah Al-Insan dengan ungkapan yang sarat makna. Kisah ini mengajarkan kita tentang kedalaman iman dan responsivitas hati terhadap firman Allah.
Kisah Sang Khalifah dan Ayat Penuh Perenungan
Dalam khazanah ilmu hadis, terdapat sebuah riwayat yang dicatat oleh Abu Ubaid dalam kitab Fadhail Al-Qur’an. Diceritakan dari Abu Umar, Ziyad bin Abi Muslim, dari Salih Abi Al-Khalil, bahwa suatu ketika Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mendengar seorang lelaki sedang membaca firman Allah:
هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا
Yang artinya, “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (Q.S. Al-Insan: 1). Seketika itu, Umar radhiyallahu ‘anhu berujar, “Ya laithaha tammat!” (Oh, sekiranya ia telah selesai/sempurna).
Ungkapan singkat namun begitu menggetarkan ini memancarkan sebuah spektrum perenungan yang mendalam. Mengapa seorang Umar, yang dikenal ketegasannya, bisa terdorong mengucapkan kalimat demikian saat mendengar ayat tersebut? Ini bukan sekadar respons spontan, melainkan refleksi jiwa yang telah matang dalam memahami hakikat kehidupan dan keabadian. Ayat pertama Surah Al-Insan ini mengajak kita untuk menengok kembali permulaan eksistensi kita; dari tiada menjadi ada, dari tak disebut menjadi makhluk yang mulia. Ini adalah sebuah pengingat akan kerapuhan dan keterbatasan diri kita sebagai manusia.
Mengurai Makna ‘Ya Laithaha Tammat’: Panggilan untuk Merenung
Frasa ‘Ya laithaha tammat’ dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu telah memantik berbagai tafsiran di kalangan ulama. Apakah ia merindukan kematian? Ataukah ia berharap agar Surah Al-Insan segera selesai dibaca, seakan tak sanggup menahan gelombang renungan yang dibangkitkannya? Atau, lebih jauh lagi, adakah ia mengharapkan agar seluruh perjalanan hidupnya di dunia ini segera paripurna, agar dapat bertemu dengan Rabbnya dalam keadaan yang diridai?
Melihat konteks bab dalam Kitab Fadhail Al-Qur’an oleh Abu Ubaid, yakni “Bab ما يستحب لقارئ القرآن من الجواب عند الآية والشهادة لها” (Bab tentang apa yang dianjurkan bagi pembaca Al-Qur’an berupa respons ketika membaca ayat dan persaksian atasnya), maka ucapan Umar adalah bentuk persaksian dan respons yang mendalam. Ia bukan hanya mendengar, melainkan menghayati. Hatinya berbicara, merespons kebenaran absolut yang disampaikan Al-Qur’an.
Kita cenderung terpaku pada kehidupan fana ini, mengejar impian-impian duniawi seolah tak ada akhir. Padahal, Al-Qur’an berulang kali mengingatkan kita tentang fase ‘sebelum’ dan ‘sesudah’ kehidupan dunia. Respons Umar radhiyallahu ‘anhu mengajak kita untuk menimbang kembali prioritas. Jika seorang sahabat sedalam itu merenungi permulaan dan akhir, bagaimana dengan kita? Seharusnya, Refleksi Umar bin Khattab tentang Surah Al-Insan dan makna ‘Ya Laithaha Tammat’ menjadi cermin bagi kita untuk mengkalibrasi ulang arah hidup.
Surah Al-Insan: Cermin Kehidupan dan Pilihan Manusia
Surah Al-Insan, atau juga dikenal dengan Surah Ad-Dahr, adalah surah Madaniyah yang kaya akan pelajaran tentang penciptaan manusia, tujuan hidup, kehendak bebas, dan balasan di akhirat. Ayat pertamanya yang begitu membekas bagi Umar radhiyallahu ‘anhu merupakan fondasi bagi keseluruhan surah. Ia mengingatkan kita bahwa ada ‘waktu’ di mana kita belum eksis, belum memiliki identitas, belum ‘disebut’. Dari ketiadaan itulah, Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan kita dengan segala kesempurnaan dan akal budi.
Kemudian, surah ini melanjutkan dengan menjelaskan bagaimana Allah menyediakan petunjuk bagi manusia, memberikan pilihan antara jalan syukur dan jalan kufur. Allah berfirman:
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
Yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (Q.S. Al-Insan: 3). Ayat ini adalah penegasan akan kebebasan berkehendak manusia, sebuah amanah besar yang membedakan kita dari makhluk lain. Di sinilah letak ujian sesungguhnya, apakah kita akan memilih jalan ketaatan yang berujung pada surga yang abadi, atau jalan pembangkangan yang mengantar pada neraka yang menyala-nyala.
Refleksi Umar bin Khattab tentang Surah Al-Insan dan Makna ‘Ya Laithaha Tammat’ dalam Hidup Kita
Membaca dan merenungi peristiwa yang dialami Umar radhiyallahu ‘anhu ini, kita diajak untuk melihat kehidupan dari perspektif yang lebih luas dan lebih dalam. Ungkapan “Ya laithaha tammat” bukan sekadar seruan pasrah, melainkan manifestasi dari kesadaran akan hakikat kehidupan fana dan kerinduan terhadap kekekalan di sisi Allah. Ia adalah sebuah dorongan untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum ‘selesainya’ babak kehidupan dunia ini.
Bagaimana kita bisa mengaplikasikan Refleksi Umar bin Khattab tentang Surah Al-Insan dan makna ‘Ya Laithaha Tammat’ dalam keseharian? Pertama, dengan senantiasa menghidupkan muhasabah diri. Menimbang setiap amal, ucapan, dan niat, apakah telah sejalan dengan tuntunan syariat. Kedua, dengan memperkuat hubungan kita dengan Al-Qur’an. Bukan hanya membaca, tapi juga memahami, menghayati, dan mengamalkan setiap petunjuknya. Ketiga, dengan menumbuhkan kerinduan akan akhirat. Bukan berarti mengabaikan dunia, melainkan menempatkan dunia sebagai jembatan menuju kehidupan yang lebih kekal.
Menjelajahi Hakikat Keberadaan: Panggilan dari Surah Al-Insan
Setiap dari kita memiliki ‘hampir tidak ada’ dalam sejarah personal sebelum kita dilahirkan. Kemudian kita tumbuh, belajar, berinteraksi, dan meninggalkan jejak. Namun, jejak apa yang ingin kita tinggalkan? Apakah kita ingin menjadi ‘sesuatu yang disebut’ hanya di dunia ini, ataukah kita berusaha menjadi ‘sesuatu yang disebut’ di sisi Allah dan para penghuni surga? Inilah inti dari pelajaran yang kita dapatkan dari Refleksi Umar bin Khattab tentang Surah Al-Insan dan makna ‘Ya Laithaha Tammat’.
Kita harus menyadari bahwa setiap detik yang berlalu adalah bagian dari proses ‘penyelesaian’ hidup kita. Sebagaimana Al-Qur’an mengingatkan, pada hari kiamat manusia akan bertanya, “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” (Q.S. Al-Mu’minun: 112). Dan jawabannya singkat, hanya sebentar saja. Kesadaran akan kefanaan ini harusnya memacu kita untuk berpacu dalam kebaikan, mengisi sisa usia dengan amal saleh yang tulus, dan mempersiapkan bekal terbaik untuk perjalanan pulang.
Penting bagi kita untuk tidak menunda-nunda amal kebaikan, terutama dalam mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Jika para sahabat begitu peka terhadap setiap ayat, maka sudah seharusnya kita pun berupaya menumbuhkan kepekaan serupa. Mempelajari dan menghafal Al-Qur’an adalah salah satu bentuk investasi terbaik untuk ‘penyelesaian’ yang sempurna, insya Allah.
Perenungan mendalam Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu terhadap ayat pertama Surah Al-Insan adalah warisan spiritual yang tak ternilai. Ungkapan “Ya laithaha tammat” mengajarkan kita tentang pentingnya kesadaran akan asal-usul, tujuan hidup, dan persiapan menuju akhirat. Ini adalah ajakan untuk tidak terlena dalam kesibukan duniawi, melainkan senantiasa menyelaraskan setiap langkah dengan tuntunan Ilahi. Semoga kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa merenungi ayat-ayat-Nya, menghidupkan hati dengan kalam-Nya, dan meraih “penyelesaian” terbaik di hadapan-Nya.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam, Kitab Fadhail Al-Qur’an, Bab ما يستحب لقارئ القرآن من الجواب عند الآية والشهادة لها, hlm. 150.
- Al-Qur’an Surah Al-Insan (76): 1
- Al-Qur’an Surah Al-Insan (76): 3
- Al-Qur’an Surah Al-Mu’minun (23): 112
