Al-Qur’an, kalamullah yang agung, adalah mukjizat tak lekang oleh zaman. Ia bukan sekadar deretan aksara atau lantunan nada, melainkan cahaya pembimbing, penawar jiwa, dan pedoman hidup yang abadi. Kehadirannya di tengah kita adalah anugerah terbesar, sebuah warisan kenabian yang dijaga kesucian dan keotentikannya oleh Sang Pencipta sendiri. Setiap ayat, setiap kalimat, bahkan setiap hurufnya, menyimpan rahasia dan hikmah yang tak pernah usai digali. Namun, pernahkah kita merenungkan bagaimana kitab suci ini sampai kepada kita dalam bentuknya yang sekarang? Kisah para sahabat dalam menjaga dan membukukannya adalah untaian teladan yang patut kita selami, termasuk dalam konteks Memahami Perbedaan Jumlah Ayat Surah Al-Ahzab dan Keotentikan Al-Qur’an.
Salah satu riwayat yang kerap memantik diskusi mendalam adalah apa yang disampaikan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau mengisahkan sebuah fakta historis yang penuh makna tentang Surah Al-Ahzab:
حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ، عَنِ ابْنِ لَهِيعَةَ، عَنِ أَبِي الْأَسْوَدِ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: “كَانَتْ سُورَةُ الْأَحْزَابِ تُقْرَأُ فِي زَمَانِ النَّبِيِّ ﷺ مِائَتَيْ آيَةٍ، فَلَمَّا كَتَبَ عُثْمَانُ الْمَصَاحِفَ لَمْ يَقْدِرْ مِنْهَا إِلَّا عَلَى مَا هُوَ الْآنَ.
Artinya: “Ibnu Abi Maryam menceritakan kepadaku, dari Ibnu Lahii’ah, dari Abu Al-Aswad, dari Urwah bin Az-Zubair, dari Aisyah, ia berkata: ‘Surah Al-Ahzab dahulu dibaca pada zaman Nabi ﷺ sebanyak dua ratus ayat. Namun, ketika Utsman menulis mushaf-mushaf, ia tidak mendapati darinya kecuali apa yang ada sekarang (73 ayat).'”
Riwayat ini seringkali mengundang pertanyaan: Jika dahulu Surah Al-Ahzab berjumlah 200 ayat, mengapa sekarang hanya ada 73 ayat? Apakah ini berarti sebagian ayatnya hilang? Tentu saja tidak. Justru di sinilah letak salah satu bukti keagungan dan kesempurnaan penjagaan Al-Qur’an itu sendiri. Kisah ini adalah lensa bagi kita untuk Memahami Perbedaan Jumlah Ayat Surah Al-Ahzab dan Keotentikan Al-Qur’an secara lebih mendalam.
Memahami Konsep Naskh dalam Penjagaan Al-Qur’an
Dalam ilmu Al-Qur’an, ada sebuah konsep yang disebut *naskh* atau penghapusan. Naskh bukan berarti Al-Qur’an tidak sempurna, melainkan merupakan bagian dari hikmah ilahiyah dalam mengatur syariat dan menjaga kemurnian wahyu. Ada beberapa jenis naskh, di antaranya adalah *naskh al-tilawah wa baqa’ al-hukm* (ayatnya dihapus bacaannya namun hukumnya tetap berlaku) dan *naskh al-tilawah wa al-hukm* (ayatnya dihapus baik bacaan maupun hukumnya). Riwayat Aisyah ini, menurut para ulama, termasuk dalam kategori naskh yang berkaitan dengan tilawah (bacaan) ayat.
Pada masa Nabi Muhammad ﷺ, Al-Qur’an diturunkan secara bertahap. Terkadang, Allah SWT menghapus bacaan suatu ayat, meski bisa jadi hukumnya tetap berlaku atau bahkan hukumnya pun dihapus. Ini adalah bagian dari kebijaksanaan Allah untuk menyesuaikan dan menyempurnakan syariat serta memudahkan umat. Apa yang dihapus bacaannya, tidak lagi wajib dibaca dan dihafalkan sebagai bagian dari Al-Qur’an yang mu’jiz. Apa yang tetap ada, itulah yang menjadi Al-Qur’an final yang wajib kita imani dan amalkan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hijr ayat 9:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Artinya: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S. Al-Hijr: 9)
Ayat ini adalah janji pasti dari Allah. Artinya, Al-Qur’an yang sampai kepada kita saat ini adalah Al-Qur’an yang sempurna, utuh, dan terjaga dari segala bentuk perubahan. Perbedaan jumlah ayat Surah Al-Ahzab bukanlah kehilangan, melainkan manifestasi dari proses penjagaan ilahiyah yang melibatkan penghapusan bacaan oleh Allah sendiri, yang disampaikan melalui Jibril kepada Nabi Muhammad ﷺ. Inilah inti dari Memahami Perbedaan Jumlah Ayat Surah Al-Ahzab dan Keotentikan Al-Qur’an.
