Pernahkah Anda merasa bahwa dunia saat ini bergerak begitu cepat, penuh ketidakpastian, dan seolah kehilangan kompas moralnya? Bagi banyak pengamat eskatologi Islam, fenomena ini bukanlah kebetulan. Kita diyakini sedang berada di salah satu fase paling kritis dalam sejarah umat manusia: Mulkan Jabariyan.
Apa Itu Fase Mulkan Jabariyan?
Dalam nubuwat Rasulullah SAW, sejarah kepemimpinan umat Islam terbagi dalam lima fase. Saat ini, mayoritas ulama berpendapat kita berada di fase keempat, yaitu Mulkan Jabariyan (Era Pemimpin yang Memaksakan Kehendak). Ini adalah masa di mana kekuasaan seringkali tidak berpihak pada rakyat atau nilai-nilai agama, melainkan pada kepentingan materialistik dan dominasi politik yang kaku. Secara geopolitik, fenomena ini ditandai oleh kondisi yang sedang mencengkeram dunia Islam.
تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ
“Zaman kenabian akan ada bersama kalian selama Allah menghendaki… kemudian akan ada Khilafah atas manhaj kenabian… kemudian akan ada kerajaan yang menggigit (Mulkan ‘Adhan)… kemudian akan ada kerajaan yang memaksakan kehendak (Mulkan Jabariyan)… kemudian akan ada kembali Khilafah atas manhaj kenabian. Kemudian beliau diam.” (HR. Ahmad)
Fenomena Al-Wahn: Kuantitas Tanpa Kualitas
Rasulullah SAW pernah mengibaratkan umat Islam di akhir zaman seperti buih di lautan. Jumlahnya sangat banyak (mencapai miliaran), namun tidak memiliki bobot atau posisi tawar di mata dunia. Penyebab utamanya adalah penyakit Al-Wahn, yaitu rasa cinta dunia yang berlebihan dan ketakutan akan kematian. Kondisi ini membuat umat cenderung terfragmentasi dan mudah diadu domba karena lebih mengejar kemaslahatan jangka pendek daripada prinsip yang kokoh.
Dalam sejarah, kita diingatkan pada kisah Shalahuddin Al-Ayyubi yang tidak memenangkan Yerusalem hanya dengan jumlah pasukan, melainkan dengan kualitas iman dan penyatuan hati umat yang saat itu juga sedang terpecah belah. Beliau menyadari bahwa selama penyakit Al-Wahn masih bercokol di dada kaum muslimin, maka kemenangan hanyalah angan-angan belaka.
Fitnah Duhaima: Kabut Gelap yang Membingungkan
Dunia informasi saat ini sedang dilanda apa yang disebut Fitnah Duhaima. Ini adalah fitnah yang masuk ke setiap rumah melalui layar-layar digital. Ciri utamanya adalah kebenaran bercampur dengan kebatilan hingga sulit dibedakan. Seseorang bisa beriman di pagi hari dan menjadi kafir di sore hari karena lisan atau jempolnya di media sosial. Polarisasi ekstrem, hoaks yang masif, dan hilangnya rasa hormat terhadap ulama yang lurus, membuat umat kehilangan pegangan dalam mengambil keputusan besar.
Ulama terdahulu seperti Imam Ahmad bin Hanbal menunjukkan keteguhan luar biasa saat menghadapi fitnah Al-Quran adalah makhluk (Mihnah). Beliau tetap teguh meskipun harus dipenjara dan disiksa. Di zaman Mulkan Jabariyan ini, kita membutuhkan keteguhan serupa untuk menyaring informasi agar tidak tersesat dalam gelapnya fitnah akhir zaman yang menghantam setiap lini kehidupan.
Pengepungan Ekonomi dan Sumber Daya
Secara sistematis, negeri-negeri Muslim yang kaya akan sumber daya alam (minyak, gas, emas) justru seringkali berada dalam kondisi ketergantungan. Penguasaan ekonomi melalui sistem keuangan global dan sanksi internasional membuat kemandirian ekonomi umat Islam seringkali terhambat. Kita melihat bagaimana distribusi kekayaan dunia tidak merata, di mana negeri-negeri Islam sering menjadi arena perebutan kepentingan kekuatan besar (adikuasa).
Di tengah kondisi yang menghimpit ini, menjaga kedekatan dengan Al-Quran adalah kunci keselamatan. Bagi keluarga yang ingin membekali putra-putrinya dengan cahaya wahyu, silakan kunjungi Executive Tahfizh pendaftaran tahfizh Al-Quran untuk mencetak generasi penjaga kalamullah yang tangguh di masa depan.
Menghadapi Realitas: Apa yang Harus Dilakukan?
Memahami bahwa kita berada di fase ini bukan untuk membuat kita pesimis, melainkan untuk bersiap. Di tengah kepungan fitnah ini, langkah yang paling bijak adalah memperkuat literasi agama agar tidak terseret arus Fitnah Duhaima. Selain itu, membangun kemandirian ekonomi menjadi sangat krusial untuk lepas dari ketergantungan sistem yang tidak memihak pada nilai-nilai syariat.
Mentalitas umat harus diperbaiki dengan mengobati penyakit Al-Wahn. Kita harus menyeimbangkan urusan dunia dan persiapan akhirat. Dunia Islam mungkin sedang berada di titik nadir, namun dalam nubuwat yang sama, setelah fase Mulkan Jabariyan berakhir, akan datang masa kembalinya keadilan. Muliakanlah Al-Quran dalam setiap langkah hidup kita, karena hanya dengan kembali kepada-Nya kita akan menemukan kemuliaan yang sesungguhnya.
Penutup
Semoga Allah menjaga iman kita di fase Mulkan Jabariyan ini. Ya Allah, bimbinglah kami di atas jalan yang lurus hingga akhir hayat dalam husnul khatimah. Amin.
Referensi:
- Ibnu Katsir, Abu Al-Fida. Al-Bidayah wa an-Nihayah. Juz 1. Kairo: Dar al-Hadith, 2003.
- Al-Mubarakfuri, Safiyyurrahman. Ar-Rahiq al-Makhtum. Riyadh: Darussalam, 1996.
- As-Suyuthi, Jalaluddin. Tarikh al-Khulafa. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2004.
\n\n
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

