Pernahkah Sahabat Qur’an terburu-buru mengancingkan kemeja di pagi hari, lalu saat sampai di cermin terakhir, baru sadar bahwa kancingnya miring dan tidak pas?
Apa yang harus dilakukan? Tentu kita harus melepas semua kancing itu satu per satu dan memulainya lagi dari awal, bukan? Sahabat Qur’an, begitulah perumpamaan menghafal Al-Quran tanpa dasar bacaan yang benar. Seringkali, semangat kita yang menggebu-gebu untuk segera menyandang gelar “Hafizh” membuat kita melompati satu tangga penting: Tahsin (memperbagus bacaan).
Ada rasa tidak sabar yang wajar, “Kalau harus belajar makhraj dulu, kapan saya hafalnya?” Namun, mari kita renungkan sejenak dengan hati yang jernih. Membangun hafalan di atas bacaan yang keliru ibarat membangun gedung tinggi di atas tanah yang retak. Mungkin cepat berdiri, tapi rapuh dan berbahaya.
Bahaya “Kesalahan yang Membatu”
Bayangkan jika kita menghafal satu ayat dengan pelafalan yang salah—misalnya tertukar antara huruf ‘Ain’ dan ‘Hamzah’, atau memendekkan bacaan yang seharusnya panjang (Mad). Jika ayat yang salah itu kita ulang 100 kali agar hafal, artinya kita sedang menancapkan kesalahan itu 100 kali lebih dalam ke otak kita.
Dalam dunia psikologi menghafal, memperbaiki hafalan yang sudah “terlanjur salah” itu jauh lebih sulit dan menguras energi daripada menghafal baru dari nol. Otak kita akan bingung antara rekaman lama yang salah dan rekaman baru yang benar. Oleh karena itu, langkah pertama dan paling bijak adalah memperbaiki bacaan Al-Quran kita terlebih dahulu di hadapan guru.
Terbata-bata Itu Bukan Aib
Sahabatku, jangan pernah merasa minder jika lisan ini masih kaku. Jangan merasa “tertinggal” dari teman-teman yang sudah hafal juz demi juz. Ketahuilah, Islam sangat menghargai proses. Bahkan, Rasulullah memberikan kabar gembira yang luar biasa bagi Sahabat yang masih berjuang mengeja huruf demi huruf.
Allah tidak melihat seberapa cepat kita khatam, tapi Allah melihat kesungguhan kita menjaga kemurnian Kalam-Nya. Justru, proses belajar tahsin atau memperbaiki bacaan Al-Quran ini adalah bagian dari ibadah yang pahalanya mengalir deras. Setiap kali kita bersusah payah membetulkan posisi lidah agar huruf ‘Shad’ terdengar fasih, di situlah rahmat Allah turun.
Renungan Hadits:
الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
“Orang yang mahir membaca Al-Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan taat. Adapun orang yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata dan merasa kesulitan, maka baginya dua pahala.” (HR. Muslim no. 798)
Kualitas di Atas Kuantitas
Mulai hari ini, mari kita ubah orientasi kita. Bukan lagi “Berapa halaman yang saya hafal hari ini?”, tapi “Sudahkah bacaan saya hari ini benar dan tartil?”.
Carilah seorang guru atau Musyrif yang bersanad, atau minimal yang bacaannya fasih, untuk menyimak bacaan kita (Talaqqi). Jangan hanya mengandalkan rekaman MP3 atau YouTube saja, karena telinga kita seringkali bias menilai suara sendiri. Guru akan menjadi cermin yang jujur untuk mengoreksi apa yang luput dari pendengaran kita.
Percayalah Sahabat, sedikit hafalan yang dibaca dengan benar, tartil, dan meresap ke hati, jauh lebih berharga daripada banyak hafalan tapi “rusak” tajwidnya. Mari kita muliakan Al-Quran dengan memberikan lisan terbaik kita saat membacanya.
Daftar Referensi
- Shahih Muslim, Kitab Shalatul Musafirin wa Qashriha.
- Kitab At-Tajwid Al-Mushawwar, Syaikh Ayman Rusyd Suwaid.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

