Dalam riwayat kehidupan para salafus shalih, kita kerap menemukan cerminan jiwa-jiwa agung yang melampaui batas-batas kepentingan pribadi. Mereka adalah pribadi-pribadi yang hatinya terhubung dengan langit, pandangannya menembus cakrawala duniawi, dan tindakannya mengalirkan kebaikan tanpa henti. Keteladanan ini sejatinya menjadi kompas bagi kita untuk menavigasi kehidupan, menumbuhkan karakter yang mulia, dan meraih kebahagiaan sejati yang tidak semu.

Mari kita menelusuri kisah inspiratif dari seorang sahabat Nabi, Abdullah bin Abbas rahmatullahi ‘alaihi, sang lautan ilmu umat. Suatu ketika, beliau dihina oleh seseorang. Alih-alih membalas dengan kemarahan atau caci maki serupa, Ibnu Abbas dengan tenang dan bijaksana justru menyingkap tiga pilar kemuliaan yang bersemayam dalam dirinya. Ini bukanlah sebuah kesombongan, melainkan sebuah refleksi diri yang penuh keimanan, menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja yang mendengarkannya.

حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدٍ وَحَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، عَنْ كَهْمَسِ بْنِ الْحَسَنِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ، قَالَ: شَتَمَ رَجُلٌ ابْنَ عَبَّاسٍ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ فَقَالَ: ” أَمَا إِنَّكَ تَشْتُمُنِي وَفِيَّ ثَلَاثُ خِلَالٍ: إِنِّي لَأَسْمَعُ بِالْحَكَمِ مِنْ حُكَّامِ الْمُسْلِمِينَ يَعْدِلُ فَأَفْرَحَ، وَعَلَيَّ أَلَّا أُقَاضِي إِلَيْهِ أَبَدًا، وَإِنِّي لَأَسْمَعُ بِالْغَيْثِ يُصِيبُ مِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ فَأَفْرَحَ بِهِ وَمَالِي بِهِ مِنْ سَائِمَةٍ، وَإِنِّي لَآتِي عَلَى الْآيَةِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَأَوَدَّ أَنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ يَعْلَمُونَ مِنْهَا مَا أَعْلَمُ ”

Dalam perkataannya yang agung, Ibnu Abbas mengungkapkan tiga sifat mulia: kebahagiaan atas keadilan hakim Muslim walau tak ada urusan dengannya, kegembiraan atas hujan yang membasahi bumi Muslimin walau tak punya ternak di sana, dan kerinduan agar semua manusia mengetahui apa yang ia ketahui dari Al-Qur’an. Mari kita telaah satu per satu, karena di dalamnya tersembunyi kunci menuju hati yang lapang dan hidup yang bermakna.

Menumbuhkan Hati yang Berbahagia untuk Orang Lain

Kualitas pertama yang diungkapkan Ibnu Abbas adalah kegembiraannya manakala mendengar seorang hakim Muslim berlaku adil. Sebuah kebahagiaan yang tulus, tanpa motif pribadi, tanpa berharap pengadilan itu akan menguntungkannya. Betapa jarang kita menemukan hati sedemikian rupa di tengah hiruk pikuk kehidupan yang seringkali mendorong kita pada egoisme. Kebahagiaan Ibnu Abbas tidak bersumber dari keuntungan personal, melainkan dari tegaknya kebenaran dan keadilan yang dirasakan oleh sesama Muslim. Ini adalah manifestasi dari ukhuwah islamiyah yang hakiki, sebuah ikatan persaudaraan yang melampaui sekat-sekat materi dan jabatan.

Hal serupa tercermin pada poin kedua, yaitu kegembiraan atas turunnya hujan di negeri-negeri Muslim, meskipun beliau tidak memiliki ternak yang akan diuntungkan dari hujan tersebut. Ini adalah gambaran sebuah hati yang bersih dari rasa iri dan dengki, sebuah hati yang mampu berbagi kebahagiaan atas rezeki dan keberkahan yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang lain. Inilah esensi dari hadits Rasulullah ﷺ:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Artinya: “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Jiwa yang lapang dan berbahagia atas kebaikan sesama adalah tanda iman yang kuat. Ia menafikan segala bentuk ketamakan dan kesempitan jiwa. Dengan hati seperti ini, kita akan merasakan kedamaian batin yang luar biasa, terbebas dari beban dengki yang menghimpit, dan senantiasa bersyukur atas nikmat Allah yang berlimpah, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

Semangat Berbagi Cahaya Al-Qur’an

Namun, dari ketiga kualitas mulia yang disebutkan oleh Ibnu Abbas, poin terakhir memiliki resonansi yang sangat mendalam dan relevan dengan misi kita. Beliau menyatakan, “Dan sungguh, ketika aku sampai pada suatu ayat dari Kitabullah, aku berkeinginan agar semua manusia mengetahui dari ayat itu apa yang aku ketahui.” Ini bukan sekadar keinginan biasa, melainkan sebuah kerinduan mendalam yang lahir dari kecintaan yang tak terhingga terhadap Al-Qur’an dan kemuliaan ilmu yang terkandung di dalamnya. Ibnu Abbas, seorang pakar tafsir dan penafsir ulung, merasakan betapa agungnya wahyu ilahi ini dan betapa besarnya manfaat yang bisa dipetik darinya.

