Al-Qur’an, kalamullah yang mulia, adalah cahaya bagi hati dan petunjuk bagi kehidupan. Setiap huruf yang kita lantunkan memiliki berkah dan pahala yang tak terhingga. Namun, lebih dari sekadar melafalkan, cara kita membaca Al-Qur’an memiliki dimensi spiritual yang mendalam, memengaruhi kualitas penghayatan dan penerimaan hati kita. Karena itu, Membaca Al-Qur’an Sesuai Sunnah Menjaga Kemurnian Hati adalah sebuah keharusan, bukan hanya demi kesempurnaan tilawah, melainkan juga demi menjaga keotentikan ajaran dan kebersihan jiwa.
Kerap kali, kita menyaksikan berbagai gaya dan intonasi dalam pembacaan Al-Qur’an. Ada yang memesona pendengaran, ada pula yang terasa ganjil, bahkan menyimpang dari tuntunan. Pertanyaannya, bagaimana seharusnya kita melantunkan ayat-ayat suci ini agar sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya? Bagaimana kita memastikan bahwa lantunan kita bukan sekadar alunan merdu tanpa makna, melainkan sebuah jembatan yang menghubungkan hati dengan firman Ilahi?
Menelusuri Kedalaman Adab Tilawah: Mengapa Cara Membaca Itu Penting?
Imam Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam, dalam kitabnya Fadha’ilul Qur’an, meriwayatkan sebuah hadits penting yang patut kita renungkan bersama. Beliau menuturkan dari Nu’aim bin Hammad, dari Baqiyyah bin Al-Walid, dari Hushain bin Malik Al-Fazari, bahwa ia mendengar seorang syekh yang dijuluki Abu Muhammad, menyampaikan dari Hudzaifah bin Al-Yaman. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اقْرَءُوا الْقُرْآنَ بِلِحُونِ الْعَرَبِ وَأَصْوَاتِهَا، وَإِيَّاكُمْ وَلِحُونَ أَهْلِ الْفِسْقِ وَأَهْلِ الْكِتَابَيْنِ، وَسَيَجِيءُ قَوْمٌ مِنْ بَعْدِي يُرَجِّعُونَ بِالْقُرْآنِ تَرْجِيعَ الْغِنَاءِ وَالرَّهْبَانِيَّةِ وَالنَّوْحِ، لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، مَفْتُونَةٌ قُلُوبُهُمْ وَقُلُوبُ الَّذِينَ يُعْجِبُهُمْ شَأْنَهُمْ»
Rasulullah ﷺ bersabda, “Bacalah Al-Qur’an dengan langgam dan suara orang-orang Arab. Jauhilah langgam orang-orang fasik dan ahli kitab. Sungguh akan datang kaum setelahku yang melantunkan Al-Qur’an dengan lantunan lagu, kerahiban, dan ratapan. (Bacaan itu) tidak melewati tenggorokan mereka. Hati mereka terfitnah dan hati orang-orang yang mengagumi mereka juga terfitnah.”
Hadits ini adalah lentera penerang bagi kita, menegaskan bahwa cara melantunkan Al-Qur’an bukanlah perkara sepele. Kita diajak untuk meniru gaya bacaan para sahabat yang merupakan penutur asli bahasa Arab, dengan intonasi yang alami, lugas, dan penuh kekhusyukan. Ini adalah fondasi pertama untuk Membaca Al-Qur’an Sesuai Sunnah Menjaga Kemurnian Hati.
Menghindari Lihun Ahlil Fisqi: Membaca Al-Qur’an Sesuai Sunnah Menjaga Kemurnian Hati
Peringatan Rasulullah ﷺ agar menjauhi ‘lihun ahlil fisqi wa ahlil kitabain’ (langgam orang-orang fasik dan ahli kitab) adalah poin krusial yang sering luput dari perhatian. Orang-orang fasik adalah mereka yang condong pada kemaksiatan dan gaya hidup hedonis, sementara ahli kitab memiliki tradisi ritual yang terkadang bercampur dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan kemurnian Islam. Mengadopsi langgam mereka dalam tilawah Al-Qur’an berarti secara tidak langsung mengadopsi semangat yang bertentangan dengan Al-Qur’an itu sendiri.
Lantunan Al-Qur’an bukan sekadar komposisi musik atau demonstrasi keindahan vokal. Ia adalah wahyu yang berisi petunjuk, peringatan, dan kabar gembira. Ketika langgam bacaan disamakan dengan nyanyian yang sarat emosi duniawi, atau ratapan yang berlebihan, esensi dari firman Allah bisa terdistorsi. Inilah mengapa Membaca Al-Qur’an Sesuai Sunnah Menjaga Kemurnian Hati menjadi semakin penting. Kita ingin hati kita tersentuh oleh keagungan firman-Nya, bukan oleh sensasi melodi yang fana.
Gaya Tilawah yang Dilarang: Ketika Lantunan Melampaui Tenggorokan
Rasulullah ﷺ juga secara spesifik mengisyaratkan akan datangnya kaum yang melantunkan Al-Qur’an dengan ‘tarji’al ghina’i war rahbaniyyati wan nauli’ (lantunan lagu, kerahiban, dan ratapan). Fenomena ini, yang kita saksikan di zaman ini, adalah salah satu bentuk penyimpangan yang dapat membahayakan kemurnian ibadah. Lantunan yang menyerupai lagu bisa menjerumuskan pendengar dan pembacanya pada fokus keindahan suara semata, melupakan pesan ilahiah di dalamnya. Gaya kerahiban, yang mungkin terlalu berlebihan dalam nada melankolis, juga bisa mengalihkan dari semangat optimisme dan keseimbangan Islam. Demikian pula ratapan, yang justru bertentangan dengan sikap rida terhadap takdir Allah.
