Dalam perjalanan spiritual kita bersama Al-Qur’an, seringkali kita dapati beragam praktik dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu yang cukup familiar di tengah masyarakat adalah kebiasaan mengulang Surah Al-Ikhlas saat khatam Quran. Sebuah praktik yang mungkin memunculkan pertanyaan di benak sebagian kita, “Mengapa demikian?” Mari kita selami lebih dalam hikmah di balik kebiasaan yang berakar dari pemahaman mendalam atas keutamaan surah pendek namun agung ini.
Kajian para ulama menunjukkan adanya beragam pandangan mengenai praktik ini. Imam Ahmad, misalnya, disebutkan memiliki pandangan yang melarang pengulangan surah Al-Ikhlas saat khatam. Namun, kita juga menyaksikan bagaimana mayoritas kaum muslimin tetap melaksanakannya, seolah ada rahasia dan keutamaan yang kuat yang mendasari kebiasaan tersebut. Ini adalah bukti kekayaan khazanah keilmuan Islam, di mana perbedaan pandangan justru memperkaya perspektif kita dalam berinteraksi dengan firman-firman Ilahi.
Memahami Kebiasaan Mengulang Surah Al-Ikhlas saat Khatam Quran
Kita tahu bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah, pedoman hidup yang sempurna. Setiap hurufnya mengandung pahala, setiap surahnya menyimpan hikmah yang tak terhingga. Ketika kita menyelesaikan bacaan seluruh Al-Qur’an dari awal hingga akhir, itu adalah momen istimewa yang patut disyukuri. Dalam konteks ini, kebiasaan mengulang Surah Al-Ikhlas saat khatam Quran menjadi sebuah penanda, sebuah “penyempurna” bagi banyak orang. Ini bukan sekadar tradisi tanpa dasar, melainkan dilandasi pemahaman akan keutamaan khusus yang Allah anugerahkan kepada Surah Al-Ikhlas.
Beberapa ulama menjelaskan, hikmah di balik praktik mengulang Surah Al-Ikhlas saat khatam Quran adalah karena adanya riwayat yang menyatakan bahwa surah ini setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Dengan mengulanginya tiga kali, seolah-olah seseorang telah mengkhatamkan Al-Qur’an secara sempurna, tidak hanya dari sisi kuantitas bacaan, tetapi juga dari sisi kelengkapan spiritual dan pahala. Ini adalah interpretasi yang indah, yang mendorong kita untuk semakin mencintai dan menghayati makna Surah Al-Ikhlas.
Mengapa Banyak Orang Mengulang Surah Al-Ikhlas saat Khatam Quran?
Keagungan Surah Al-Ikhlas memang luar biasa. Meski hanya terdiri dari empat ayat, kandungannya merangkum esensi tauhid, keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah alasan mendasar mengapa banyak dari kita merasa perlu untuk mengulang Surah Al-Ikhlas saat khatam Quran. Keutamaan ini bahkan disebutkan dalam beberapa hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satunya adalah riwayat dari Abu Sa’id Al-Khudri, yang menceritakan sebuah dialog menarik:
أَنَّ رَجُلًا سَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ: ﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ﴾ يُرَدِّدُهَا، فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ، وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ»
dan terjemah: Dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa ada seorang lelaki mendengar lelaki lain membaca, “Qul Huwallahu Ahad,” diulang-ulanginya. Ketika pagi, ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan menceritakan hal itu kepada beliau. Seolah-olah lelaki itu menganggap remeh surah tersebut. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surah itu sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.”
Hadis ini, sebagaimana diriwayatkan dalam Kitab Al-I’tqan fi Ulumil Quran oleh Imam As-Suyuthi, secara jelas menegaskan bobot keutamaan Surah Al-Ikhlas. Bayangkan, hanya dengan membaca satu surah pendek ini, kita bisa mendapatkan pahala yang setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Ini adalah anugerah yang luar biasa dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, menunjukkan betapa besar nilai keikhlasan dan tauhid dalam Islam.
Keutamaan Surah Al-Ikhlas: Penyelaras Hati
Beyond the mathematical equivalence, Surah Al-Ikhlas adalah penawar hati yang gelisah dan penegas akidah yang lurus. Ia mengajarkan kita tentang keesaan Allah, bahwa Dia adalah satu-satunya Tuhan, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya. Ini adalah pondasi keimanan yang paling fundamental. Ketika kita membaca dan merenungkan Surah Al-Ikhlas, hati kita diselaraskan kembali pada fitrahnya, mengakui kebesaran dan keesaan Sang Pencipta. Oleh karena itu, bagi sebagian besar kaum muslimin, mengulang Surah Al-Ikhlas saat khatam Quran adalah bentuk penegasan kembali ikrar tauhid di puncak ibadah bacaan Al-Qur’an mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
dan terjemah: Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.”
Ayat-ayat ini adalah jantung dari keimanan Islam. Dengan meresapi dan menghayati Surah Al-Ikhlas, kita tidak hanya membaca huruf-hurufnya, tetapi juga meneguhkan keyakinan kita pada Dzat yang Maha Sempurna. Ini menjadi pengingat yang kuat akan tujuan hidup kita, yaitu beribadah hanya kepada-Nya dan menjauhkan diri dari segala bentuk syirik.
Meresapi Hikmah di Balik Perbedaan Pandangan tentang Mengulang Surah Al-Ikhlas saat Khatam Quran
Adanya perbedaan pandangan ulama, seperti yang disebutkan dari Imam Ahmad mengenai mengulang Surah Al-Ikhlas saat khatam Quran, sejatinya adalah rahmat. Ini menunjukkan fleksibilitas dan kedalaman pemahaman dalam Islam. Yang terpenting bagi kita adalah bagaimana setiap praktik yang kita jalankan didasari oleh ilmu, keikhlasan, dan rasa cinta kepada Al-Qur’an. Baik yang memilih untuk mengulanginya karena hikmah keutamaannya, maupun yang tidak mengulanginya karena berpegang pada pandangan lain, keduanya memiliki sandaran ilmiahnya masing-masing.
Fokus utama kita seharusnya adalah konsistensi dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an: membacanya, memahami maknanya, menghafalnya, dan yang terpenting, mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi mengulang Surah Al-Ikhlas saat khatam Quran, jika dilakukan dengan niat yang tulus dan pemahaman yang benar, dapat menjadi sarana untuk memperkuat ikatan kita dengan Kitabullah. Ini juga menjadi pengingat akan pentingnya tauhid, yang merupakan inti dari seluruh ajaran Islam.
Sebagai muslim, mari kita jadikan setiap momen bersama Al-Qur’an sebagai kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan mendekatkan diri kepada Allah. Entah itu saat memulai, di tengah, maupun saat mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an, yang terpenting adalah hati yang hadir dan niat yang lurus. Semoga kita semua selalu diberikan kemudahan dalam membaca, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an, sehingga ia menjadi penolong kita di dunia dan di akhirat kelak.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Al-Qur’an Surah Al-Ikhlas: 1-4.
- Kitab Al-I’tqan fi Ulumil Quran oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi, Juz 1, Halaman 231 (Edisi Al-Haramain).

