Pernahkah terbesit dalam benak kita, sebuah pertanyaan fundamental: mengapa kita ada? Dari mana kita berasal, dan ke mana tujuan akhir perjalanan ini? Pertanyaan-pertanyaan esensial ini sesungguhnya adalah undangan untuk menyelami sebuah kebenaran agung yang kerap kali terlewat dalam hiruk-pikuk kehidupan. Kita, sebagai manusia, seringkali lupa bahwa eksistensi kita bukanlah kebetulan semata, melainkan sebuah manifestasi dari kehendak Ilahi yang luar biasa. Inilah sebuah kesempatan emas untuk menyemai benih refleksi manusia atas penciptaan dan tujuan hidup yang sesungguhnya.

Mari sejenak kita menengok sebuah riwayat yang menyingkap kedalaman makna ini. Dikisahkan oleh Abul Ubaid dan Katsir bin Hisyam, dari Ja’far bin Burqan, dari Yazid bin Abi Ziyad, bahwa Abdullah bin Mas’ud pernah mendengar seorang pria membaca firman Allah:

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا

Yang artinya, “Bukankah telah datang atas manusia suatu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al-Insan: 1). Mendengar ayat yang agung ini, Ibnu Mas’ud, seorang sahabat Nabi yang mulia, segera merespons dengan penuh kekaguman dan keyakinan:

إِي وَعِزَّتِكَ، فَجَعَلْتَهُ سَمِيعًا بَصِيرًا، وَحْيًا وَمَيِّتًا

Yang kurang lebih berarti, “Ya, demi kemuliaan-Mu! Engkau menjadikannya (manusia) mendengar, melihat, hidup, dan mati.” Sebuah jawaban yang singkat namun sarat makna, membuka tirai hakikat penciptaan dan eksistensi kita.

Menggali Makna Tersembunyi Surah Al-Insan Ayat 1

Ayat pertama Surah Al-Insan mengajak kita kembali ke titik nol, sebuah masa ketika kita belum menjadi apa-apa, bahkan tidak layak disebut. Ketiadaan yang mutlak. Lalu, dengan kuasa-Nya, Allah SWT meniupkan ruh, menganugerahi wujud, dan menjadikan kita makhluk yang memiliki potensi luar biasa. Ini adalah awal dari refleksi manusia atas penciptaan dan tujuan hidup. Dari status ‘tidak ada’ menjadi ‘ada’, bukanlah sekadar perubahan fisik, melainkan sebuah penempatan dalam panggung kehidupan dengan amanah dan peran yang besar.

Ibnu Mas’ud dengan tegas membenarkan keagungan ayat ini. Responsnya, “Ya, demi kemuliaan-Mu!” menunjukkan pengakuan total terhadap kekuasaan dan keagungan Allah yang tak terbatas. Beliau bukan hanya mengamini, tetapi bersaksi atas kebenaran janji dan kekuasaan Ilahi. Ini adalah inti dari pemahaman yang mendalam tentang asal-usul kita. Kita tidak muncul begitu saja, melainkan diciptakan dengan sempurna, melalui sebuah proses yang tak terbayangkan kehebatannya.

Dari Ketiadaan Menuju Kehidupan Penuh Makna: Anugerah Pendengaran dan Penglihatan

Bagian kedua dari respons Ibnu Mas’ud adalah kunci: “Engkau menjadikannya mendengar, melihat…” Dua indra ini, pendengaran (samii’an) dan penglihatan (bashiiran), adalah gerbang utama bagi kita untuk berinteraksi dengan dunia, untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah, dan untuk menapaki jalan kebaikan. Tanpa indra ini, bagaimana mungkin kita dapat menerima petunjuk, menelaah ayat-ayat kauniyah, atau bahkan mengenali pencipta kita?

Pendengaran dan penglihatan bukan sekadar fungsi biologis, melainkan karunia agung yang memungkinkan kita belajar, berinteraksi sosial, dan yang paling penting, mengenali keesaan Allah. Melalui pendengaran, kita menyerap kalamullah, nasihat bijak, dan seruan kebaikan. Melalui penglihatan, kita menyaksikan keindahan alam semesta, keajaiban ciptaan, dan bukti-bukti kekuasaan-Nya yang tersebar di setiap sudut bumi. Maka, sungguh merugi jika indra ini tidak kita gunakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Inilah fondasi penting dalam membangun refleksi manusia atas penciptaan dan tujuan hidup yang bermakna.

