Al-Qur’an, kalamullah yang agung, adalah mukjizat tak terbantahkan. Setiap susunan kalimatnya, setiap urutan ayatnya, bahkan peletakan surah-surahnya, sarat dengan hikmah dan pelajaran mendalam. Keindahan dan kesempurnaan Al-Qur’an tidak hanya terletak pada kandungan maknanya yang tak lekang oleh zaman, tetapi juga pada arsitektur teksnya yang luar biasa. Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa beberapa surah memiliki struktur dan posisi yang unik? Khususnya, mari kita selami bersama hikmah penempatan surah Al-Anfal dan At-Tawbah tanpa basmalah dalam Al-Quran, sebuah topik yang mengundang renungan dan memperkaya pemahaman kita akan wahyu Ilahi.

Misteri Susunan Mushaf dan Pertanyaan Ibnu Abbas

Dunia Islam awal diwarnai dengan semangat menjaga dan membukukan Al-Qur’an sebagaimana yang telah diturunkan dan diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Para sahabat, dengan keimanan dan ketulusan mereka, adalah garda terdepan dalam misi suci ini. Namun, di tengah proses mulia tersebut, muncul pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan ketelitian dan keingintahuan para sahabat. Salah satunya datang dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, seorang cendekiawan agung di kalangan sahabat. Beliau pernah bertanya kepada Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengenai alasan di balik peletakan Surah Al-Anfal dan Surah At-Tawbah (Bara’ah) secara berurutan tanpa dipisahkan oleh Basmalah, padahal keduanya memiliki karakteristik yang berbeda.

حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ، عَنْ عَوْفِ بْنِ أَبِي جَمِيلَةَ، عَنْ يَزِيدَ الْفَارِسِيِّ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قُلْتُ لِعُثْمَانَ: «مَا حَمَلَكُمْ عَلَى أَنْ عَمَدْتُمْ إِلَى الْأَنْفَالِ، وَهِيَ مِنَ الْمَثَانِي، وَإِلَى بَرَاءَةَ وَهِيَ مِنَ الْمِئِينَ، فَقَرَنْتُمْ بَيْنَهُمَا، وَلَمْ تَكْتُبُوا سَطْرَ ﴿بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ﴾ [الفاتحة: ١]، وَوَضَعْتُمُوهَا فِي السَّبْعِ الطُّوَلِ؟ مَا حَمَلَكُمْ عَلَى ذَلِكَ؟»

Abu Ubaid berkata: Marwan bin Mu’awiyah bercerita kepada kami, dari Auf bin Abi Jamilah, dari Yazid Al-Farisi, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Aku bertanya kepada Utsman: “Apa yang menyebabkan kalian memilih Al-Anfal, padahal ia termasuk Al-Matsani, dan Bara’ah (At-Tawbah) termasuk Al-Mi’in, lalu kalian menyatukan keduanya, dan kalian tidak menulis baris ‘Bismillahir Rahmaanir Rahiim’ di antara keduanya, dan kalian menempatkannya di antara tujuh surah yang panjang (As-Sab’uth Thiwal)? Apa yang mendorong kalian melakukan itu?”

Pertanyaan ini menunjukkan betapa detailnya para sahabat dalam memahami Al-Qur’an. Mereka tidak hanya menghafal, tetapi juga merenungi setiap aspeknya. Pertanyaan tentang hikmah penempatan surah Al-Anfal dan At-Tawbah tanpa basmalah dalam Al-Quran ini menjadi gerbang bagi kita untuk menyelami kedalaman ilmu yang tersembunyi di balik tatanan wahyu.

Jawaban Utsman dan Petunjuk Nabi yang Agung

Menjawab pertanyaan Ibnu Abbas yang bernas, Khalifah Utsman radhiyallahu ‘anhu memberikan penjelasan yang terang benderang, menyingkap tabir di balik susunan dua surah tersebut. Beliau menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ memiliki kebiasaan untuk menginstruksikan para penulis wahyu tentang penempatan setiap surah yang baru turun. Ketika sebuah surah baru diwahyukan, beliau akan memanggil salah seorang penulis dan bersabda, “Letakkan surah ini di tempat yang disebutkan di dalamnya ini dan itu.” Ini menunjukkan bahwa penataan surah dalam Al-Qur’an bukanlah hasil ijtihad manusia semata, melainkan berdasarkan petunjuk langsung dari Allah ﷻ melalui Nabi-Nya.