Keinginan Ibnu Abbas ini mengajarkan kita tentang tanggung jawab moral seorang Muslim yang telah mendapatkan sebagian dari cahaya Al-Qur’an. Ilmu, khususnya ilmu agama, bukanlah untuk disimpan sendiri atau menjadi alat kesombongan. Sebaliknya, ilmu adalah amanah yang harus disampaikan, sebuah pelita yang harus dinyalakan agar menerangi jalan banyak orang. Semakin kita mendalami Al-Qur’an, semakin kita akan merasakan dahaganya jiwa manusia akan petunjuk Ilahi ini. Sebuah ayat yang mampu mengubah pandangan hidup kita, memurnikan niat, dan mengarahkan langkah menuju kebaikan, sungguh sangat layak untuk dibagi dan diajarkan kepada orang lain.

Al-Qur’an adalah kalamullah, pedoman hidup yang sempurna. Setiap hurufnya mengandung hikmah, setiap ayatnya adalah samudra ilmu. Ketika kita memahami suatu kebenaran dari Al-Qur’an, muncullah desakan alami untuk berbagi, untuk memastikan orang lain juga merasakan manisnya iman dan ketenangan hati yang kita rasakan. Ini adalah panggilan dakwah yang paling mendasar, yakni mengajak manusia kembali kepada sumber kebaikan sejati.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (H.R. Bukhari)

Hadits ini mempertegas betapa mulianya posisi mereka yang tidak hanya belajar Al-Qur’an untuk diri sendiri, tetapi juga bersemangat untuk menyebarkannya. Ini adalah bentuk investasi akhirat yang takkan pernah merugi, sebuah amal jariyah yang pahalanya terus mengalir selama ilmu yang diajarkan itu diamalkan. Keinginan Ibnu Abbas adalah wujud nyata dari spirit ‘belajar dan mengajarkan’ ini. Ia ingin keberkahan Al-Qur’an tidak hanya berhenti pada dirinya, tetapi menyebar luas menjadi rahmat bagi semesta.

Transformasi Diri Menuju Hati yang Berbagi

Melihat teladan Ibnu Abbas ini, kita diajak untuk merefleksikan diri: sudahkah hati kita lapang untuk berbahagia atas kebaikan orang lain? Sudahkah jiwa kita dipenuhi kerinduan untuk berbagi ilmu Al-Qur’an yang telah kita dapatkan? Di tengah kesibukan dunia, sangat mudah bagi kita untuk terjebak dalam lingkaran kepentingan pribadi. Namun, Al-Qur’an dan sunah mengajarkan kita untuk melampaui batasan itu, menumbuhkan empati, dan menjadikan kebaikan universal sebagai bagian dari kebahagiaan kita.

Menginternalisasi sifat-sifat mulia ini dimulai dengan niat yang tulus. Niat untuk membersihkan hati dari dengki, niat untuk senantiasa bersyukur, dan niat untuk menjadi jembatan kebaikan bagi sesama. Mempelajari Al-Qur’an bukan hanya tentang menghafal huruf dan memahami makna, tetapi juga tentang membentuk karakter, melunakkan hati, dan membangkitkan semangat berbagi.

Kita, sebagai umat Muslim, memiliki warisan terbesar berupa Al-Qur’an. Adalah tugas kita untuk tidak hanya memegangnya erat, tetapi juga menyebarkan cahayanya ke seluruh penjuru. Dimulai dari diri sendiri, keluarga, lalu meluas ke masyarakat. Setiap kalimat Al-Qur’an yang kita sampaikan, setiap pemahaman yang kita bagikan, adalah setetes embun yang menyegarkan dahaga spiritual manusia.

Marilah kita meneladani Ibnu Abbas, sang penerus ilmu kenabian, yang hatinya begitu murni hingga berbahagia atas kebaikan sekecil apapun yang menimpa sesamanya, dan jiwanya begitu dermawan hingga berhasrat agar setiap manusia mencicipi manisnya ilmu Al-Qur’an. Ini adalah jalan menuju kebahagiaan hakiki, jalan yang menjadikan kita pribadi yang tidak hanya sukses di dunia, tetapi juga mulia di akhirat.

Apabila Anda merasakan panggilan hati untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an, untuk memahami dan menghafalnya, serta turut menjadi bagian dari estafet kebaikan dengan ilmu yang Anda miliki, kami mengundang Anda. Qur’an Learning Center Yogyakarta hadir sebagai wadah yang berkomitmen untuk membimbing para pembelajar Al-Qur’an, membuka gerbang pemahaman, dan mencetak generasi yang tak hanya hafal, namun juga mendalami, mengamalkan, dan berbagi hikmah Al-Qur’an. Bergabunglah bersama kami, dan jadilah pribadi yang hatinya berlimpah cahaya, siap untuk berbagi kebaikan dan ilmu kepada dunia.

Daftar Referensi

  • Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam. (2012). Fadhail al-Qur’an. Dar Ibnu Hazm. Hadits No. 102. (Melalui: sumber di Perpustakaan Islam Shamela)
  • H.R. Bukhari No. 13 dan Muslim No. 45 (tentang mencintai untuk saudara apa yang dicintai untuk diri sendiri)
  • H.R. Bukhari No. 5027 (tentang sebaik-baiknya orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an)

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,