Sebuah cangkir yang telah penuh takkan mampu menampung setetes pun air baru, seberapapun jernih dan menyegarkannya air itu. Begitulah perumpamaan hati dan akal yang merasa telah cukup dengan ilmu. Ia terkunci dalam keangkuhan, tertutup dari samudra hikmah yang tak bertepi. Padahal, gerbang ilmu yang sesungguhnya hanya bisa dibuka dengan satu kunci: ketawadhu’an atau kerendahan hati.
Seorang ulama salaf, Said bin Jubair, pernah mengingatkan sebuah kaidah abadi tentang hakikat seorang penuntut ilmu. Beliau berkata, “Seseorang akan senantiasa menjadi orang berilmu selama ia terus belajar. Namun, jika ia meninggalkan proses belajar dan menyangka bahwa dirinya telah cukup dengan apa yang dimiliki, maka saat itulah ia menjadi orang yang paling bodoh.” Inilah esensi dari perjalanan intelektual dan spiritual kita; ia adalah proses tanpa henti. Dan dalam proses ini, manifestasi tertinggi dari adab adalah kesediaan untuk menunjukkan kerendahan hati dalam menuntut ilmu dari siapapun, tanpa memandang status, usia, atau nasab.
Hikmah Adalah Milik Orang Beriman
Dalam tradisi keilmuan Islam, ada sebuah prinsip agung yang berbunyi, “Al-Hikmah dhallatul mu’min,” yang artinya hikmah atau ilmu itu adalah barang hilang milik orang beriman. Di mana pun ia menemukannya, ia adalah yang paling berhak untuk mengambilnya. Prinsip ini membebaskan kita dari belenggu gengsi. Ilmu tidak mengenal batasan sosial. Mutiara hikmah bisa saja kita temukan dalam ucapan seorang anak kecil, dalam pertanyaan seorang murid, atau dalam pengalaman hidup seseorang yang kita anggap berada “di bawah” kita.
Menutup diri dari sumber ilmu hanya karena ego adalah kebutaan yang kita ciptakan sendiri. Sebagaimana dilantunkan oleh seorang penyair Arab:
وليس العمى طول السؤال وإنما … تمام العمى طول السكوت على الجهل
“Kebutaan bukanlah karena terlalu banyak bertanya, sesungguhnya puncak kebutaan adalah berdiam diri terlalu lama di atas kebodohan.”
Bertanya, menyimak, dan mengambil pelajaran dari orang lain adalah tanda kehidupan akal dan jiwa. Sebaliknya, diam karena merasa lebih tahu adalah awal dari kematian intelektual.
Teladan Agung: Implementasi Kerendahan Hati dalam Menuntut Ilmu dari Siapapun
Sejarah emas peradaban Islam dipenuhi dengan kisah-kisah nyata tentang para raksasa ilmu yang mempraktikkan adab mulia ini. Mereka tidak hanya mengajarkannya, tetapi juga menjalaninya dengan sepenuh hati, memberikan teladan yang melintasi zaman.
Imam Asy-Syafi’i: Guru yang Belajar dari Muridnya
Siapa yang tidak mengenal Imam Asy-Syafi’i? Seorang mujtahid mutlak, lautan ilmu fikih dan ushul. Namun, keagungan ilmunya tidak sedikit pun menodai kerendahan hatinya. Al-Humaidi, salah seorang murid senior beliau, menuturkan sebuah kisah yang menakjubkan, “Aku menemani Imam Asy-Syafi’i dari Makkah hingga Mesir. Aku mengambil manfaat darinya dalam persoalan-persoalan fikih, dan beliau mengambil manfaat dariku dalam bidang hadits.”
Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal, murid kesayangan beliau yang juga seorang imam besar, pernah mendengar langsung dari sang guru, “Kalian (para ahli hadits) lebih mengetahui tentang hadits dan para perawinya daripada aku. Apabila ada sebuah hadits yang shahih menurut kalian, maka beritahulah aku agar aku bisa menjadikannya sebagai hujjah.” Subhanallah! Seorang guru besar meminta validasi ilmu dari muridnya. Inilah bukti nyata bahwa ilmu adalah otoritas tertinggi, dan untuk meraihnya, kita harus menanggalkan jubah kesombongan.