Peran Sahabat dalam Menjaga Keotentikan Al-Qur’an
Kisah ini juga menyoroti peran sentral para sahabat, khususnya pada masa Khalifah Utsman bin Affan, dalam membukukan Al-Qur’an. Setelah wafatnya Nabi ﷺ, Al-Qur’an masih terpencar dalam hafalan para sahabat dan tulisan di berbagai media sederhana. Dengan semakin banyaknya penghafal Al-Qur’an yang gugur dalam berbagai peperangan, kekhawatiran akan hilangnya sebagian Al-Qur’an mengemuka. Inilah yang mendorong para sahabat untuk berinisiatif mengumpulkan dan membukukan Al-Qur’an. Pembukuan pada masa Abu Bakar dan standardisasi pada masa Utsman adalah puncak dari upaya kolektif yang luar biasa ini.
Ketika Utsman radhiyallahu ‘anhu membentuk panitia untuk menyalin mushaf, mereka bekerja dengan sangat teliti, membandingkan hafalan para sahabat dengan catatan-catatan tertulis, dan hanya memasukkan apa yang secara mutawatir (diriwayatkan oleh banyak orang dari banyak orang) sampai kepada mereka sebagai bagian dari Al-Qur’an yang final. Apa yang tidak ditemukan dalam bentuk yang telah dihapus bacaannya, secara otomatis tidak dicantumkan. Proses inilah yang memastikan kita Memahami Perbedaan Jumlah Ayat Surah Al-Ahzab dan Keotentikan Al-Qur’an yang kita miliki saat ini adalah bentuk yang sempurna dan dijaga.
Implikasi Praktis bagi Pengkaji Al-Qur’an
Dari riwayat Aisyah dan penjelasan ulama mengenai naskh, kita bisa menarik beberapa pelajaran berharga. Pertama, kita harus yakin sepenuhnya bahwa Al-Qur’an yang kita pegang saat ini, yang berjumlah 30 juz dengan 114 surah, adalah Al-Qur’an yang otentik dan dijaga oleh Allah SWT. Tidak ada satu pun huruf yang berkurang atau bertambah dari apa yang telah difinalisasi oleh Allah melalui Nabi-Nya.
Kedua, kisah ini menguatkan urgensi tahfizh atau menghafal Al-Qur’an. Meski ada proses pembukuan, hafalan para sahabatlah yang menjadi sandaran utama dalam menjaga keaslian Al-Qur’an. Dengan menghafal, kita turut serta dalam estafet penjagaan kalamullah yang telah berlangsung selama empat belas abad lebih. Setiap kali kita melafalkan ayat suci, kita bukan hanya membaca, tetapi juga menghidupkan kembali tradisi luhur yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Ketiga, kita diajak untuk selalu belajar dan mencari ilmu tentang Al-Qur’an. Bukan untuk meragukannya, melainkan untuk memperdalam pemahaman kita tentang keagungan dan keistimewaannya. Memahami Perbedaan Jumlah Ayat Surah Al-Ahzab dan Keotentikan Al-Qur’an mengajarkan kita untuk tidak mudah terombang-ambing oleh keraguan, melainkan untuk senantiasa menggali hikmah di balik setiap aspek Al-Qur’an dengan landasan ilmu yang kuat.
Keotentikan Al-Qur’an adalah sebuah realitas yang tak terbantahkan. Apa yang mungkin tampak sebagai “perbedaan” pada masa lampau, sejatinya adalah bagian dari mekanisme penjagaan ilahiyah yang sangat teliti. Oleh karena itu, tugas kita sebagai umat Islam adalah merawat anugerah ini dengan sebaik-baiknya. Mari kita tingkatkan interaksi kita dengan Al-Qur’an, tidak hanya membaca, tetapi juga menghafal, memahami, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, kita bukan hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga agen penjaga kalamullah yang mulia.
Sudah saatnya kita melangkah lebih jauh, bukan hanya sekadar membaca, tetapi menjadi bagian dari mereka yang mendedikasikan diri untuk menghafal dan menghidupkan Al-Qur’an. Program Executive Tahfizh dirancang untuk membimbing Anda mencapai impian mulia ini. Bergabunglah bersama kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta, dan rasakan sendiri keberkahan serta kemudahan dalam menghafal Al-Qur’an dengan metode yang teruji, sehingga Anda dapat turut serta dalam barisan para penjaga Al-Qur’an.
Daftar Referensi
- H.R. Ibnu Abi Maryam (dari Sunan Ad-Darimi, Hadits No. 3362)
- Q.S. Al-Hijr: 9
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

