Bayangkan seseorang yang membawa permata paling berkilau di dunia di dalam genggamannya, namun ia membiarkan dirinya berjalan terperosok ke dalam jurang yang gelap karena mengabaikan lentera yang ada di depannya. Itulah gambaran bagi Sahabat Qur’an yang begitu gigih menghafal setiap baris ayat-ayat suci, namun justru lalai dalam mendirikan tiang agama yang paling utama, yaitu shalat fardhu lima waktu.
Seringkali kita merasa bahwa dengan banyaknya hafalan yang tersimpan di dalam dada, kita telah mendapatkan “tiket emas” menuju surga. Namun, tahukah Sahabat Qur’an bahwa Al-Quran yang kita hafal itu kelak bisa menjadi pembela (syafaat) atau justru menjadi penggugat di hadapan Allah SWT? Menghafal Al-Quran adalah amalan yang sangat dicintai, tetapi shalat adalah pondasi yang menentukan diterima atau tidaknya seluruh amal ibadah kita di akhirat kelak.
Shalat Sebagai Barometer Seluruh Amal
Dalam perjalanan kita mendalami kalamullah, penting untuk menyadari bahwa kedudukan shalat dalam Islam tidak bisa digantikan oleh amalan apapun, termasuk hafalan Al-Quran setebal 30 juz sekalipun. Shalat adalah perintah yang diterima langsung oleh Rasulullah SAW di langit ketujuh tanpa perantara malaikat Jibril, menunjukkan betapa eksklusif dan krusialnya ibadah ini. Jika kita mengaku mencintai isi Al-Quran, maka perintah yang paling sering diulang di dalamnya adalah mendirikan shalat.
Bagaimana mungkin seorang penghafal Al-Quran melewati ayat-ayat tentang perintah rukuk dan sujud, namun hatinya tidak tergetar untuk segera menghadap-Nya saat adzan berkumandang? Meninggalkan shalat dengan sengaja adalah dosa besar yang bisa menghapuskan pahala kebaikan lainnya. Kita tidak ingin hafalan kita hanya menjadi hiasan di lisan tanpa membekas menjadi ketaatan yang nyata pada perintah wajib.
Bagi Sahabat Qur’an yang sedang berjuang menjaga hafalan namun merasa sulit menjaga konsistensi ibadah wajib, lingkungan yang tepat adalah kunci utama. Di Executive Tahfizh, kita diajak untuk tidak hanya mengejar setoran hafalan, tetapi juga membangun karakter seorang hafizh yang disiplin dalam menjaga shalat tepat waktu dan berjamaah.
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)
Al-Quran Seharusnya Menjaga Kita dari Kemaksiatan
Sahabat Qur’an yang dicintai Allah, hakikat dari menghafal Al-Quran adalah “menjaga” (tahfizh). Jika Al-Quran yang ada di dalam dada tidak mampu menjaga kita dari perbuatan meninggalkan shalat, maka kita perlu bertanya pada diri sendiri: apa yang sebenarnya kita hafal? Al-Quran adalah petunjuk (hudan). Jika petunjuk itu sudah ada dalam memori kita, seharusnya jalan menuju masjid atau sajadah menjadi jalan yang paling ringan untuk dilalui.
Menghafal Al-Quran adalah kebaikan yang luar biasa, namun shalat adalah standar minimal seorang muslim. Tanpa shalat, identitas keislaman seseorang dipertanyakan. Kita harus berhati-hati agar tidak termasuk golongan orang yang membaca Al-Quran namun Al-Quran justru melaknatnya karena ia mengabaikan perintah-perintah yang ada di dalamnya. Mari kita jadikan hafalan kita sebagai pemacu semangat untuk menjadi hamba yang paling awal bersujud saat waktu shalat tiba.
Menyeimbangkan Ambisi Hafalan dan Kewajiban Syariat
Terkadang, kesibukan mengejar target hafalan harian membuat seseorang merasa “lelah” dan akhirnya meremehkan shalat. Ini adalah tipu daya syaitan yang halus. Syaitan tidak mampu menghalangi kita menghafal, maka ia akan membuat kita merasa cukup dengan hafalan itu sehingga kita melalaikan yang wajib. Ingatlah, amalan sunnah atau fardhu kifayah tidak akan pernah bisa menambal bolongnya amalan fardhu ‘ain jika dilakukan dengan sengaja.
Seorang hafizh adalah teladan. Masyarakat melihat kita sebagai representasi dari nilai-nilai Al-Quran. Jika seorang penghafal Al-Quran saja meninggalkan shalat, apa jadinya wajah dakwah Islam di mata orang lain? Oleh karena itu, mari kita perbaiki niat. Kita menghafal Al-Quran untuk semakin dekat dengan Allah, dan cara terdekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah saat ia sedang bersujud dalam shalat.
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)
Marilah kita kembali menata prioritas hidup kita. Jangan sampai hafalan yang kita perjuangkan dengan cucuran keringat dan air mata justru menjadi beban di akhirat karena kita sombong dan meninggalkan shalat. Teruslah menghafal, teruslah muraja’ah, namun pastikan shalat lima waktu adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dalam kondisi apapun. Semoga Allah istiqomahkan kita semua menjadi keluarga Al-Quran yang taat secara kaffah.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh: Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