Puncak dari peringatan ini adalah frasa ‘la yujaawizu hanajirahum, maftunah qulubuhum wa qulubul ladzina yu’jibuhum sya’nahum’ (tidak melewati tenggorokan mereka, hati mereka terfitnah dan hati orang-orang yang mengagumi mereka juga terfitnah). Ini adalah metafora yang kuat. Artinya, bacaan tersebut hanya sebatas suara, tidak sampai meresap ke dalam hati, tidak mendorong pada pemahaman, perenungan, apalagi pengamalan. Akibatnya, hati menjadi terfitnah, yaitu tersesat dari tujuan sejati tilawah Al-Qur’an. Bukan hanya hati pembaca, tapi juga hati para pengagumnya turut terfitnah, karena mereka terpesona oleh hal yang keliru dan kurang tepat.
Langkah Praktis Membaca Al-Qur’an Sesuai Sunnah Menjaga Kemurnian Hati
Lantas, bagaimana kita dapat mengimplementasikan tuntunan Nabi ﷺ ini dalam kehidupan sehari-hari? Kunci utamanya adalah kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, serta belajar dari para ulama yang memahami keduanya dengan baik. Berikut beberapa langkah praktis yang bisa kita tempuh untuk Membaca Al-Qur’an Sesuai Sunnah Menjaga Kemurnian Hati:
- Belajar Tajwid dan Tartil: Fondasi utama membaca Al-Qur’an adalah menguasai tajwid, ilmu tentang cara melafalkan huruf-huruf Al-Qur’an dengan benar. Selain itu, bacalah dengan tartil, yaitu perlahan-lahan dan jelas, seperti yang difirmankan Allah dalam surah Al-Muzzammil: 4:
- Perhatikan Langgam Asli Arab: Berusahalah untuk meniru langgam bacaan Al-Qur’an yang dikenal di kalangan Arab, yang umumnya lebih menekankan pada kejelasan huruf, panjang pendek, serta penghayatan makna, tanpa dibuat-buat atau menyerupai nyanyian populer.
- Fokus pada Makna dan Penghayatan: Tujuan utama membaca Al-Qur’an adalah untuk meresapi maknanya dan menjadikan ia sebagai pedoman hidup. Usahakan untuk memahami terjemahan dan tafsirnya. Ketika kita memahami apa yang kita baca, hati akan lebih mudah tersentuh dan terdorong untuk beramal.
- Niat Ikhlas karena Allah: Pastikan niat kita dalam membaca Al-Qur’an semata-mata untuk meraih rida Allah, bukan untuk pujian manusia atau pamer keindahan suara. Keikhlasan akan membawa berkah dan kemurnian pada setiap lantunan.
- Mengikuti Bimbingan Guru yang Kompeten: Ini adalah metode terbaik dan teraman. Seorang guru Al-Qur’an yang mumpuni tidak hanya akan mengajarkan tajwid, tetapi juga adab tilawah, serta membimbing kita agar terhindar dari kekeliruan dalam langgam dan niat.
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil (perlahan-lahan).”
Dengan mempraktikkan langkah-langkah ini, kita tidak hanya memperbaiki kualitas bacaan kita secara lahiriah, tetapi juga secara batiniah. Kita memastikan bahwa setiap ayat yang kita lantunkan benar-benar menembus hati, membersihkannya dari noda-noda duniawi, dan menjadikannya lebih dekat kepada Allah. Inilah esensi sejati dari Membaca Al-Qur’an Sesuai Sunnah Menjaga Kemurnian Hati.
Membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang agung. Mari kita laksanakan ibadah ini dengan cara terbaik yang telah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, agar keberkahannya meliputi seluruh aspek kehidupan kita. Bukan sekadar mengejar keindahan suara yang fana, melainkan merangkul keagungan makna yang abadi, menjadikan hati kita tunduk patuh pada setiap firman-Nya. Karena pada akhirnya, tujuan tilawah adalah melahirkan pribadi yang bertakwa dan berakhlak mulia, yang Al-Qur’an menjadi nafas dan detak jantung kehidupannya.
Jika Anda merasakan panggilan untuk mendalami Al-Qur’an dengan bimbingan yang komprehensif, sesuai dengan tuntunan Sunnah dan metode terbaik, Qur’an Learning Center Yogyakarta siap menjadi mitra perjalanan spiritual Anda. Bergabunglah bersama kami untuk merasakan pengalaman belajar Al-Qur’an yang transformatif dan membentuk pribadi Qur’ani yang sejati.
Daftar Referensi
- KItab Fadha’ilul Qur’an, Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam, Bab Ma Yustahabbul Qari’ Min Tahsinil Qur’an wa Tazyiinihi Bi Sawtihi, halaman 165. Link: sumber di Perpustakaan Islam Shamela
- Al-Qur’an Surah Al-Muzzammil Ayat 4
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

