Kalamullah, Al-Qur’an yang mulia, adalah samudra hikmah tak bertepi, sumber cahaya dan petunjuk bagi setiap jiwa yang dahaga akan kebenaran. Kemurnian dan kesempurnaannya adalah pilar keimanan yang kokoh, dijamin langsung oleh Sang Pemilik langit dan bumi. Namun, dalam perjalanan sejarahnya yang agung, pernah terukir sebuah dialog menarik yang melibatkan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, membuka lembaran diskusi tentang “lahn” atau kekeliruan dalam penulisan Mushaf awal. Dialog ini, sebagaimana terekam dalam sebuah riwayat, menawarkan perspektif yang mendalam dan sekaligus memantapkan keyakinan kita pada kesempurnaan wahyu. Kita akan menyelami hikmah di balik kekeliruan penulisan Al-Qur’an dalam Hadits Aisyah, mengurai apa sesungguhnya yang dimaksud, dan pelajaran apa yang dapat kita petik.

Kisah ini bermula ketika Urwah bin Az-Zubair, keponakan Aisyah, bertanya kepada beliau tentang beberapa ungkapan dalam Al-Qur’an yang seolah-olah tidak sesuai dengan kaidah tata bahasa Arab yang baku. Urwah menyebutkan tiga ayat: firman Allah dalam Surah Thaha ayat 63, Surah An-Nisa ayat 162, dan Surah Al-Ma’idah ayat 69.

Memahami Konten Hadits Aisyah dan Konteksnya

Mari kita cermati riwayat tersebut secara seksama:

حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ لَحْنِ الْقُرْآنِ: عَنْ قَوْلِهِ ﴿إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ﴾ [طه: ٦٣]، وَعَنْ قَوْلِهِ ﴿وَالْمُقِيمِينَ الصَّلَاةَ وَالْمُؤْتُونَ الزَّكَاةَ﴾ [النساء: ١٦٢] وَعَنْ قَوْلِهِ ﴿إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ﴾ فَقَالَتْ: «يَا ابْنَ أُخْتِي، هَذَا عَمَلُ الْكُتَّابِ أَخْطَئُوا فِي الْكِتَابِ».

Diriwayatkan dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, ia berkata: Aku bertanya kepada Aisyah tentang “lahn” (kekeliruan/penyimpangan) Al-Qur’an, yaitu tentang firman-Nya, “Sesungguhnya dua orang ini (Musa dan Harun) adalah penyihir (yang hendak mengusir kamu dari negerimu dengan sihirnya).” (Q.S. Thaha: 63), dan firman-Nya, “…dan orang-orang yang mendirikan salat serta menunaikan zakat…” (Q.S. An-Nisa: 162), dan firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabi’in…” (Q.S. Al-Ma’idah: 69). Maka Aisyah menjawab, “Wahai anak saudariku, ini adalah perbuatan para penulis, mereka keliru dalam penulisannya.”

Jawaban Aisyah ini, jika dipahami secara dangkal, mungkin menimbulkan pertanyaan di benak sebagian orang yang kurang mendalam ilmunya. Namun, para ulama telah memberikan penjelasan yang sangat mencerahkan. Penting untuk digarisbawahi bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha merujuk pada “عمل الكتاب” (perbuatan para penulis/penyalin), bukan pada wahyu itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa kekeliruan yang dimaksud adalah kesalahan dalam proses transkripsi atau ortografi di mushaf-mushaf awal, bukan kesalahan pada lafaz Al-Qur’an yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Al-Qur’an adalah kalamullah yang terjaga dari segala kekurangan, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S. Al-Hijr: 9)

Ayat ini adalah jaminan ilahi akan kemurnian dan keotentikan Al-Qur’an. Maka, perspektif Aisyah ini justru menggarisbawahi bahwa sekalipun ada unsur manusiawi dalam proses kodifikasi awal, penjagaan Allah atas makna dan lafaz Al-Qur’an tetaplah sempurna.

Menggali Kedalaman Tafsir tentang Kekeliruan Penulisan

Para ulama tafsir dan bahasa telah membahas isu “lahn” ini dengan sangat mendalam. Ada beberapa pendekatan dalam memahami jawaban Aisyah dan ayat-ayat yang dipersoalkan:

  • Varian Qira’at dan Dialek: Beberapa ulama berpendapat bahwa yang terlihat sebagai “kekeliruan” sebenarnya adalah bentuk-bentuk linguistik yang sah dalam dialek-dialek Arab kuno yang beragam. Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf (tujuh dialek), dan apa yang tampak “aneh” bagi satu dialek bisa jadi fasih dalam dialek lainnya. Misalnya, ayat ﴿إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ﴾ bisa dibaca ﴿إِنْ هَذَيْنِ لَسَاحِرَانِ﴾ dalam qira’at lain, yang lebih sesuai dengan kaidah nahwu (gramatika) standar.
  • Kesalahan Penulisan Awal: Sebagian ulama mendukung pandangan Aisyah bahwa ini memang kesalahan para kuttab (penulis/penyalin) mushaf di masa Utsman. Namun, kesalahan ini terbatas pada penulisan saja, tidak sampai mengubah makna atau bacaan yang telah dihafal dan ditransmisikan secara mutawatir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para sahabat menghafal Al-Qur’an langsung dari Nabi, dan hafalan mereka adalah patokan utama.
  • Bentuk Retoris yang Unik: Ada pula yang menafsirkan bahwa “kekeliruan” itu adalah bentuk retoris yang disengaja dalam bahasa Arab untuk tujuan penekanan atau makna tertentu yang tidak bisa dicapai dengan kaidah standar. Bahasa Al-Qur’an seringkali melampaui aturan-aturan nahwu yang dirumuskan setelahnya.

