Dalam bentangan sejarah peradaban Islam, kita senantiasa disuguhi pelajaran berharga tentang pentingnya persatuan. Allah SWT telah menganugerahkan kepada kita sebuah tali yang sangat kuat, yaitu Islam, yang seharusnya menjadi pengikat hati dan pikiran setiap mukmin. Namun, tak jarang kita menyaksikan fenomena yang mengikis kekuatan tali tersebut, yaitu ashabiyah atau fanatisme golongan. Ashabiyah adalah sikap keberpihakan yang berlebihan terhadap kelompok, suku, mazhab, atau pandangan tertentu, hingga mengesampingkan kebenaran dan persaudaraan yang lebih luas.

Sikap ini bukan sekadar preferensi, melainkan sebuah loyalitas buta yang seringkali membuat kita enggan menerima pandangan yang berbeda, bahkan jika pandangan tersebut lebih dekat kepada kebenaran. Ia seperti embun beku yang menutupi cermin hati, menghalangi kita melihat hakikat ukhuwah Islamiyah yang sejati.

Memahami Akar Ashabiyah dalam Perspektif Islam

Definisi Ashabiyah: Loyalitas Buta

Secara bahasa, ashabiyah berasal dari kata ‘ashaba yang berarti mengikat atau mengumpulkan. Dalam konteks Islam, ashabiyah merujuk pada sikap fanatisme atau primordialisme yang menempatkan kepentingan golongan di atas segalanya, bahkan mengabaikan keadilan dan kebenaran yang universal. Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kita akan bahaya ashabiyah, menyebutnya sebagai seruan jahiliyah yang tidak pantas ada dalam diri seorang muslim.

Loyalitas buta ini mendorong individu atau kelompok untuk membela sesamanya, baik dalam kebenaran maupun kebatilan. Ketika kebenaran disembunyikan demi membela kelompok, di situlah letak kerusakan yang nyata. Ashabiyah menjadikan kita cenderung melihat kekurangan kelompok lain dan menutup mata terhadap kelemahan kelompok sendiri, menciptakan tembok-tembok tak kasat mata yang memisahkan hati.

Sejarah dan Konteks Awal

Ashabiyah bukanlah fenomena baru. Ia telah ada sejak zaman jahiliyah, di mana kesukuan dan fanatisme kabilah menjadi landasan utama interaksi sosial. Kedatangan Islam oleh Rasulullah ﷺ adalah untuk meruntuhkan sekat-sekat jahiliyah ini dan menggantinya dengan persaudaraan iman. Namun, benih-benih ashabiyah seringkali muncul kembali dalam berbagai bentuk, mencoba merobek jalinan ukhuwah yang telah dibangun dengan susah payah.

Mulai dari perbedaan pandangan politik, mazhab fikih, hingga afiliasi organisasi, ashabiyah dapat menyusup dan meracuni hati jika kita tidak berhati-hati. Kita harus selalu mawas diri agar tidak terjebak dalam pusaran fanatisme yang sempit, yang hanya akan membawa kita pada perpecahan dan kelemahan.

Bahaya Ashabiyah: Merobek Tenun Ukhuwah Islamiyah

Melemahkan Persatuan Umat

Ukhuwah Islamiyah adalah fondasi kekuatan umat. Ketika setiap individu dan kelompok bersatu dalam bingkai iman, umat Islam akan menjadi kekuatan yang disegani dan mampu mengatasi berbagai tantangan. Ashabiyah, sebaliknya, adalah faktor utama yang melemahkan persatuan ini. Ia menciptakan perpecahan, saling curiga, dan permusuhan antar sesama muslim, bahkan karena isu-isu kecil yang seharusnya bisa disikapi dengan bijak.

Ketika fokus kita beralih dari persatuan umat kepada kemenangan golongan semata, kita kehilangan esensi dari ajaran Islam yang mengedepankan solidaritas dan kebersamaan. Dampaknya, energi umat terkuras untuk saling berseteru, bukan untuk berjuang bersama menegakkan kebenaran.

Memicu Konflik dan Permusuhan

Sejarah telah mencatat, banyak konflik dan pertumpahan darah terjadi akibat ashabiyah. Ketika fanatisme menguasai akal sehat, dialog menjadi sulit, toleransi menipis, dan kekerasan menjadi solusi. Perpecahan tidak hanya merugikan kelompok yang bertikai, tetapi juga seluruh umat Islam. Ia menciptakan citra negatif tentang Islam yang seharusnya menjadi agama rahmatan lil ‘alamin.

Kita sering melihat bagaimana perbedaan pandangan dalam hal-hal furu’iyah (cabang) bisa memicu perdebatan sengit dan bahkan permusuhan, padahal dalam masalah-masalah ushuliyah (pokok) kita semua sepakat. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita, untuk kembali merajut kebersamaan di atas landasan tauhid yang kokoh.

Menghalangi Kebenaran dan Keadilan

Sikap fanatik membuat kita buta terhadap kebenaran. Ketika kelompok kita melakukan kesalahan, ashabiyah mendorong kita untuk membela tanpa dasar, bahkan memutarbalikkan fakta demi mempertahankan citra kelompok. Ini adalah pengkhianatan terhadap prinsip keadilan yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini dengan tegas memerintahkan kita untuk senantiasa berlaku adil, bahkan kepada orang atau kelompok yang tidak kita sukai sekalipun. Keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu, bukan berdasarkan afiliasi golongan.

