Mukadimah: Syukur dan Selawat

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada nabi paling mulia, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya semua.”

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala yang telah mempertemukan kita kembali dengan bulan suci Ramadhan, bulan penuh ampunan dan keberkahan. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada teladan abadi kita, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang telah mengajarkan kita keluhuran budi pekerti dalam setiap ucapan dan perbuatan.

Ujian Kesabaran di Balik Layar Kaca

Hadirin yang dirahmati Allah, puasa bukan sekadar memindahkan jam makan, melainkan melatih kejujuran dan pengendalian diri. Di era digital ini, lisan kita telah berpindah ke ujung jari. Apa yang kita ketik, kita bagikan (share), dan kita komentari adalah representasi dari kualitas puasa kita.

Salah satu penyakit hati yang paling berbahaya di media sosial adalah menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya atau hoaks. Allah Subhanahu Wata’ala memberikan peringatan tegas dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohanmu.”

Bahaya Berdusta Atas Nama Informasi

Hadirin sekalian, seringkali kita merasa “berjasa” karena menjadi orang pertama yang menyebarkan info di grup keluarga atau media sosial, padahal info tersebut adalah dusta. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda dalam hadis sahih:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dikatakan pendusta apabila ia menceritakan (menyebarkan) setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Bayangkan jika di siang hari bulan Ramadhan, saat perut kita kosong demi mengharap rida Allah, namun jari kita sibuk membagikan fitnah atau informasi palsu yang memecah belah umat. Pahala puasa kita bisa hilang tak bersisa, hanya menyisakan lapar dan dahaga yang sia-sia.

Kisah Ketelitian Sahabat: Pentingnya Tabayyun

Dahulu, para sahabat Nabi sangat berhati-hati dalam menyampaikan satu kalimat saja. Dikisahkan bagaimana Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sangat tegas dalam memverifikasi setiap perkataan. Beliau tidak akan menerima sebuah informasi kecuali ada saksi atau bukti yang kuat.

Jika Umar sangat teliti terhadap informasi yang disampaikan langsung secara lisan, betapa lebih harus berhati-hatinya kita di zaman ini, di mana sebuah hoaks bisa menyebar ke jutaan orang hanya dalam hitungan detik (viral). Jejak digital kita akan menjadi saksi di hari kiamat nanti.

Etika Digital: Saring Sebelum Sharing

Mari kita terapkan prinsip “Saring Sebelum Sharing” sebagai bagian dari ibadah puasa kita. Jika mendapatkan sebuah informasi yang memancing emosi atau terlihat janggal, diamkanlah sejenak. Jika ragu, jangan bagikan. Diamnya kita dari menyebarkan hoaks adalah sedekah bagi diri kita dan orang lain.

Gunakanlah media sosial sebagai sarana dakwah yang menyejukkan, menyebarkan kutipan ayat suci, pengingat waktu shalat, atau kata-kata motivasi yang membangun semangat ibadah saudara kita yang lain.

Kesimpulan dan Doa Penutup

Sebagai kesimpulan, mari kita jaga kesucian bulan Ramadhan ini dengan menjaga etika bermedia digital. Jadikan jempol kita sebagai wasilah (perantara) masuk surga, bukan sarana penggugur pahala. Berhentilah menjadi agen penyebar hoaks dan mulailah menjadi pembawa kedamaian di dunia maya.

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu adalah benar dan berikanlah kami kekuatan untuk mengikutinya, serta tunjukkanlah bahwa yang salah itu adalah salah dan berikanlah kami kekuatan untuk menjauhinya.”

Demikian yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf atas segala khilaf dalam ucapan. Semoga Allah meridai setiap langkah dan ketukan jari kita di jalan kebaikan.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Karantina Tahfidz Quran Jogja
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,