Dalam perjalanan spiritual seorang Muslim, membaca Al-Qur’an adalah salah satu amalan agung yang sarat pahala dan keberkahan. Namun, adakalanya kita terlena, tanpa sadar terjebak dalam pusaran godaan duniawi yang mengikis nilai-nilai keikhlasan. Mengapa seseorang yang bertanya tentang kuantitas bacaan Al-Qur’an justru mendapati kemarahan dari seorang sahabat Nabi, Tamim Ad-Dari? Kisah ini memberikan pelajaran mendalam tentang etika menyembunyikan bacaan Al-Qur’an dari pameran diri.

Sesungguhnya, inti dari setiap ibadah, termasuk membaca dan menghafal Al-Qur’an, terletak pada keikhlasan niat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan juga supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Ayat ini menegaskan bahwa setiap amal ibadah harus dilandasi oleh niat yang tulus semata-mata mengharapkan ridha Allah. Ketika niat kita tercampur dengan keinginan untuk dipuji, dihormati, atau diakui oleh manusia, di sinilah riya’ mulai menyusup, merusak kemurnian ibadah.

Hakikat Keikhlasan dan Bahaya Riya’

Keikhlasan adalah permata yang paling berharga dalam hati seorang hamba. Ia adalah fondasi yang kokoh bagi setiap amal shaleh, menjadikannya diterima di sisi Allah. Sebaliknya, riya’, yang berarti melakukan ibadah agar dilihat dan dipuji manusia, adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Ia ibarat rayap yang menggerogoti pahala, meninggalkan amal tanpa bobot di hadapan Sang Pencipta.

Kisah tentang Tamim Ad-Dari ini menjadi cerminan nyata. Ketika seorang pria bertanya kepadanya, “Berapa juz Al-Qur’an yang engkau baca?”, Tamim Ad-Dari justru marah. Bukan karena ia tidak suka ditanya, melainkan karena ia melihat potensi riya’ dalam pertanyaan itu, atau khawatir pertanyaan itu akan memicu riya’ dalam hatinya atau hati orang yang bertanya. Beliau sadar betul akan bahaya meremehkan etika menyembunyikan bacaan Al-Qur’an dari pameran diri.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُثْمَانَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ، عَنِ الْجُرَيْرِيِّ، عَنْ أَبِي الْعَلَاءِ، عَنْ رَجُلٍ، قَالَ: أَتَيْتُ تَمِيمًا الدَّارِيَّ فَحَدَّثَنَا سَاعَةً، حَتَّى اسْتَأْنَسْتُ إِلَيْهِ، فَقُلْتُ: كَمْ جُزْءًا تَقْرَأُ الْقُرْآنَ؟ فَغَضِبَ وَقَالَ: لَعَلَّكَ مِنَ الَّذِينَ يَقْرَأُ أَحَدُهُمُ الْقُرْآنَ فِي لَيْلَةٍ، ثُمَّ يُصْبِحُ فَيَقُولُ: قَرَأْتُ الْقُرْآنَ اللَّيْلَةَ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لِأَنْ أُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ نَافِلَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ فِي لَيْلَةٍ ثُمَّ أُصْبِحُ فَأَقُولُ: قَرَأْتُ الْقُرْآنَ اللَّيْلَةَ.

Ahmad bin Uthman meriwayatkan kepada kami, dari Abdullah bin Al-Mubarak, dari Al-Jurairi, dari Abi Al-Ala’, dari seorang laki-laki yang berkata: ‘Aku mendatangi Tamim Ad-Dari, lalu ia berbicara kepada kami sesaat sampai aku merasa nyaman dengannya. Maka aku bertanya: ‘Berapa juz Al-Qur’an yang engkau baca?’ Ia pun marah dan berkata: ‘Mungkin engkau termasuk orang-orang yang salah seorang dari mereka membaca Al-Qur’an dalam satu malam, kemudian di pagi hari ia berkata: ‘Aku telah membaca Al-Qur’an tadi malam.’ Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku shalat empat rakaat sunnah lebih aku cintai daripada aku membaca Al-Qur’an dalam satu malam kemudian di pagi hari aku berkata: ‘Aku telah membaca Al-Qur’an tadi malam.”

