Sahabat Qur’an yang semoga rezekinya selalu cukup dan berkah. Mari kita ngobrol santai sejenak. Pernah tidak, baru saja tanggal muda, notifikasi gaji masuk berbunyi “ting-tung”, rasanya dunia milik kita. Lalu dengan semangat kita checkout keranjang belanja online yang sudah menumpuk, mampir ke kafe kekinian demi segelas kopi mahal, dan beli baju baru dengan dalih “self-reward”.
Tapi anehnya, seminggu kemudian, kita menatap dompet sambil garuk-garuk kepala. “Kemana perginya uang-uang itu? Kok cuma numpang lewat?”
Pasti rasanya sesak ya, saat keinginan hati tak sejalan dengan isi saldo. Wajar kok kalau kita ingin menikmati hasil keringat sendiri. Sangat manusiawi jika kita ingin tampil keren dan mencicipi makanan enak. Namun, Sahabat, kita perlu waspada. Jangan-jangan yang kita lakukan bukan lagi sekadar menikmati nikmat, tapi sudah terperosok ke dalam jurang Israf (Berlebih-lebihan) dan Tabzir (Pemborosan).
Gaya Hidup yang Menipu Mata
Israf itu ibarat kita makan permen kapas raksasa. Kelihatannya besar, warnanya indah, tapi begitu dimakan? Isinya cuma angin dan gula. Tidak mengenyangkan, malah bikin sakit gigi. Gaya hidup foya-foya itu melenakan. Kita merasa “wah” saat memamerkan barang branded, tapi hati kita sebenarnya kosong.
Intinya begini, Israf itu melampaui batas kewajaran. Makan boleh, tapi kalau sampai kekenyangan dan membuang sisa makanan, itu Israf. Beli baju boleh, tapi kalau lemari sudah mau meledak dan masih beli lagi hanya karena lapar mata, itu bencana.
Tanpa sadar, gaya hidup ini menjerumuskan kita pada kemiskinan—bukan hanya miskin harta karena uang habis tak bersisa, tapi miskin jiwa. Kita jadi hamba barang. Kita dinilai dari apa yang kita pakai, bukan siapa kita sebenarnya.
Saudara Dekat Syaitan
Sahabat, ini bagian yang paling menohok hati. Mungkin kita berpikir, “Ah, ini kan uangku sendiri, terserah aku dong mau bakar uang atau tidak.”
Tunggu dulu. Dalam Islam, harta itu titipan. Dan tahukah Sahabat? Allah menempatkan orang-orang yang boros (mubazir) dalam posisi yang sangat mengerikan: sebagai saudaranya syaitan. Kenapa? Karena syaitan itu ingkar nikmat, dan orang yang boros menggunakan nikmat Allah bukan untuk ketaatan, melainkan untuk kesia-siaan.
Coba renungkan ayat yang sering kita dengar namun sering kita lupakan ini:
وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا . إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra: 26-27)
Ingat Hisab: Bagasi Ringan, Jalan Cepat
Lalu, bagaimana cara mengerem nafsu belanja ini? Bayangkan kita sedang berada di bandara, hendak bepergian jauh ke negeri abadi (akhirat). Ada pemeriksaan bea cukai (Hisab) yang sangat ketat.
Semakin banyak barang (harta) yang kita bawa, semakin lama pemeriksaannya. Dari mana didapat? Untuk apa dibelanjakan? Halal atau haram?
Orang yang hidup sederhana (Qana’ah) ibarat penumpang dengan bagasi kabin yang ringkas. Pemeriksaannya cepat, jalannya ringan, dan ia segera masuk ke ruang tunggu VIP surga. Sedangkan orang yang Israf? Dia tertahan ribuan tahun hanya untuk mempertanggungjawabkan struk belanjaan yang tidak penting.
Bahagia Itu Sederhana
Sahabat Qur’an, mari kita ubah mindset kita. Kaya itu bukan saat kita bisa membeli segalanya, tapi saat kita tidak lagi menginginkan segalanya. Hiduplah sesuai kebutuhan (Need), bukan sesuai keinginan (Want).
Sebelum swipe kartu atau scan QRIS, tanyakan pada hati kecil: “Apakah ini akan mendekatkanku pada Allah, atau justru memberatkan hisabku nanti?”
Kalau jawabannya memberatkan, taruh kembali. Tahan. Simpan uangnya untuk sedekah atau tabungan masa depan.
Hidup sederhana itu menenangkan. Tidak perlu pusing memikirkan gengsi, tidak perlu stres mengejar tren. Harta cukup, hati tenang, ibadah lancar.
Yuk, kita belajar mengerem mulai hari ini. Biar dompet aman, iman pun nyaman.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat untuk mencetak para Hafizh dan Hafizhah dalam program unggulan Executive Tahfizh.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

