Kisah-kisah para salafus shalih senantiasa menawarkan permata hikmah yang tak lekang oleh zaman, membimbing kita melewati labirin kehidupan dengan cahaya Ilahi. Salah satu mutiara berharga tersebut terpancar dari nasihat agung seorang tabi’in terkemuka, Maimun bin Mihran, tatkala ia menjawab surat dari Yunus bin Ubaid setelah wabah melanda negerinya.

Dalam situasi duka akibat kehilangan tujuh belas anggota keluarga besarnya, Maimun bin Mihran tidak larut dalam kesedihan yang melenakan. Justru, ia mengajarkan kita sebuah perspektif luar biasa tentang musibah dan ujian. Ia berujar, “Aku membenci bala (ujian) ketika ia datang. Namun, ketika ia berlalu, tidak membuatku senang bila bala itu tidak pernah ada.” Sungguh, sebuah sudut pandang yang mendalam. Kalimat ini bukan berarti kita mengundang kesulitan, melainkan sebuah penerimaan utuh terhadap takdir Allah, serta pengakuan akan peran ujian dalam membentuk karakter dan spiritualitas seorang hamba.

Takdir, baik atau buruk, adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan kita di dunia ini. Al-Qur’an sendiri telah menegaskan bahwa hidup adalah serangkaian ujian yang silih berganti, untuk menguji siapa di antara kita yang terbaik amalnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(١٥٥) وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

(١٥٦) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

(١٥٧) أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-Baqarah: 155-157).

Melalui musibah, kita belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan semakin menyadari kefanaan dunia. Hati yang tadinya mungkin lalai, akan tergerak untuk kembali mendekat kepada-Nya. Ujian adalah pemurnian, sarana introspeksi, dan pengingat bahwa segala kekuatan hakikatnya ada pada Allah.

Mengembalikan Al-Qur’an sebagai Pusat Hidayah

Pesan Maimun bin Mihran yang kedua, dan tak kalah fundamental, adalah seruannya untuk kembali kepada Kitabullah. Ia berkata, “Dan hendaklah kalian berpegang teguh pada Kitabullah Ta’ala, karena sungguh manusia telah lalai darinya dan lebih memilih di atasnya hadits-hadits; hadits-hadits manusia.” Pernyataan ini bukanlah penolakan terhadap Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan sebuah peringatan keras tentang prioritas dan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai poros utama dalam setiap sendi kehidupan.

Di tengah riuhnya informasi dan beragam pendapat yang seringkali menyesatkan, menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas utama adalah sebuah keniscayaan. Kita diajak untuk menadabburi ayat-ayat-Nya, memahami maknanya, dan mengaplikasikannya dalam tindakan. Al-Qur’an adalah cahaya yang menerangi kegelapan, petunjuk yang lurus di antara jalan-jalan yang berliku, dan penawar bagi hati yang gundah.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Yunus: 57).

Ayat ini menegaskan secara gamblang fungsi Al-Qur’an sebagai nasihat, obat bagi hati, dan pembimbing menuju kebenaran. Ketika kita menjadikan Al-Qur’an sebagai referensi pertama dan utama, pemahaman kita tentang agama akan menjadi lebih kokoh dan tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai interpretasi yang bias atau pandangan manusia yang terbatas.

Adab dalam Berilmu dan Berdialog

Puncak hikmah dari Maimun bin Mihran yang perlu kita resapi adalah nasihatnya tentang adab dalam berilmu dan berdialog, khususnya ketika membahas Kitabullah. “Dan janganlah engkau membantah dengannya (Al-Qur’an) terhadap orang alim maupun orang bodoh. Karena jika engkau membantah orang bodoh, ia akan mengeraskan hatimu dan tidak akan menaatimu. Dan jika engkau membantah orang alim, ia akan menyembunyikan ilmunya darimu dan tidak peduli apa yang engkau perbuat.”

Nasihat ini mengandung kearifan yang mendalam tentang psikologi manusia dan efektivitas dakwah. Berdebat dengan orang yang berilmu, apalagi dengan niat semata-mata untuk menunjukkan superioritas, seringkali berujung pada hilangnya keberkahan ilmu. Sang alim akan menutup diri, dan kita akan kehilangan kesempatan untuk belajar darinya.

Di sisi lain, berdebat dengan orang awam atau jahil tentang hal-hal yang tidak ia pahami justru akan mengeraskan hati, memicu emosi, dan bukannya menghasilkan pemahaman, malah menumbuhkan permusuhan. Dakwah bukan tentang memenangkan argumen, melainkan tentang menyentuh hati dan menyampaikan kebenaran dengan cara yang paling hikmah. Al-Qur’an sendiri mengajarkan kita untuk berdakwah dengan hikmah dan nasihat yang baik.

Maka, mari kita renungkan kembali pesan Maimun bin Mihran. Jadikan setiap ujian sebagai tangga menuju kematangan jiwa, bukan jurang keputusasaan. Kembalikan Al-Qur’an ke singgasana tertinggi dalam hati kita, sebagai sumber inspirasi, motivasi, dan pedoman utama. Serta, hiasilah diri dengan adab berilmu dan berdialog, memahami bahwa kelembutan dan kebijaksanaan jauh lebih efektif daripada kekerasan dan perdebatan yang sia-sia.

Dengan mengamalkan hikmah-hikmah ini, insya Allah, kita akan menemukan kedamaian, keberkahan, dan jalan yang terang benderang dalam menjalani hidup ini, sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Sungguh, kehidupan akan jauh lebih bermakna ketika Al-Qur’an menjadi nadi setiap langkah kita.

Ingin menyelami lebih dalam lautan hikmah Al-Qur’an dan mengintegrasikannya dalam setiap aspek kehidupan Anda? Bergabunglah bersama kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta, sebuah wadah untuk para eksekutif dan profesional yang mendambakan kedekatan dengan Al-Qur’an melalui metode yang terstruktur dan aplikatif.

Daftar Referensi

  • Q.S. Al-Baqarah: 155-157
  • Q.S. Yunus: 57
  • كتاب فضائل القرآن أبو عبيد – باب فضل الحض على القرآن والإيصاء به وإيثاره على ما سواه – المكتبة الشاملة

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,