Reaksi Tamim Ad-Dari sungguh luar biasa. Beliau lebih mencintai empat rakaat shalat sunnah yang murni dan tersembunyi daripada mengkhatamkan Al-Qur’an semalam suntuk namun kemudian menceritakannya kepada orang lain. Ini menunjukkan betapa tinggi nilai amal yang dilakukan semata-mata karena Allah, tanpa embel-embel pengakuan manusia.

Praktik Menyembunyikan Amal Kebaikan

Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali tergoda untuk menceritakan amal kebaikan kita, entah itu membaca Al-Qur’an, bersedekah, atau berpuasa. Namun, Islam mengajarkan kita untuk menjaga amal-amal tersebut sebagai rahasia antara kita dan Allah. Menyembunyikan amal memiliki banyak hikmah, salah satunya adalah menjauhkan kita dari penyakit riya’ dan ujub (bangga diri). Dengan demikian, kita dapat lebih fokus pada kualitas ibadah dan kedekatan dengan Allah, daripada berburu pujian fana dari sesama makhluk.

Inilah esensi dari etika menyembunyikan bacaan Al-Qur’an dari pameran diri. Bukan berarti kita tidak boleh menginspirasi orang lain dengan kebaikan, namun niat dasar kita haruslah murni karena Allah. Inspirasi itu akan datang dengan sendirinya melalui akhlak dan keberkahan hidup, bukan karena pengumuman atau pameran diri.

Prioritas Kualitas di Atas Kuantitas

Pelajaran lain yang bisa kita petik dari kisah Tamim Ad-Dari adalah tentang prioritas. Beliau tidak menolak membaca Al-Qur’an, namun beliau menegaskan bahwa kualitas keikhlasan jauh lebih berharga daripada kuantitas yang dipamerkan. Seringkali, kita terjebak dalam perlombaan kuantitas: berapa juz yang sudah dibaca, berapa kali khatam, berapa banyak hafalan. Padahal, yang terpenting adalah seberapa dalam hati kita terhubung dengan firman Allah, seberapa kuat tadabbur kita terhadap maknanya, dan seberapa besar pengaruhnya dalam membentuk karakter dan perilaku kita sehari-hari.

Bagi para penghafal Al-Qur’an atau mereka yang rutin membaca Al-Qur’an, poin ini menjadi sangat krusial. Hafalan yang banyak atau bacaan yang sering, jika tidak dibarengi dengan keikhlasan dan tadabbur, bisa jadi hanya sebatas lisan tanpa menyentuh hati. Marilah kita senantiasa memperbaiki niat dan memfokuskan diri pada kualitas, seraya mempraktikkan etika menyembunyikan bacaan Al-Qur’an dari pameran diri.

Dengan meneladani semangat keikhlasan dan menjauhi riya’, kita tidak hanya akan meraih pahala yang utuh di sisi Allah, tetapi juga merasakan ketenangan batin yang hakiki. Amalan yang tersembunyi akan menjadi rahasia indah antara kita dan Rabb semesta alam, menumbuhkan rasa syukur dan kedekatan yang mendalam.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing hati kita untuk selalu ikhlas dalam setiap amal, menjaga lisan dari kesombongan, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya penerang jalan kita. Mari kita terus meniti jalan kebaikan, berjuang etika menyembunyikan bacaan Al-Qur’an dari pameran diri.

Jika Anda mendambakan bimbingan intensif dalam menghafal Al-Qur’an dengan metode yang mengutamakan pemahaman dan keikhlasan, Qur’an Learning Center Yogyakarta siap menjadi mitra perjalanan spiritual Anda. Bergabunglah bersama kami, dan rasakan atmosfer belajar yang kondusif untuk membentuk pribadi penghafal Al-Qur’an yang berkarakter mulia.

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an Surat Al-Bayyinah Ayat 5
  • Kitab Adabul Mufrad Imam Bukhari, Bab: Kitman Qira’atil Qur’an. Riwayat dari Tamim Ad-Dari melalui sanad Ahmad bin Uthman dari Abdullah bin Al-Mubarak dari Al-Jurairi dari Abi Al-Ala’ dari seorang laki-laki.

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,