Membaca Al-Qur’an adalah salah satu ibadah paling mulia dalam Islam. Namun, keagungan kitab suci ini bisa menjadi bumerang bagi pembacanya jika niat di dalam hati telah melenceng. Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama sering memperingatkan fenomena “penjual ayat” atau mereka yang mempelajari Al-Qur’an bukan karena Allah Azza wa Jalla, melainkan demi mengejar kehormatan duniawi.
Berikut adalah potret perilaku dan akhlak buruk yang sering muncul pada orang-orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai batu loncatan menuju kemewahan dunia:
1. Menjaga Huruf, Mengabaikan Hukum
Karakteristik pertama yang paling menonjol adalah ketelitiannya dalam menjaga tajwid dan kelancaran hafalan (hafizhan li hurufih), namun ia sangat meremehkan batasan-batasan hukum yang terkandung di dalamnya (mudhayyi’an li hududih). Ia fasih melafalkannya, tetapi tindakannya justru bertentangan dengan moralitas Al-Qur’an itu sendiri.
2. Kesombongan yang Menyesatkan
Ilmu yang ia miliki tidak membuahkan ketawaduan, melainkan perasaan paling tinggi. Ia merasa lebih mulia dari orang lain dan memandang rendah siapa pun yang tingkat hafalannya berada di bawahnya. Jika ia bertemu dengan sesama penghafal yang setara, alih-alih bersaudara, ia justru sibuk mencari-cari celah dan aib orang tersebut demi menjatuhkannya.
3. Al-Qur’an sebagai Barang Dagangan
Ia menjadikan Al-Qur’an sebagai “modal bisnis” untuk mendekati orang-orang kaya (itakhadzal Qur’ana bidha’atan). Tujuannya jelas: untuk mendapatkan materi, fasilitas, atau kemudahan urusan duniawi. Sikapnya pun menjadi sangat diskriminatif:
- Terhadap si Kaya: Ia bersikap sangat lembut, ramah, dan penuh kesabaran saat mengajar karena mengharap imbalan dunianya.
- Terhadap si Miskin: Ia bersikap kasar, mudah membentak, dan merasa terbebani saat mengajar karena merasa tidak ada keuntungan materi yang bisa didapatkan.
4. Haus Pujian dan Popularitas
Jika dianugerahi suara yang merdu, ia akan lebih bersemangat membacakannya di hadapan para penguasa atau tokoh penting agar mendapat pujian dan kedudukan. Namun, ketika diminta menjadi imam bagi masyarakat kecil atau orang-orang miskin, ia merasa keberatan dan enggan karena merasa hal itu tidak meningkatkan gengsinya.
5. Terobsesi pada Hal yang Asing (Gharib)
Dalam hal keilmuan, ia senang menonjolkan diri dengan membaca variasi qira’at yang asing atau jarang diketahui orang awam hanya untuk menunjukkan kehebatannya. Padahal, para ulama memperingatkan bahwa membaca Al-Qur’an dengan cara yang membingungkan masyarakat bisa menjerumuskan pada fitnah. Ia berbicara banyak tanpa filter, hanya demi terlihat luas wawasannya.
Kesimpulan
Artikel ini menjadi pengingat keras bagi setiap penuntut ilmu bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk (huda), bukan alat pemuas nafsu. Keberkahan Al-Qur’an hanya akan dirasakan oleh mereka yang membacanya dengan hati yang tunduk dan niat yang tulus hanya karena Allah. Bagi Anda yang ingin belajar membaca Al-Qur’an dengan niat yang benar, tersedia panduan lengkap.
Referensi Sumber
Teks yang Anda sampaikan merupakan kutipan masyhur dari kitab “Akhlaq Hamalatil Qur’an” (Etika Para Penghafal Al-Qur’an) karya Imam Al-Ajurri (wafat 360 H).
Imam Al-Ajurri adalah seorang ulama besar ahli hadis dan fikih. Dalam kitab tersebut, beliau secara khusus membedah perbedaan antara orang yang membaca Al-Qur’an karena mengharap rida Allah dengan orang yang membacanya untuk tujuan duniawi. Nama Kitab: Akhlaq Hamalatil Qur’an (أخلاق حملة القرآن). Penulis: Al-Imam Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain Al-Ajurri. Akses Teks: Anda dapat menemukan kutipan lengkap ini pada bab yang membahas tentang “Akhlak orang yang membaca Al-Qur’an tidak karena Allah”. Salah satu edisi cetak yang terpercaya diterbitkan oleh Dar Al-Wathan.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100