فَقَالَ عُثْمَانُ: «إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ مِمَّا يَأْتِي عَلَيْهِ الزَّمَانُ، وَهُوَ يَنْزِلُ عَلَيْهِ مِنَ السُّوَرِ ذَوَاتِ الْعَدَدِ، فَكَانَ إِذَا نَزَلَتْ عَلَيْهِ سُورَةٌ يَدْعُو بَعْضَ مَنْ يَكْتُبُ فَيَقُولُ: «ضَعُوا هَذِهِ السُّورَةَ فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي يُذْكَرُ فِيهِ كَذَا وَكَذَا»، وَكَانَتْ بَرَاءَةُ مِنْ آخِرِ الْقُرْآنِ نُزُولًا، وَكَانَتِ الْأَنْفَالُ مِنْ أَوَائِلِ مَا نَزَلَ بِالْمَدِينَةِ، وَكَانَتْ قِصَّتُهَا شَبِيهَةً بِقِصَّتِهَا، فَظَنَنْتُهَا مِنْهَا، وَقُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، وَلَمْ يُبَيِّنْ لَنَا أَمْرَهَا، قَالَ: فَلِذَلِكَ قَرَنْتُ بَيْنَهُمَا، وَلَمْ أَجْعَلْ بَيْنَهُمَا سَطْرَ ﴿بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ﴾ [الفاتحة: ١]، وَوَضَعْتُهَا فِي السَّبْعِ الطُّوَلِ “.

Utsman menjawab: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ, seiring berjalannya waktu, turun kepadanya beberapa surah. Jika suatu surah turun kepadanya, beliau memanggil beberapa penulis dan bersabda: ‘Letakkan surah ini di tempat yang disebutkan di dalamnya ini dan itu.’ Dan Surah Bara’ah (At-Tawbah) adalah di antara yang terakhir turun dari Al-Qur’an, sedangkan Al-Anfal adalah di antara yang pertama turun di Madinah. Kisah keduanya mirip dengan kisah (surah) tersebut. Maka aku menyangka Bara’ah adalah bagian darinya. Dan Rasulullah ﷺ wafat tanpa menjelaskan kepada kami perkaranya. Oleh karena itu, aku menyatukan keduanya, dan aku tidak meletakkan di antara keduanya baris ‘Bismillahir Rahmaanir Rahiim’, dan aku menempatkannya di antara tujuh surah yang panjang (As-Sab’uth Thiwal).”

Penjelasan Utsman ini menyingkap sebuah fakta penting: Surah At-Tawbah adalah salah satu surah terakhir yang diturunkan, sementara Al-Anfal termasuk yang pertama turun di Madinah. Namun, Utsman melihat adanya kemiripan tema dan cerita di antara keduanya, sehingga beliau berijtihad untuk menyatukan mereka tanpa Basmalah, karena Nabi ﷺ tidak memberikan petunjuk spesifik tentang pemisahan atau penyambungan mereka. Ini adalah manifestasi dari kehati-hatian dan ketulusan para sahabat dalam menjaga kemurnian Al-Qur’an, seraya tetap berpegang pada petunjuk Nabi ﷺ sebisa mungkin. Hikmah penempatan surah Al-Anfal dan At-Tawbah tanpa basmalah dalam Al-Quran ini juga mengajarkan kita pentingnya merujuk pada pemahaman para sahabat yang paling dekat dengan masa kenabian.

Pelajaran Berharga dari Susunan Al-Qur’an

Dari kisah ini, kita diajak merenung lebih dalam. Pertama, susunan Al-Qur’an bukanlah hasil rekaan manusia, melainkan diatur dengan petunjuk ilahi. Meskipun ada ijtihad sahabat dalam pengumpulan dan penyusunan mushaf, dasar utamanya adalah bimbingan langsung dari Rasulullah ﷺ. Kedua, ketiadaan Basmalah di antara Al-Anfal dan At-Tawbah mengandung makna yang dalam. Banyak ulama menafsirkan bahwa Surah At-Tawbah adalah kelanjutan dari Surah Al-Anfal, atau keduanya memiliki korelasi erat yang tidak memungkinkan adanya jeda Basmalah yang mengandung makna rahmat, karena Surah At-Tawbah dimulai dengan pernyataan keras terhadap kaum musyrikin.

Kisah tentang hikmah penempatan surah Al-Anfal dan At-Tawbah tanpa basmalah dalam Al-Quran ini juga menyoroti kehati-hatian para sahabat dalam menjaga Al-Qur’an. Mereka tidak menambah atau mengurangi sedikit pun kecuali atas dasar ilmu dan keyakinan. Ini seharusnya menjadi teladan bagi kita semua untuk senantiasa mengagungkan dan memuliakan kalamullah.

Menyelami Lebih Dalam Makna Susunan Ilahi

Setiap huruf, setiap kata, setiap ayat, dan setiap surah dalam Al-Qur’an memiliki tempatnya sendiri yang telah ditentukan dengan sempurna. Memahami hikmah penempatan surah Al-Anfal dan At-Tawbah tanpa basmalah dalam Al-Quran mendorong kita untuk lebih sering bertadabbur, merenungi setiap detail Al-Qur’an, dan mencari tahu keterkaitan antar bagiannya. Ketika kita membaca Al-Qur’an, kita tidak hanya membaca teks, tetapi juga menyelami lautan hikmah yang tak bertepi. Susunan yang terlihat sederhana ini sesungguhnya adalah cetak biru kehidupan yang komprehensif, membimbing umat manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Q.S. Muhammad: 24)

Ayat ini adalah ajakan keras bagi kita untuk tidak sekadar membaca, tetapi untuk merenungi, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur’an. Ini adalah kunci untuk membuka gembok-gembok hati dan menerima cahaya hidayah-Nya. Mempelajari dan memahami Al-Qur’an secara mendalam adalah sebuah perjalanan spiritual yang tak akan pernah usai, sebuah investasi akhirat yang tak ternilai harganya.

Menguatkan Iman Melalui Pemahaman Al-Qur’an

Kisah tentang penataan surah ini bukan sekadar informasi sejarah, melainkan pelajaran penting tentang keimanan dan kepatuhan. Para sahabat menunjukkan keteladanan dalam menghormati dan mengikuti setiap petunjuk yang datang dari Rasulullah ﷺ, bahkan dalam hal-hal yang mungkin terlihat “teknis” seperti susunan mushaf. Keterpaduan dan keutuhan Al-Qur’an adalah bukti nyata bahwa ia berasal dari Dzat Yang Maha Bijaksana, yang tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya.

Mari kita tingkatkan kecintaan kita kepada Al-Qur’an dengan berusaha memahami setiap aspeknya, termasuk hikmah penempatan surah Al-Anfal dan At-Tawbah tanpa basmalah dalam Al-Quran. Dengan demikian, kita akan semakin merasakan keagungan kalamullah dan menemukan petunjuk hidup yang sempurna di dalamnya.

Untuk Anda yang rindu mendalami Al-Qur’an, merasakan manisnya setiap huruf dan ayat, serta ingin memahami lebih dalam rahasia-rahasia di balik susunannya yang mulia, Qur’an Learning Center Yogyakarta siap membimbing Anda. Bersama kami, Anda akan dibimbing untuk memahami, menghafal, dan meneladani Al-Qur’an dengan metode yang mudah dan efektif.

Daftar Referensi

  • HR. Abu Ubaid dalam Fadhail Al-Qur’an, diriwayatkan juga oleh Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi No. 3086 (kitab Tafsir Al-Qur’an, Bab Min Surah At-Tawbah), Ahmad dalam Musnad Ahmad No. 399.
  • Q.S. Muhammad: 24

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,