Hidup dan Mati: Siklus Kehidupan sebagai Peringatan

Selanjutnya, Ibnu Mas’ud menambahkan: “…hidup, dan mati.” Kehidupan adalah sebuah anugerah, kesempatan untuk beramal shalih, beribadah, dan menebar kebaikan. Namun, ia juga diikuti oleh kematian, sebuah kepastian yang tak terelakkan bagi setiap jiwa. Siklus hidup dan mati ini adalah pengingat konstan bahwa waktu kita di dunia ini terbatas. Setiap detik yang berlalu adalah kesempatan yang tidak akan terulang kembali.

Kematian bukan akhir dari segalanya, melainkan gerbang menuju kehidupan abadi yang sesungguhnya. Pemahaman ini seharusnya memicu kita untuk memanfaatkan setiap momen hidup dengan sebaik-baiknya, mengisinya dengan ketaatan dan bekal menuju akhirat. Kita hidup bukan untuk sekadar ada, melainkan untuk sebuah tujuan yang jauh lebih besar. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama penciptaan kita adalah beribadah kepada Allah. Dengan demikian, setiap napas, setiap langkah, setiap indra yang kita miliki, haruslah diarahkan pada tujuan mulia ini. Inilah puncak dari refleksi manusia atas penciptaan dan tujuan hidup.

Mengukir Jejak Taqwa dalam Setiap Langkah

Dari pemahaman yang mendalam ini, kita diajak untuk bergerak. Refleksi bukan hanya tentang berpikir, tetapi tentang bertindak. Bagaimana kita mengukir jejak taqwa dalam setiap langkah hidup kita? Pertama, dengan senantiasa mensyukuri setiap anugerah, terutama pendengaran dan penglihatan. Gunakanlah indra tersebut untuk kebaikan, untuk mendekat kepada Al-Qur’an, dan untuk memahami ajaran agama.

Kedua, dengan menyadari bahwa hidup adalah amanah. Setiap detik adalah peluang untuk berbuat kebajikan, menuntut ilmu, berdakwah, dan berkontribusi positif bagi sesama. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa makna. Ketiga, dengan mengingat bahwa kematian adalah sebuah kepastian, yang seharusnya memotivasi kita untuk terus memperbaiki diri dan mempersiapkan bekal terbaik.

Mewujudkan Esensi Refleksi Manusia atas Penciptaan dan Tujuan Hidup

Marilah kita bersama-sama mewujudkan esensi dari refleksi manusia atas penciptaan dan tujuan hidup ini dalam kehidupan sehari-hari. Mulailah dengan menata kembali prioritas, mendahulukan apa yang dicintai Allah, dan menjauhi segala larangan-Nya. Hidup kita adalah sebuah kisah yang sedang kita tulis, dan setiap babnya haruslah berisi tentang ketaatan, cinta, dan pengabdian kepada Sang Pencipta. Setiap orang, tanpa terkecuali, memiliki potensi untuk menjadi hamba yang mulia di hadapan-Nya, asalkan mau merenungi dan bertindak sesuai dengan hakikat keberadaannya.

Jangan biarkan diri kita terjebak dalam kesibukan duniawi yang melalaikan dari tujuan utama penciptaan. Ingatlah bahwa dari ketiadaan, kita diciptakan, diberi indra, diberi kehidupan, dan kelak akan kembali kepada-Nya. Sungguh, sebuah perjalanan yang luar biasa, jika kita mampu memaknai setiap episode dengan kesadaran dan keikhlasan. Inilah saatnya untuk memperdalam refleksi manusia atas penciptaan dan tujuan hidup.

Apakah Anda siap untuk memulai perjalanan spiritual yang mengubah hidup, memahami Al-Qur’an lebih dalam, dan menemukan makna sejati dari keberadaan Anda? Qur’an Learning Center Yogyakarta hadir untuk membimbing Anda, menyediakan program Executive Tahfizh yang akan membantu Anda menghafal dan memahami Al-Qur’an dengan metode yang efektif dan mendalam, sehingga setiap ayat menjadi panduan dalam menemukan tujuan hidup yang hakiki.

Daftar Referensi

  • QS. Al-Insan (76): 1
  • QS. Adz-Dzariyat (51): 56
  • Kitab Fadha’ilul Qur’an Abu Ubaid, Bab Maa Yustahabbu Liqaari’il Qur’an Min Al-Jawab Indal Aayah Was Syahadah Lahaa, halaman 150.

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,