Dalam riwayat yang disampaikan oleh Abu Ubaid, melalui Abu An-Nadhr, dari Ikrimah bin Ammar, dari Yahya bin Abi Katsir, disebutkan sebuah peristiwa yang mengundang kita untuk merenung dalam-dalam. Diceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah melewati unta-unta milik kaum Bani Mulawwih, atau Bani Musthaliq, yang tampak sangat gemuk hingga lemaknya mengental dalam air kencing mereka. Sebuah pemandangan yang menyiratkan kemewahan dan kelimpahan duniawi. Melihat hal tersebut, Rasulullah ﷺ lalu menutupi wajahnya dengan kain, kemudian melantunkan firman Allah:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia.” (QS. Thaha: 131)
Kisah ini, meski singkat, sarat dengan hikmah dan menjadi pengingat abadi bagi kita semua. Ini adalah sebuah Pelajaran Hidup dari Gemerlap Dunia dan Ayat Thaha 131 yang mestinya senantiasa terpatri dalam sanubari setiap Muslim yang merindukan keabadian. Mengapa Rasulullah ﷺ yang mulia sampai menutupi wajahnya? Sikap ini bukan sekadar tindakan fisik, melainkan isyarat mendalam tentang keengganan beliau untuk tergiur, apalagi terpukau, oleh kemewahan dunia yang fana. Beliau tidak ingin matanya terpanah oleh pesona yang sesaat, seolah mengajari kita sebuah prinsip dasar dalam menjalani hidup.
Memahami Makna “Zahratul Hayatid Dunya”: Bunga Kehidupan Dunia
Ayat yang dibacakan oleh Rasulullah ﷺ, “Zahratul Hayatid Dunya,” secara harfiah berarti “bunga kehidupan dunia.” Metafora bunga ini sungguh indah dan mengandung makna yang dalam. Bunga memang indah, menawan, dengan warna-warni yang memikat mata dan aroma yang menggoda. Namun, kita semua tahu, keindahan bunga itu sementara. Ia mekar sebentar, lalu layu, mengering, dan akhirnya mati. Demikianlah perumpamaan kehidupan dunia ini. Gemerlapnya, pesonanya, kenikmatannya, semuanya fana dan akan sirna.
Kemewahan yang dimiliki oleh Bani Mulawwih, dengan unta-unta gemuk yang melambangkan kekayaan, adalah gambaran nyata dari “bunga kehidupan dunia.” Seringkali, kita, tanpa sadar, terlalu fokus pada keindahan dan kenikmatan sesaat ini. Mata kita terlanjur terpaku, hati kita terlanjur terpikat, sehingga melupakan tujuan hakiki kita sebagai hamba Allah. Ini adalah inti dari Pelajaran Hidup dari Gemerlap Dunia dan Ayat Thaha 131: jangan sampai mata dan hati kita terhijab oleh fatamorgana yang menipu.
Bahaya Terlena oleh Kemilau Duniawi
Kecenderungan manusia untuk menyukai keindahan dan kemewahan adalah fitrah. Namun, ketika kecintaan itu melampaui batas, ia bisa menjadi racun yang mematikan jiwa. Terlena oleh gemerlap dunia dapat menjauhkan kita dari Allah, membuat hati menjadi keras, dan melupakan akhirat. Ketika kita terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain yang memiliki lebih, rasa syukur akan menghilang, digantikan oleh iri hati dan ketidakpuasan. Kita akan merasa kurang, meski telah memiliki banyak.
Padahal, Allah telah mengingatkan kita tentang hakikat kehidupan dunia ini. Dalam firman-Nya:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini semakin menguatkan Pelajaran Hidup dari Gemerlap Dunia dan Ayat Thaha 131. Dunia ini hanyalah “kesenangan yang menipu,” sebuah panggung sandiwara yang akan berakhir. Jika kita terlalu terikat padanya, kita akan kehilangan fokus pada tujuan abadi kita di akhirat.
Menguatkan Hati: Menyingkap Pelajaran Hidup dari Gemerlap Dunia dan Ayat Thaha 131
Lalu, bagaimana caranya agar kita tidak terlena? Kuncinya adalah melatih hati untuk senantiasa merasa cukup (qana’ah) dan menumbuhkan rasa syukur. Kita diajak untuk tidak memanjangkan pandangan pada kenikmatan orang lain, melainkan fokus pada apa yang telah Allah karuniakan kepada kita. Setiap rezeki, setiap nikmat, sekecil apa pun, adalah anugerah yang patut disyukuri.
Cara lain adalah dengan memperbanyak mengingat kematian dan kehidupan akhirat. Ingatan ini akan menjadi rem yang efektif bagi nafsu duniawi yang tak ada habisnya. Kita akan tersadar bahwa kemewahan yang kita kumpulkan di dunia ini tidak akan dibawa mati. Yang akan menemani kita hanyalah amal saleh dan ketakwaan.
Mari kita jadikan kisah Rasulullah ﷺ dan unta-unta gemuk itu sebagai cermin. Cermin yang memantulkan Pelajaran Hidup dari Gemerlap Dunia dan Ayat Thaha 131, mengingatkan kita untuk selalu menjaga hati agar tidak terpikat oleh keindahan dunia yang menipu. Alihkan pandangan kita dari yang fana menuju yang abadi, dari kemilau duniawi menuju cahaya ilahi.
Kisah ini juga merupakan salah satu adab bagi para penghafal Al-Qur’an dan mereka yang berinteraksi dengannya. Bahwa Al-Qur’an adalah cahaya yang menuntun kita keluar dari kegelapan fatamorgana dunia menuju hakikat kehidupan yang sebenarnya. Dengan menghafal dan memahami Al-Qur’an, kita akan memiliki benteng kokoh yang melindungi hati dari godaan duniawi, sehingga Pelajaran Hidup dari Gemerlap Dunia dan Ayat Thaha 131 senantiasa menjadi penerang jalan kita.
Jika kita ingin hidup dengan hati yang tenang, jauh dari keserakahan dan iri hati, maka menumbuhkan qana’ah adalah jalannya. Qana’ah bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menerima dengan lapang dada apa yang Allah berikan setelah kita berikhtiar semaksimal mungkin, dan tidak iri terhadap apa yang orang lain miliki. Ini adalah kebahagiaan sejati, kekayaan yang tak akan pernah habis.
Sebagai Muslim yang cerdas, mari kita prioritaskan investasi untuk akhirat. Ingatlah selalu bahwa dunia ini hanyalah ladang tempat kita menanam. Panen sejatinya ada di akhirat kelak. Jangan sampai kita sibuk menanam di ladang orang lain (membandingkan diri dengan harta orang lain) atau menanam benih yang salah (mengejar dunia semata).
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Kitab Fadhail Al-Quran Abu Ubaid, oleh Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam, halaman 115, riwayat dari Yahya bin Abi Katsir.
- Al-Qur’an Surah Thaha (20): 131
- Al-Qur’an Surah Al-Hadid (57): 20
