Dalam perjalanan hidup ini, seringkali kita mengidentifikasi ujian sebagai sesuatu yang berat, yang datang dalam bentuk kehilangan, kesusahan, atau penderitaan. Namun, pernahkah terbersit dalam benak kita, bahwa justru karunia yang melimpah, kebahagiaan yang tak terhingga, bahkan kemudahan yang terus-menerus datang, bisa menjadi ujian yang jauh lebih besar?
Ia adalah ujian yang seringkali datang tanpa kita sadari, menyelinap dalam kenyamanan, dan perlahan-lahan mengikis rasa syukur, menggantinya dengan keluh kesah atau bahkan kesombongan. Ujian yang satu ini, acapkali lebih sulit dikenali karena ia bersembunyi di balik tabir kenikmatan. Ia menguji bagaimana kita menyikapi anugerah, apakah ia membuat kita semakin dekat atau justru lalai dari Sang Pemberi Karunia.
Karunia yang Kadang Melenakan
Betapa sering kita saksikan, atau bahkan kita alami sendiri, ketika hidup terasa lapang, rezeki mengalir deras, kesehatan prima, dan segala keinginan seolah dimudahkan. Pada titik ini, hati kita diuji. Apakah kemudahan itu membuat kita semakin giat beribadah, semakin dermawan, semakin rendah hati? Atau justru sebaliknya, kemudahan itu membuai kita dalam kelalaian, merasa semua itu hasil jerih payah sendiri, hingga lupa siapa sejatinya sumber dari segala karunia?
Kenyamanan memang bisa menjadi pedang bermata dua. Ia adalah berkah yang patut disyukuri, namun sekaligus potensi yang bisa menjerumuskan jika kita tak piawai mengelolanya dengan hati. Al-Qur’an, sebagai petunjuk hidup kita, penuh dengan kisah-kisah yang mengingatkan tentang hakikat karunia dan ujian ini. Salah satunya adalah kisah tentang “hidangan dari langit” yang dialami oleh Bani Israil.
Kisah Agung Manna dan Salwa: Anugerah dan Amanah
Dahulu kala, ketika Bani Israil diselamatkan dari kekejaman Fir’aun dan menempuh perjalanan panjang di gurun Sinai, mereka menghadapi tantangan hidup yang begitu berat. Kelaparan dan dahaga menjadi ancaman nyata. Namun, Allah subhanahu wa ta’ala, dengan kasih sayang-Nya yang tak terbatas, menurunkan karunia yang menakjubkan: Manna dan Salwa.
وَاَذۡلَلۡنَا عَلَيۡكُمُ الۡغَمَامَ وَاَنۡزَلۡنَا عَلَيۡكُمُ الۡمَنَّ وَالسَّلۡوٰىؕ كُلُوۡا مِنۡ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقۡنٰكُمۡؕ وَمَا ظَلَمُوۡنَا وَلٰكِنۡ كَانُوۡۤا اَنۡفُسَهُمۡ يَظۡلِمُوۡنَ
“Dan Kami menaungi kamu dengan awan, dan Kami menurunkan kepadamu manna dan salwa. Makanlah (makanan) yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, tetapi merekalah yang menganiaya dirinya sendiri.” (QS. Al-Baqarah [2]: 57)
Manna adalah semacam embun manis seperti madu yang bisa diambil di pagi hari, sedangkan Salwa adalah burung puyuh yang mudah ditangkap. Keduanya adalah hidangan lezat dan bergizi yang Allah sediakan secara cuma-cuma, setiap hari, tanpa perlu mereka bersusah payah mencari atau bercocok tanam. Ini adalah karunia yang luar biasa, sebuah mukjizat yang seharusnya membangkitkan rasa syukur tak terhingga dalam diri mereka.
Ketika Keindahan Berubah Menjadi Keluh Kesah
Namun, apa yang terjadi kemudian? Seiring berjalannya waktu, karunia yang tadinya dianggap mukjizat itu mulai dianggap biasa. Bahkan, hati mereka yang dahulu penuh harap, kini mulai dihinggapi rasa bosan. Mereka mulai mengeluh dan meminta lebih.