Seruan Al-Qur’an dan Sunnah untuk Persatuan

Al-Qur’an dan Sunnah adalah panduan utama kita dalam menghadapi segala persoalan, termasuk dalam menjaga ukhuwah. Keduanya secara gamblang menyeru kita kepada persatuan dan melarang perpecahan. Allah SWT berfirman:

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءًۭ فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًۭا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍۢ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Artinya: “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali Imran: 103)

Ayat ini adalah seruan yang sangat jelas untuk bersatu dan larangan tegas untuk berpecah belah. Persatuan adalah nikmat besar dari Allah yang harus kita jaga. Rasulullah ﷺ juga bersabda dalam sebuah hadits:

Tidaklah beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

Hadits ini menunjukkan betapa dalamnya makna persaudaraan dalam Islam. Kecintaan kepada sesama muslim adalah indikasi kesempurnaan iman. Fanatisme golongan justru akan mencabut rasa cinta ini dari hati kita.

Strategi Praktis Membangun Ukhuwah Sejati

Kembali pada Sumber Utama: Al-Qur’an dan Sunnah

Untuk menghindari ashabiyah, kita harus senantiasa kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman utama. Keduanya adalah sumber kebenaran yang tak terbantahkan, yang akan membimbing kita pada pemahaman yang lurus tentang ukhuwah. Dengan mendalami keduanya, kita akan menemukan bahwa esensi ajaran Islam adalah persatuan, bukan perpecahan.

Fokus pada nilai-nilai universal Islam seperti tauhid, keadilan, kasih sayang, dan tolong-menolong akan membantu kita melampaui sekat-sekat golongan.

Mengedepankan Toleransi dan Saling Memahami

Toleransi bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan. Mampu memahami sudut pandang yang berbeda, bahkan jika kita tidak sepenuhnya setuju, adalah tanda kedewasaan spiritual. Dengan toleransi, kita membuka ruang dialog dan musyawarah, mencari titik temu daripada memperuncing perbedaan. Ini adalah akhlak mulia yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

Memupuk Rasa Persaudaraan Sesama Muslim

Ukhuwah Islamiyah harus dipupuk seperti merawat tanaman. Saling mengunjungi, berbagi, mendoakan, dan membantu sesama muslim adalah praktik-praktik yang akan mempererat tali persaudaraan. Kita adalah satu tubuh, jika satu bagian sakit, yang lain akan merasakan sakitnya. Ini adalah gambaran indah yang diajarkan Nabi ﷺ.

Fokus pada Persamaan, Bukan Perbedaan

Ketika kita terlalu fokus pada perbedaan, kita akan mudah terpecah belah. Namun, ketika kita fokus pada persamaan, yaitu akidah yang sama, Tuhan yang satu, Nabi yang sama, dan Kitab yang sama, maka persatuan akan lebih mudah terwujud. Perbedaan dalam masalah-masalah furu’iyah adalah rahmat, asalkan disikapi dengan bijak dan tidak menjadi pemicu perpecahan.

Manfaat Ukhuwah: Kekuatan Umat yang Hakiki

Keberkahan dalam Persatuan

Ketika umat bersatu, keberkahan Allah akan tercurah. Pekerjaan yang dilakukan bersama akan lebih ringan dan hasilnya lebih besar. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang bersatu dalam ketaatan dan berjuang bersama di jalan-Nya.

Kekuatan Menghadapi Tantangan

Tantangan yang dihadapi umat Islam di era modern ini tidaklah ringan. Mulai dari serangan pemikiran, disinformasi, hingga upaya-upaya untuk memecah belah umat. Hanya dengan persatuan yang kokoh, kita akan mampu menghadapi dan mengatasi berbagai tantangan tersebut dengan gagah berani.

Menciptakan Masyarakat Madani

Ukhuwah yang kuat akan menciptakan masyarakat yang madani, masyarakat yang ideal seperti yang pernah terwujud di Madinah pada masa Rasulullah ﷺ. Masyarakat yang damai, adil, sejahtera, dan saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Inilah cita-cita besar Islam yang harus kita perjuangkan bersama.

Mari kita renungkan kembali betapa berharganya ukhuwah Islamiyah ini. Jangan biarkan ashabiyah merobek tenun persatuan yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Jadikanlah Al-Qur’an dan Sunnah sebagai kompas yang membimbing kita pada persatuan sejati, membangun kekuatan umat yang tak tergoyahkan. Setiap langkah kita dalam mempererat tali persaudaraan adalah investasi berharga di sisi Allah, yang akan berbuah kebaikan di dunia dan akhirat.

Jika kita ingin mendalami Al-Qur’an sebagai pedoman utama untuk membangun ukhuwah dan menguatkan iman, kami mengundang Anda untuk bergabung dengan Qur’an Learning Center Yogyakarta. Di sana, Anda akan menemukan lingkungan yang kondusif untuk memahami, menghafal, dan mengamalkan nilai-nilai luhur Al-Qur’an, yang akan membimbing kita menuju persatuan dan keberkahan.

Daftar Referensi

  • Q.S. Al-Ma’idah: 8
  • Q.S. Ali Imran: 103
  • H.R. Bukhari dan Muslim (tentang mencintai saudara)

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,