Rasulullah ﷺ: Puncak Ketawadhu’an dalam Ilmu
Teladan yang paling agung tentu datang dari manusia termulia, Rasulullah Muhammad ﷺ. Dalam sebuah peristiwa yang diriwayatkan oleh para sahabat, Allah SWT memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk membacakan Al-Qur’an kepada salah seorang sahabatnya, Ubay bin Ka’ab. Beliau ﷺ mendatangi Ubay dan bersabda, “Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membacakan kepadamu (surat) ‘Lam yakunilladzina kafaru’ (Al-Bayyinah).”
Para ulama menjelaskan bahwa salah satu hikmah terbesar dari peristiwa ini adalah untuk mengajarkan umatnya sebuah adab fundamental: bahwa seorang yang memiliki keutamaan (al-fadhil) tidak boleh merasa enggan atau gengsi untuk mengambil atau belajar dari orang yang dianggap di bawahnya (al-mafdhul). Jika Rasulullah ﷺ, sang penerima wahyu, saja menunjukkannya, lantas alasan apa yang kita miliki untuk merasa lebih tinggi dari orang lain?
Kisah ini, bersama dengan riwayat para sahabat yang belajar dari generasi Tabi’in, mengukuhkan sebuah prinsip: dalam majelis ilmu, yang berkuasa bukanlah status, melainkan kebenaran dan hikmah itu sendiri.
Mengapa Kerendahan Hati dalam Menuntut Ilmu dari Siapapun Sangat Penting?
Maka, pertanyaannya kini berpulang pada diri kita: mengapa adab ini begitu krusial? Pertama, ia adalah benteng pertahanan dari penyakit hati yang paling merusak, yaitu ‘ujub (kagum pada diri sendiri) dan takabbur (sombong). Dua penyakit ini menghalangi turunnya rahmat dan berkah ilmu. Kedua, ia membuka ribuan pintu hikmah yang tak terduga. Terkadang, sebuah konsep rumit yang tidak kita pahami dari puluhan kitab tebal, justru tercerahkan oleh sebuah pertanyaan sederhana dari seorang pemula.
Adab ini juga merupakan manifestasi dari spirit Al-Qur’an. Kita bisa merenungi kisah agung perjalanan Nabi Musa ‘alaihissalam saat diperintahkan Allah untuk belajar kepada seorang hamba shalih, Khidir. Nabi Musa, seorang Ulul ‘Azmi, dengan penuh kerendahan hati berkata:
قَالَ لَهٗ مُوۡسٰى هَلۡ اَتَّبِعُكَ عَلٰٓى اَنۡ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدًا
Musa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) dari apa yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?” (Q.S. Al-Kahf: 66).
Pelajaran ini begitu jelas: ilmu Allah amatlah luas, dan setiap kita hanyalah setetes air di tengah samudra-Nya. Merasa cukup berarti berhenti bertumbuh. Merasa lebih baik berarti menutup pintu kebaikan.
Pada akhirnya, kerendahan hati dalam menuntut ilmu dari siapapun bukanlah tanda kelemahan, melainkan cermin dari kekuatan jiwa dan kedalaman iman. Mari kita senantiasa mengosongkan cangkir kita, agar Allah berkenan mengisinya dengan cahaya ilmu dan hikmah-Nya, terutama cahaya Al-Qur’an yang mulia. Jadilah pribadi yang selalu haus, yang tak pernah berhenti mencari, karena di sanalah letak kemuliaan seorang pembelajar sejati.
Semoga kita semua dimampukan untuk menghiasi diri dengan adab mulia ini, sehingga ilmu yang kita pelajari, khususnya Al-Qur’an, menjadi berkah dan pemberat timbangan kebaikan di akhirat kelak. Aamiin.
Ingin merasakan perjalanan menghafal Al-Qur’an yang tidak hanya fokus pada hafalan, tetapi juga pembentukan adab dan karakter Qur’ani? Mari bergabung bersama kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta. Kami siap mendampingi Anda dalam perjalanan mulia ini.
Daftar Referensi
- Al-Yamani, Al-Husain bin Al-Mansur. Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn.
- Al-Qur’an al-Karim, Surah Al-Kahf: 66.
- Hadits tentang Rasulullah ﷺ membacakan Al-Qur’an kepada Ubay bin Ka’ab diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari (No. 4959) dan Shahih Muslim (No. 799).
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100