وَاِذۡ قُلۡتُمۡ يٰمُوۡسٰى لَنۡ نَّصۡبِرَ عَلٰى طَعَامٍ وَّاحِدٍ فَادۡعُ لَنَا رَبَّكَ يُخۡرِجۡ لَنَا مِمَّا تُنۡۢبِتُ الۡاَرۡضُ مِنۡۢ بَقۡلِهَا وَقِثَّآئِهَا وَفُوۡمِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَاؕ قَالَ اَتَسۡتَبۡدِلُوۡنَ الَّذِىۡ هُوَ اَدۡنٰى بِالَّذِىۡ هُوَ خَيۡرٌؕ اِهۡبِطُوۡا مِصۡرًا فَاِنَّ لَكُمۡ مَّا سَاَلۡتُمۡؕ وَضُرِبَتۡ عَلَيۡهِمُ الذِّلَّةُ وَالۡمَسۡكَنَةُ وَبَآءُوۡ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِؕ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمۡ كَانُوۡا يَكۡفُرُوۡنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقۡتُلُوۡنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيۡرِ الۡحَقِّؕ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوۡا وَّكَانُوۡا يَعۡتَدُوۡنَ
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) satu macam makanan saja, maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah.” Dia (Musa) berkata, “Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke suatu kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.” Lalu ditimpakanlah kepada mereka kenistaan dan kemiskinan dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah [2]: 61)
Mereka jemu dengan kemudahan dan keistimewaan. Mereka menginginkan variasi, jenis makanan lain yang lebih “normal” dan “biasa” seperti yang ada di Mesir. Padahal, Manna dan Salwa adalah hidangan langsung dari surga, bersih, halal, dan tersedia tanpa usaha. Keinginan akan “yang lebih rendah” sebagai ganti “yang lebih baik” ini menunjukkan bagaimana hati mereka telah berpaling dari hakikat karunia Allah.
Refleksi Diri: Adakah Kita Berbeda?
Kisah Manna dan Salwa bukan hanya cerita masa lalu. Ia adalah cerminan bagi kita di masa kini. Mari sejenak merenung: apakah kita pun, dalam banyak hal, seringkali bersikap seperti Bani Israil? Kita diberi kesehatan yang prima, namun kita mengeluh tentang berat badan atau penampilan. Kita diberi makanan yang cukup, bahkan melimpah, namun kita mengeluh tentang rasa atau jenisnya. Kita diberi waktu luang, namun kita merasa bosan dan mencari hiburan yang melenakan, alih-alih menggunakannya untuk hal-hal bermanfaat atau beribadah.
Terkadang, kita mengeluh tentang pekerjaan, padahal banyak orang yang kesulitan mencari nafkah. Kita mengeluh tentang rumah yang tidak sesuai impian, padahal banyak yang tidak punya tempat berteduh. Kita mengeluh tentang pasangan atau keluarga, padahal banyak yang mendambakan kehangatan. Semua karunia ini, seringkali kita pandang sebagai hak, bukan sebagai anugerah yang patut disyukuri dan dikelola dengan bijak.
Sikap seperti ini, tanpa disadari, dapat mengubah karunia menjadi ujian yang berat. Ujian yang mengikis rasa syukur, mematikan hati, dan menjauhkan kita dari Allah. Bukankah Rasulullah ﷺ telah bersabda:
اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam hal dunia) dan janganlah engkau memandang orang yang berada di atasmu. Hal itu akan lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang dilimpahkan kepadamu.” (HR. Muslim)
Hadits ini mengajak kita untuk senantiasa bersyukur dengan melihat ke bawah, agar kita menyadari betapa banyak nikmat Allah yang telah kita terima.
Mengelola Karunia dengan Hati
Lantas, bagaimana kita bisa mengelola karunia agar ia senantiasa menjadi berkah, bukan ujian yang melenakan? Kuncinya terletak pada hati yang senantiasa terhubung dengan Sang Pemberi Karunia, Allah subhanahu wa ta’ala.
- Perbanyak Bersyukur
Sadari setiap napas, setiap suapan, setiap momen kebahagiaan adalah karunia. Ucapkan alhamdulillah, bukan hanya di lisan, tapi juga di hati dan perbuatan. - Rendah Hati: Ingatlah bahwa semua yang kita miliki adalah titipan. Kekuatan, kekayaan, kecerdasan, semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
- Manfaatkan untuk Kebaikan
Gunakan karunia yang Allah berikan untuk hal-hal yang mendekatkan diri kepada-Nya. Harta untuk sedekah, waktu untuk ibadah dan belajar, kesehatan untuk beramal saleh. - Jangan Membandingkan Diri
Fokus pada perjalanan kita sendiri. Setiap orang memiliki takdir dan ujiannya masing-masing. Membandingkan hanya akan memicu rasa tidak puas dan hasad.
Menjadikan Karunia Tangga Menuju Ridha Ilahi
Pada akhirnya, setiap karunia adalah kesempatan bagi kita untuk membuktikan keimanan. Apakah kita akan menjadi hamba yang bersyukur dan taat, atau justru lalai dan kufur? Kisah Manna dan Salwa adalah pengingat abadi bahwa kemudahan dan kenyamanan bisa menjadi ujian yang tak kalah beratnya dengan kesulitan.
Mari kita jadikan setiap karunia sebagai tangga yang mengantarkan kita lebih tinggi menuju ridha Allah. Dengan hati yang selalu bersyukur, insya Allah, setiap hidangan dari langit, dalam bentuk apapun, akan senantiasa membawa berkah dan kebaikan dalam hidup kita.
Untuk dapat memahami lebih dalam pola-pola hidup seperti ini, Al-Qur’an adalah panduan terbaik. Ia mengajarkan kita bagaimana melihat karunia dan ujian dengan kacamata ilahi, menuntun hati agar selalu teguh di jalan-Nya. Mari kita dekati Al-Qur’an, pelajarinya, dan jadikan ia penerang jiwa kita.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100
