Mentalitas Juara di Garis Finish Perjuangan

Pernahkah kita memperhatikan fenomena di masjid-masjid saat memasuki fase sepuluh malam terakhir? Saf-saf yang tadinya penuh sesak di awal bulan, perlahan mulai maju dan merenggang. Seolah-olah energi spiritualitas itu menguap begitu saja tertelan oleh persiapan hiruk-pikuk duniawi. Namun, di antara fenomena pelonggaran saf tersebut, selalu ada sekelompok kecil orang yang justru terlihat semakin membara, semakin fokus, dan semakin tenggelam dalam sujudnya. Mereka inilah yang kita sebut sebagai pemain inti dalam skuadron langit, pribadi yang tidak mengenal kata lelah saat garis finish sudah mulai terlihat di depan mata.

Menjadi pemain inti bukan soal jabatan atau status sosial, melainkan soal mentalitas dan daya tahan ruhani. Kita sering melihat orang yang memulai dengan ledakan semangat namun layu di tengah jalan. Padahal, dalam setiap kompetisi besar, pemenang ditentukan oleh siapa yang mampu melakukan sprint di kilometer terakhir. Di sepuluh malam terakhir Ramadhan, Allah sedang menyeleksi siapa di antara kita yang benar-benar rindu akan ampunan-Nya dan siapa yang hanya sekadar ikut berpartisipasi dalam keramaian musiman. Kita harus memutuskan hari ini: apakah kita hanya penonton, ataukah kita adalah petarung yang siap menjemput Lailatul Qadar dengan segala totalitas?

Kekuatan mental untuk tetap giat beribadah saat tubuh mulai merasa letih adalah ciri dari kedalaman iman. Kita perlu menyadari bahwa peluang emas ini tidak datang dua kali dalam setahun. Setiap detik yang kita lalui di penghujung Ramadhan memiliki nilai tukar yang sangat fantastis di hadapan Allah. Melalui program Executive Tahfizh, kita diajak untuk membangun disiplin yang sama seperti para pemain inti ini, di mana interaksi dengan Al-Qur’an menjadi sumber energi utama yang tidak pernah habis meski fisik terasa lunglai.

Fokus pada hasil akhir adalah apa yang membedakan kita dengan mereka yang menyerah. Rasulullah SAW sendiri, manusia yang paling mulia, justru “mengencangkan ikat pinggangnya” dan membangunkan keluarganya saat sepuluh malam terakhir tiba. Jika beliau yang sudah dijamin surga saja meningkatkan intensitasnya, lantas apa alasan kita untuk bersantai? Kita sedang berada di zona waktu paling krusial, di mana setiap doa memiliki probabilitas tinggi untuk menembus tujuh lapis langit dan mengubah garis takdir kita selamanya.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

“Rasulullah SAW apabila memasuki sepuluh malam terakhir, beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh, dan mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kisah menakjubkan datang dari Said bin Jubair, seorang tabiin yang dikenal sangat luar biasa dalam ibadahnya. Beliau sanggup menyelesaikan bacaan Al-Qur’an dalam dua malam saja, terutama saat berada di penghujung Ramadhan. Beliau tidak membiarkan satu malam pun berlalu tanpa memberikan persembahan terbaik kepada Allah. Semangat seperti inilah yang harus kita injeksikan ke dalam jiwa kita. Kita tidak boleh membiarkan diri kita terdistraksi oleh urusan belanja atau persiapan mudik yang berlebihan hingga melupakan esensi dari bulan suci ini. Memuliakan Al-Qur’an di saat-saat terakhir adalah bukti cinta yang sesungguhnya.

Mengapa hanya pemain inti yang mampu bertahan? Karena mereka memiliki “mengapa” yang sangat kuat. Mereka tahu bahwa dosa-dosa mereka butuh ampunan, mereka sadar bahwa umur mereka belum tentu sampai pada Ramadhan berikutnya. Kesadaran akan kefanaan dunia inilah yang membuat mereka mampu menepis rasa kantuk dan berdiri tegak dalam salat malam. Kita harus melatih diri kita untuk melihat melampaui rasa lelah fisik. Rasa lelah itu akan hilang saat kita berbuka, namun pahala dan kemuliaan yang kita raih akan abadi selamanya di sisi Allah.

Pola pikir seorang pemenang selalu mencari cara untuk memberikan lebih (extra mile). Jika orang lain hanya salat tarawih, pemain inti akan menambahnya dengan tahajud di sepertiga malam terakhir. Jika orang lain hanya membaca satu juz, pemain inti akan berusaha merenungkan setiap ayat yang dibacanya. Ketangguhan ini tidak datang tiba-tiba, melainkan hasil dari latihan dan doa yang terus menerus. Kita harus memaksakan diri kita dalam kebaikan sampai akhirnya kebaikan itu menjadi kebutuhan yang menyenangkan bagi jiwa kita.

Bayangkan saat para malaikat turun ke bumi dan melihat kita masih terjaga, memegang mushaf, dan meneteskan air mata memohon keridaan-Nya. Bayangkan betapa bangganya Allah menyebut nama kita di depan para penduduk langit. Ini adalah momen untuk meningkatkan standar diri kita. Jangan puas menjadi rata-rata. Dunia butuh lebih banyak orang yang memiliki integritas ibadah seperti pemain inti, yang tetap konsisten meski tidak dilihat oleh manusia lainnya. Keikhlasan adalah bensin yang membakar semangat para pejuang subuh ini.

Mari kita manfaatkan sisa waktu yang sedikit ini dengan sebaik-baiknya. Buang semua beban yang tidak perlu, matikan suara-suara bising yang menghalangi kita dari kekhusyukan, dan larilah menuju pelukan kasih sayang Allah. Kemenangan sudah sangat dekat, jangan sampai kita tersungkur di saat garis finish tinggal beberapa jengkal lagi. Jadilah bagian dari mereka yang tertawa bahagia di hari kemenangan nanti karena telah memberikan yang terbaik di saat-saat tersulit.

Semoga Allah mengukuhkan langkah kita untuk terus istikamah menjadi pemain inti yang giat beribadah hingga napas terakhir Ramadhan ini. Amin.

Referensi:
Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari. Juz 4. Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379 H.
Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ ‘Ulum ad-Din. Juz 1. Kairo: Dar al-Hadith, 2004.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Executive Tahfidz di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri