Ada sebuah getaran semangat yang meluap-luap di awal perjalanan kita mendalami samudra ilmu agama. Rasanya, kita ingin segera melahap semua kitab, memahami setiap perdebatan, dan menguasai segala cabang pengetahuan. Namun, di tengah euforia itu, tersembunyi sebuah jebakan halus yang seringkali tidak disadari. Jebakan ini adalah ketika kita, para penuntut ilmu pemula, terlalu cepat menyelami lautan perbedaan pendapat para ulama. Tanpa kita sadari, inilah salah satu inti dari bahaya terburu-buru belajar perbedaan pendapat ulama yang justru bisa memadamkan cahaya semangat kita.

Jebakan Euforia: Mengapa Ikhtilaf Terlihat Menggiurkan?

Perbedaan pendapat atau ikhtilaf di kalangan para cendekiawan muslim adalah sebuah keniscayaan dan rahmat. Ia menunjukkan betapa luas dan dinamisnya pemahaman terhadap nash-nash syar’i. Namun, bagi jiwa yang baru mulai belajar, lanskap perbedaan ini bisa menjadi labirin yang membingungkan. Mengapa ia begitu menarik? Karena mendiskusikan perbedaan pendapat seringkali terasa “intelektual” dan membuat kita merasa seolah-olah sudah berada di level yang tinggi. Kita merasa lebih berilmu ketika mampu menyitir, “Menurut mazhab Syafi’i begini, tapi menurut mazhab Hanafi begitu.” Padahal, fondasi dari masing-masing pendapat itu belum kita miliki sama sekali.

Tanpa bekal yang cukup, pikiran kita akan terombang-ambing. Alih-alih mendapatkan pencerahan, yang terjadi adalah kebingungan. Kitab Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn karya al-Husain bin al-Mansur al-Yamani memberikan sebuah nasihat emas yang sangat relevan. Beliau mengingatkan agar seorang penuntut ilmu di awal perjalanannya menjauhkan diri dari kesibukan mendalami perbedaan pendapat, baik di antara ulama maupun di antara manusia secara umum. Mengapa? “Sebab hal itu akan membingungkan akal dan mengacaukan pikiran.”

Nasihat Emas Ulama: Fokus, Satu Arah, Hingga Kokoh

Lalu, apa jalan keluarnya? Para ulama salaf telah meletakkan sebuah metode belajar yang teruji oleh zaman, yaitu membangun fondasi yang kokoh terlebih dahulu. Ini bukan berarti menutup diri dari kekayaan khazanah Islam, melainkan menapaki anak tangga ilmu satu per satu dengan kesabaran dan fokus. Ini adalah antitesis dari bahaya terburu-buru belajar perbedaan pendapat ulama.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, mengingatkan kita untuk tidak melangkah ke wilayah yang belum kita kuasai ilmunya:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. Al-Isra’: 36).

Ayat ini menjadi pengingat lembut bahwa setiap langkah dalam berilmu harus didasari oleh pengetahuan yang mapan, bukan sekadar ikut-ikutan atau asumsi yang rapuh.

Kuasai Satu Kitab, Satu Fan Ilmu

Nasihat dari kitab Ādāb al-‘Ulamā’ sangatlah praktis: “Hendaklah ia memantapkan terlebih dahulu satu kitab dalam satu cabang ilmu.” Bayangkan kita sedang membangun sebuah rumah. Apakah kita akan memasang jendela dan atap sebelum fondasi dan tiang pancangnya berdiri tegak? Tentu tidak. Begitu pula dalam menuntut ilmu. Kuasai satu bidang dasar—misalnya akidah, atau tajwid, atau ushul fiqh—dari satu kitab rujukan yang direkomendasikan oleh guru yang terpercaya. Curahkan seluruh perhatian dan energi kita hingga kita benar-benar memahaminya.

Melompat dari satu kitab ke kitab lain tanpa menyelesaikan yang pertama adalah tanda kebosanan dan ciri kegagalan. Ini menguras waktu dan memecah belah konsentrasi. Fokus pada satu hal hingga tuntas akan memberikan rasa pencapaian, kepercayaan diri, dan yang terpenting, pemahaman yang mendalam dan mengakar.

