Sahabat Qur’an yang hatinya semoga selalu diliputi ketenangan. Pernah tidak, rasanya darah tiba-tiba mendidih sampai ke ubun-ubun hanya karena masalah sepele? Misal, anak tidak sengaja menumpahkan susu di karpet yang baru dicuci, atau ada pengendara motor yang menyalip kita secara ugal-ugalan di jalan raya.

Seketika itu juga, dada rasanya sesak, jantung berdegup kencang seperti genderang perang, muka memerah, dan tangan gemetar ingin melampiaskan sesuatu. Rasanya ingin teriak. Ingin banting pintu. Ingin memaki.

Wajar kok kalau kita merasakan gejolak itu. Kita ini manusia, bukan robot tanpa perasaan. Emosi adalah bagian dari fitrah yang Allah titipkan. Namun, Sahabat, hati-hati. Jika tombol “meledak” itu terlalu mudah ditekan, kita sedang bermain-main dengan api yang sangat berbahaya. Sifat itu namanya Ghadhab (Pemarah).

Memegang Bara Api di Tangan Sendiri

Coba bayangkan kita sedang marah besar. Kita merasa sedang menghukum orang lain dengan kemarahan kita. Tapi sejatinya, siapa yang paling menderita?

Intinya begini, marah itu ibarat kita menggenggam bara api panas yang menyala merah untuk dilemparkan ke wajah orang lain. Sebelum orang itu terkena (atau bahkan mungkin dia tidak kena sama sekali), tangan kitalah yang hangus terbakar lebih dulu.

Kulit melepuh. Daging sakit. Luka membekas.

Lihatlah diri kita saat marah. Tekanan darah naik, imun tubuh turun, asam lambung naik. Kita meracuni tubuh kita sendiri dengan hormor stres. Belum lagi “luka” sosial yang kita buat. Piring yang pecah bisa dilem, tapi kata-kata kasar yang sudah terlanjur melukai hati istri, anak, atau kawan, apakah bisa ditarik kembali? Penyesalan selalu datang terlambat, saat “bara api” itu sudah menjadi abu yang dingin dan menyedihkan.

Siapa yang Paling Kuat di Antara Kita?

Dunia sering mendefinisikan orang kuat itu yang ototnya kawat, tulangnya besi, atau yang berani gertak orang sampai takut. Tapi Islam punya definisi yang sangat counter-intuitive (berlawanan dengan logika umum).

Rasulullah SAW, manusia dengan kecerdasan emosi tertinggi, mengajarkan bahwa pegulat terhebat bukanlah yang menang di ring tinju. Pegulat sejati adalah dia yang mampu “membanting” egonya sendiri saat amarah sedang memuncak.

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat itu bukanlah orang yang jago gulat. Orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya di kala sedang marah.” (Muttafaq ‘Alaih)

Resep Padamkan Api: Air dan Gravitasi

Lalu, bagaimana caranya menjadi “pemadam kebakaran” bagi hati sendiri? Saat emosi mulai naik, jangan dituruti. Lawan dengan logika profetik (kenabian).

1. Lawan Api dengan Air (Wudhu)

Amarah itu dari syaitan. Syaitan diciptakan dari api. Dan api tidak akan mati dikipas-kipas, ia hanya mati jika disiram air. Maka, saat marah, jangan ambil HP untuk update status. Pergilah ke kamar mandi, nyalakan keran, dan berwudhulah. Rasakan dinginnya air menyentuh wajah yang panas. Biarkan air itu mendinginkan saraf-saraf yang tegang.

2. Lawan Tinggi Hati dengan Merendah (Ubah Posisi)

Marah itu identik dengan ego yang meninggi. Maka, Rasulullah menyuruh kita melawan gravitasi ego itu. Jika marah saat berdiri, duduklah. Kalau masih marah juga? Berbaringlah. Tempelkan tubuh ke tanah.

Kenapa? Karena orang yang duduk atau berbaring lebih sulit untuk memukul atau membanting barang daripada orang yang berdiri. Ini adalah teknik psikologis yang luar biasa untuk meredam agresi.

Surga Bagi Mereka yang Menahan Diri

Sahabat Qur’an, menahan marah itu pahit rasanya. Dada terasa sesak karena harus menelan ego. Tapi ingatlah janji Allah. Kepahitan yang kita telan itu akan berbuah manis di akhirat.

Allah menjanjikan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, bukan untuk orang yang tidak pernah marah, tapi untuk “Wal kazhiminal ghaizha” (orang-orang yang menahan amarahnya). (QS. Ali Imran: 134).

Jadi, nanti kalau ada yang memancing emosi Sahabat, tarik napas dalam-dalam. Katakan pada diri sendiri: “Aku tidak mau membakar diriku sendiri.” “Aku memilih surga daripada kepuasan sesaat ini.”

Mari belajar menjadi pribadi yang teduh. Yang kehadirannya menyejukkan, bukan yang kehadirannya ditakuti karena sumbu pendeknya.

Yuk, dinginkan hati mulai sekarang.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:

Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat untuk mencetak para Hafizh dan Hafizhah dalam program unggulan Executive Tahfizh.

Website: kunjungi halaman ini

WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,