Dalam semua penafsiran ini, satu hal yang konsisten adalah penegasan akan kesucian dan ketidakberubahan makna serta lafaz Al-Qur’an yang telah diturunkan. Kekeliruan, jika ada, hanyalah bersifat ortografis dan tidak mengurangi sedikit pun kemukjizatan atau keabsahan Kalamullah. Justru, hikmah di balik kekeliruan penulisan Al-Qur’an dalam Hadits Aisyah ini mengajarkan kita tentang kerumitan dan kekayaan bahasa Arab, serta pentingnya mendalami ilmu-ilmu Al-Qur’an untuk memahami setiap detailnya.

Membumikan Hikmah: Belajar dari Kehati-hatian Para Sahabat

Pelajaran terpenting dari riwayat ini adalah kehati-hatian para sahabat dalam menjaga Al-Qur’an, bahkan sampai pada hal-hal detail terkait penulisan. Jika seorang Aisyah saja bisa memberikan koreksi terhadap apa yang tampak di Mushaf, ini menunjukkan betapa besar perhatian mereka terhadap kesempurnaan Al-Qur’an. Ini adalah teladan yang harus kita ikuti.

Dalam kehidupan modern, di tengah kemudahan akses informasi, kita dituntut untuk lebih selektif dan kritis. Mempelajari Al-Qur’an tidak boleh dilakukan secara serampangan, melainkan harus dengan bimbingan guru yang mumpuni, yang memiliki sanad keilmuan yang jelas. Memahami Al-Qur’an butuh lebih dari sekadar kemampuan membaca terjemahan; ia membutuhkan pemahaman konteks, asbabun nuzul, nahwu, sharaf, balaghah, dan ilmu-ilmu Al-Qur’an lainnya.

Al-Qur’an adalah petunjuk yang sempurna bagi manusia yang berakal dan berhati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (Q.S. Az-Zumar: 28)

Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak memiliki “kebengkokan” atau penyimpangan, baik dalam makna maupun tujuannya. Ini semakin memantapkan keyakinan kita bahwa setiap “kekeliruan” yang dibahas Aisyah adalah bagian dari dinamika manusiawi dalam upaya mendokumentasikan wahyu, dan bukan cacat pada wahyu itu sendiri. Hikmah di balik kekeliruan penulisan Al-Qur’an dalam Hadits Aisyah mendorong kita untuk lebih cermat, lebih berilmu, dan lebih menghargai upaya para pendahulu kita.

Menjaga Kemurnian Al-Qur’an di Era Kekinian

Kini, tugas menjaga kemurnian Al-Qur’an ada di tangan kita. Ini bukan hanya tentang menghafal huruf-hurufnya, tetapi juga tentang memahami maknanya, mengamalkan ajarannya, dan mendakwahkannya dengan cara yang bijaksana. Program tahfizh Al-Qur’an, khususnya yang didesain untuk para profesional dan eksekutif, menjadi sangat relevan. Program semacam ini tidak hanya fokus pada hafalan semata, tetapi juga pada pemahaman mendalam tentang kandungan dan konteks ayat-ayat suci.

Dengan mendalami ilmu Al-Qur’an secara terstruktur dan terbimbing, kita dapat menghindari kesalahpahaman yang mungkin timbul dari riwayat-riwayat semacam ini. Kita akan belajar untuk menghargai ragam bacaan (qira’at), memahami kaidah bahasa Arab yang kaya, dan senantiasa berpegang pada pemahaman para ulama salafush shalih. Inilah jalan untuk benar-benar merasakan indahnya hikmah di balik kekeliruan penulisan Al-Qur’an dalam Hadits Aisyah, menjadikannya pemicu untuk semakin memperkuat ikatan kita dengan kalam Ilahi.

Melalui proses belajar yang komprehensif, kita tidak hanya akan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga menginternalisasikan nilai-nilai luhur di dalamnya, menjadikannya panduan hidup yang tak tergantikan. Inilah esensi menjaga kemurnian Al-Qur’an: tidak hanya dari sisi tekstual, tetapi juga dari sisi pemahaman dan pengamalannya.

Pada akhirnya, riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha ini bukan untuk melemahkan iman kita, melainkan justru untuk menguatkannya. Ia adalah undangan untuk menelaah lebih dalam, untuk mencari ilmu yang lebih luas, dan untuk memahami bahwa di balik setiap detail Al-Qur’an terkandung hikmah yang agung. Mari kita manfaatkan kesempatan ini untuk semakin mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, menjadikannya lentera penerang di setiap langkah kehidupan.

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • Q.S. Al-Hijr: 9
  • Q.S. Az-Zumar: 28
  • Q.S. Thaha: 63
  • Q.S. An-Nisa: 162
  • Q.S. Al-Ma’idah: 69
  • Riwayat Aisyah tentang lahn Al-Qur’an (disebutkan dalam berbagai kitab hadits dan tafsir, seperti Musnad Ahmad dan Sunan Abi Dawud, serta Tafsir Ibnu Katsir, dsb.)
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,