Mewaspadai Bahaya Terburu-buru Belajar Perbedaan Pendapat Ulama dari Guru yang Ragu

Peran seorang guru (syekh) menjadi sangat krusial di tahap ini. Seorang guru yang bijak akan memberikan kita satu jalur yang lurus dan jelas untuk diikuti pada fase awal. Kitab tersebut bahkan mengutip perkataan Imam Al-Ghazali yang mengingatkan kita untuk berhati-hati jika metode seorang guru hanya menukil berbagai pendapat tanpa memiliki satu pandangan yang kuat untuk dipegangi oleh muridnya. Mengapa? “Karena bahayanya lebih besar daripada manfaatnya.” Seorang pemula membutuhkan jangkar, bukan badai. Ia butuh pegangan yang kokoh, bukan pilihan-pilihan yang membuatnya gamang.

Membangun Fondasi Sebelum Menara: Analogi Sederhana

Mari kita bayangkan ilmu itu laksana sebuah bangunan megah. Kitab-kitab dasar dalam setiap fan ilmu adalah fondasinya. Mempelajari dan menguasainya hingga mutqin (kokoh) ibarat menanam pilar-pilar utama bangunan. Adapun mempelajari perbedaan pendapat ulama adalah ibarat membangun lantai-lantai atas, menghias interior, dan memahami seluk-beluk arsitektur yang kompleks.

Apa yang terjadi jika kita langsung sibuk memilih warna cat dan desain interior (baca: ikhtilaf) sementara fondasinya belum ada? Bangunan itu tidak akan pernah berdiri. Inilah gambaran paling nyata dari bahaya terburu-buru belajar perbedaan pendapat ulama. Kita mungkin tahu banyak potongan informasi, tetapi kita tidak memiliki kerangka untuk menyatukannya menjadi sebuah pemahaman yang utuh.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Artinya: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan pahamkan ia dalam urusan agama.”

Kata yufaqqihhu (memahamkan) berasal dari kata fiqh, yang berarti pemahaman mendalam. Pemahaman mendalam ini tidak lahir dari pengetahuan yang tercerai-berai, melainkan dari proses belajar yang sistematis, bertahap, dan fokus pada fondasi.

Lalu, Kapan Waktu yang Tepat Mendalami Khilafiyah?

Nasihat ini bukan untuk melarang kita belajar ikhtilaf selamanya. Tentu tidak. Mempelajari luasnya pendapat para ulama adalah fase penting untuk menumbuhkan sikap toleran, kebijaksanaan, dan kedalaman ilmu. Namun, ia memiliki waktunya sendiri. Waktu yang tepat adalah ketika fondasi kita sudah kokoh. Ketika kita sudah menguasai dalil-dalil dasar, kaidah-kaidah ushul, dan metodologi istinbath hukum dari satu mazhab atau satu manhaj yang kita pegangi. Saat itulah, pikiran kita telah siap untuk bernavigasi di lautan ikhtilaf tanpa tenggelam dalam kebingungan. Dengan bekal yang cukup, kita akan mampu memahami alasan di balik setiap perbedaan dan menimbangnya dengan neraca ilmu yang adil.

Penutup: Kembali ke Titik Awal

Mari kita sejenak merenung dan mengevaluasi kembali jalan kita dalam menuntut ilmu. Apakah kita sudah terlalu jauh berlayar ke tengah samudra sementara perahu kita masih rapuh? Jika iya, tidak ada kata terlambat untuk kembali ke pantai, memperkuat perahu kita dengan menguasai dasar-dasar ilmu. Hindarilah bahaya terburu-buru belajar perbedaan pendapat ulama. Sabar dalam menapaki jenjang ilmu adalah kunci keberkahan dan kemantapan. Fokuslah pada satu hal, kuasai hingga tuntas, baru kemudian melangkah ke jenjang berikutnya. Semoga Allah memberikan kita taufik dan pemahaman yang mendalam dalam agama-Nya.

Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami percaya bahwa perjalanan menghafal dan memahami Al-Qur’an harus dimulai dengan fondasi yang benar. Metode yang kami terapkan dirancang untuk membangun pemahaman yang kokoh secara bertahap, membimbing Anda langkah demi langkah hingga sampai pada tujuan dengan izin Allah.

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an, Surah Al-Isra’: 36.
  • Al-Qur’an, Surah An-Nahl: 43.
  • Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
  • Al-Yamani, Al-Husain bin Al-Mansur. Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri