Setiap jiwa yang terpanggil untuk menapaki jalan ilmu seringkali dihadapkan pada persimpangan yang membingungkan. Di hadapan kita terhampar samudra pengetahuan yang seolah tak bertepi: fiqih, hadits, bahasa, ushul, dan berbagai cabang keilmuan lainnya. Semua tampak penting, semua terasa mendesak untuk dipelajari. Namun, tanpa sebuah fondasi yang kokoh dan kompas yang lurus, bangunan setinggi apa pun akan rapuh dan perjalanan sejauh apa pun bisa tersesat. Di sinilah kita perlu merenung dan meneguhkan kembali, bahwa sejatinya prioritas utama penuntut ilmu adalah Al Quran.
Al-Qur’an: Ibu dan Sumber Segala Ilmu
Dalam khazanah klasik, para ulama seperti Al-Imam Al-Husain bin Al-Mansur Billah dalam kitabnya “Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn” meletakkan sebuah kaidah emas. Beliau menegaskan bahwa langkah pertama dan utama seorang pembelajar adalah “memulai dengan Kitabullah Al-‘Aziz”. Bukan sekadar membaca, melainkan menguasainya dengan hafalan yang itqan (mutqin), serta bersungguh-sungguh mendalami tafsir dan seluruh ‘ulumul qur’an (ilmu-ilmu Al-Qur’an).
Mengapa demikian? Karena Al-Qur’an adalah ashlul ‘ulum wa ummuha wa ahammuha—pokok, induk, dan yang terpenting dari segala ilmu. Ia adalah cahaya yang menerangi cara kita memandang dunia. Ia adalah filter yang menyaring informasi, membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Tanpa pemahaman Al-Qur’an yang mendalam, mempelajari ilmu lain ibarat membangun istana di atas pasir pantai. Indah, namun sesaat dan mudah runtuh oleh gelombang keraguan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri menegaskan peran sentral kitab suci-Nya ini sebagai petunjuk yang paling lurus.
إِنَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
Artinya: “Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar.” (Q.S. Al-Isra’: 9)
Memahami bahwa Prioritas Utama Penuntut Ilmu adalah Al Quran
Menjadikan Al-Qur’an sebagai prioritas bukanlah berarti menafikan ilmu-ilmu syar’i lainnya. Justru sebaliknya, ini adalah tentang membangun sebuah kurikulum belajar yang sistematis dan diberkahi. Setelah fondasi Al-Qur’an kokoh tertanam dalam dada, barulah kita melangkah untuk menghafalkan matan-matan atau ringkasan-ringkasan penting dalam disiplin ilmu lain seperti fiqih, hadits, usuluddin, nahwu, dan sharaf.
Pola ini melahirkan penuntut ilmu yang berkarakter. Akarnya menghujam kuat pada wahyu, sementara cabang-cabangnya menjulang meraih berbagai disiplin ilmu. Ia tidak akan mudah terombang-ambing oleh pemikiran-pemikiran asing karena ia memiliki standar kebenaran yang paling hakiki di dalam jiwanya. Inilah esensi dari penegasan bahwa prioritas utama penuntut ilmu adalah Al Quran; ia menjadi pusat gravitasi yang menjaga agar seluruh planet ilmu lainnya beredar pada orbit yang benar.
Jangan Sampai Kesibukan Lain Melalaikan Al-Qur’an
Salah satu nasihat berharga dari para ulama adalah peringatan agar kesibukan mempelajari ilmu-ilmu lain tidak membuat kita lalai dari Al-Qur’an. Harus ada wirid, porsi interaksi harian atau pekanan yang tidak boleh ditinggalkan. Tilawah, muraja’ah (mengulang hafalan), dan tadabbur harus menjadi nafas kehidupan kita.
Melupakan hafalan Al-Qur’an setelah bersusah payah menghafalnya adalah sebuah kerugian besar. Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat indah dan mendalam tentang pentingnya menjaga hafalan.
إِنَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الإِبِلِ الْمُعَقَّلَةِ ، إِنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا ، وَإِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ
Artinya: “Sesungguhnya perumpamaan penghafal Al-Qur’an itu seperti pemilik unta yang terikat. Jika ia terus menjaganya, ia akan dapat menahannya. Namun, jika ia melepaskannya, maka unta itu akan pergi.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menyiratkan bahwa hafalan Al-Qur’an adalah amanah berharga yang butuh penjagaan terus-menerus. Ia adalah aset spiritual yang jika dilepaskan, akan pergi menjauh dari hati kita.
Menemukan Guru dan Menjaga Keseimbangan
Perjalanan ilmu tidak bisa ditempuh sendirian. Nasihat para salaf menekankan pentingnya berguru langsung kepada para masyaikh (guru). Mereka memperingatkan agar tidak hanya bersandar pada buku di awal perjalanan, karena ilmu butuh transmisi ruh, adab, dan pemahaman yang hanya bisa didapat dari duduk di hadapan seorang guru yang shalih, penyayang, dan ahli di bidangnya.
Pilihlah guru terbaik yang bisa kita temukan, yang paling mumpuni dalam ilmunya dan paling baik dalam metode pengajarannya. Jaga hati guru kita, karena keridhaan mereka adalah pintu keberkahan ilmu yang kita cari.
Keseimbangan: Jalan Tengah agar Prioritas Utama Penuntut Ilmu adalah Al Quran Tetap Terjaga
Terakhir, kunci dari semua ini adalah keseimbangan. Ambillah porsi hafalan dan pelajaran yang sanggup kita jalani secara konsisten. Jangan berlebihan hingga menimbulkan kebosanan, dan jangan pula terlalu sedikit hingga mengorbankan kualitas. Setiap kita memiliki kapasitas yang berbeda, dan mengenal diri sendiri adalah bagian dari adab menuntut ilmu.
Ketika kita mampu menyeimbangkan antara semangat yang membara dan kemampuan diri yang realistis, maka kita akan mendapati bahwa perjalanan ilmu ini adalah sebuah kenikmatan. Sebuah perjalanan di mana Al-Qur’an senantiasa menjadi sahabat terdekat, penunjuk jalan, dan sumber kekuatan yang tak pernah kering. Karena sekali lagi, kita telah meyakini dengan sepenuh hati bahwa prioritas utama penuntut ilmu adalah Al Quran.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing langkah kita, memberkahi setiap huruf yang kita pelajari, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya yang menerangi hidup kita di dunia hingga ke akhirat kelak. Mari luruskan niat dan mulailah dari tempat yang paling utama.
Bagi Anda yang ingin menjadikan Al-Qur’an sebagai fondasi hidup dan dipandu dalam perjalanan menghafal yang sistematis dan personal, Qur’an Learning Center Yogyakarta membuka pintu seluas-luasnya melalui program Executive Tahfizh. Mari bergabung bersama kami membangun fondasi ilmu yang paling kokoh.
Daftar Referensi
- Al-Qur’an, Surah Al-Isra’: 9.
- Hadits Riwayat Bukhari No. 5031 dan Muslim No. 789.
- Al-Husain bin Al-Mansur Billah, Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100


