Dalam bentangan sejarah peradaban manusia, urusan harta dan cara mendapatkannya senantiasa menjadi ujian keimanan yang krusial. Islam, dengan kemuliaan ajarannya, telah menggariskan panduan yang jelas demi keberkahan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat. Salah satu peringatan keras yang seringkali terabaikan adalah terkait praktik riba. Kita seringkali terbuai dengan iming-iming keuntungan sesaat, padahal ada sebuah realitas mengerikan yang menanti mereka yang bergelimang riba. Realitas ini bukan isapan jempol, melainkan sebuah gambaran tentang kengerian hukuman pemakan riba di hari kiamat yang telah digariskan oleh Sang Pencipta.
Mari sejenak merenungkan sebuah riwayat yang menukil perkataan Abdullah bin Mas’ud, seorang sahabat Nabi ﷺ yang mulia, yang menggambarkan dengan gamblang keadaan para pemakan riba di hari perhitungan:
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Sebuah gambaran yang menusuk kalbu, menggambarkan mereka yang memakan riba tidak akan bangkit kecuali seperti bangkitnya orang yang kesurupan setan karena penyakit gila pada hari kiamat. Ini adalah visualisasi dahsyat tentang kehinaan dan penderitaan yang tak terhingga. Sungguh, sebuah nasib yang tak seorang pun inginkan.
Mengapa Riba Begitu Berbahaya dalam Perspektif Islam?
Larangan riba bukanlah sekadar aturan tanpa makna, melainkan sebuah fondasi etika ekonomi yang bertujuan menjaga keadilan, keseimbangan, dan keberkahan dalam masyarakat. Riba secara fundamental merusak prinsip-prinsip ini, menciptakan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, serta mengikis rasa solidaritas sosial. Ia menumbuhkan sifat tamak dan eksploitatif, dimana keuntungan didapat tanpa adanya usaha riil, melainkan dari penderitaan dan kebutuhan orang lain.
Ancaman Ilahi yang Tegas Bagi Pelaku Riba
Allah SWT sendiri telah mendeklarasikan perang terhadap riba, sebuah deklarasi yang patut kita renungi dengan serius. Ini menunjukkan betapa besar dosa riba di sisi-Nya, melampaui dosa-dosa lain yang mungkin kita anggap lebih besar. Pernyataan tegas ini seharusnya menjadi pengingat yang konstan bagi kita untuk menjauhkan diri dari segala bentuk praktik yang mengandung unsur riba. Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَن جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Artinya: “Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya terserah kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275). Ayat ini tidak hanya mengulang gambaran di hari kiamat, tetapi juga menegaskan bahwa mereka yang kembali kepada riba setelah mengetahui larangannya akan menjadi penghuni neraka yang kekal.
Dampak Sosial dan Ekonomi Riba yang Menghancurkan
Lebih dari sekadar ancaman spiritual, riba juga memiliki implikasi nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Secara ekonomi, riba menciptakan sistem yang tidak adil, di mana uang melahirkan uang tanpa ada aktivitas produktif yang mendasarinya. Ini menyebabkan konsentrasi kekayaan pada segelintir orang, sementara mayoritas masyarakat terjerat utang yang tak berujung. Secara sosial, riba merenggangkan tali persaudaraan, menumbuhkan kecemburuan, dan melemahkan nilai-nilai tolong-menolong. Lingkungan yang diwarnai riba akan kehilangan esensi keberkahannya, digantikan oleh kekeringan spiritual dan material.
Gambaran Kengerian Hukuman Pemakan Riba di Hari Kiamat
Mari kita kembali pada gambaran yang disampaikan oleh Ibnu Mas’ud mengenai hukuman pemakan riba di hari kiamat. Visualisasi ini bukan sekadar metafora, melainkan sebuah peringatan keras tentang kondisi yang sesungguhnya akan dialami. Kita diajak untuk membayangkan seseorang yang bangkit dari kuburnya dalam keadaan sempoyongan, terjatuh, limbung, seolah-olah gila dan tidak memiliki kontrol atas dirinya. Ini adalah kontras yang mencolok dengan kehormatan dan ketenangan yang dijanjikan bagi orang-orang bertakwa.
Kondisi Mental dan Fisik yang Tercela
Keadaan “kesurupan setan karena penyakit gila” melambangkan kondisi mental dan fisik yang paling tercela. Di hari kiamat, setiap manusia akan diperhitungkan amal perbuatannya. Bagi pemakan riba, kondisi ini adalah cerminan dari kekacauan pikiran dan keserakahan yang mereka miliki di dunia. Mereka kehilangan akal sehat karena memprioritaskan harta di atas kebenaran, dan kini di akhirat, mereka menanggung akibatnya dengan kehinaan yang kasat mata. Mereka akan menjadi tontonan bagi seluruh makhluk, sebuah pengumuman publik atas dosa besar yang telah mereka perbuat. Ini adalah gambaran telanjang betapa buruknya hukuman pemakan riba di hari kiamat.
Pelajaran Berharga dari Hari Perhitungan
Peringatan tentang hari kiamat dan berbagai hukuman di dalamnya adalah pelajaran yang paling berharga bagi kita. Ia berfungsi sebagai penyeimbang hawa nafsu duniawi dan pengingat akan tujuan hakiki kehidupan. Hari perhitungan adalah manifestasi keadilan Allah SWT yang sempurna, di mana setiap perbuatan, baik besar maupun kecil, akan mendapatkan balasan yang setimpal. Dengan merenungkan kengerian hukuman ini, kita diharapkan dapat menumbuhkan rasa takut yang sehat (khauf) dan memotivasi diri untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan, termasuk riba. Kita diingatkan bahwa kehidupan dunia ini hanyalah persinggahan sementara, dan fokus utama kita haruslah pada keselamatan abadi di akhirat.
Menjauhkan Diri dari Riba: Sebuah Ikhtiar Hakiki
Meninggalkan praktik riba mungkin terasa menantang di tengah sistem ekonomi modern yang seringkali terperangkap di dalamnya. Namun, ini adalah sebuah ikhtiar hakiki, perjuangan yang akan mendatangkan pahala besar dan keberkahan yang tak terhingga. Ini membutuhkan komitmen, pemahaman yang mendalam, dan keberanian untuk mengambil jalan yang berbeda dari kebanyakan orang.
Memahami Sistem Ekonomi Islam sebagai Solusi
Islam tidak hanya melarang riba, tetapi juga menawarkan sistem ekonomi yang komprehensif dan adil, yang berlandaskan pada prinsip jual beli, bagi hasil (mudharabah, musyarakah), sewa-menyewa (ijarah), dan zakat. Sistem ini mendorong kegiatan ekonomi riil, di mana keuntungan berasal dari usaha, risiko, dan manfaat bersama. Dengan mempelajari dan menerapkan prinsip-prinsip ekonomi syariah, kita dapat menemukan alternatif yang halal dan berkah, serta turut serta membangun masyarakat yang lebih adil dan sejahtera. Edukasi tentang ini adalah kunci untuk menghindari hukuman pemakan riba di hari kiamat.
Membangun Kesadaran dan Keberanian Spiritual
Perjuangan melawan riba dimulai dari dalam diri: membangun kesadaran akan bahayanya dan menumbuhkan keberanian untuk menjauhinya. Ini berarti kita harus proaktif mencari informasi, bertanya kepada ahli ilmu, dan membentengi diri dengan keimanan yang kuat. Mungkin ada saat-saat ketika pilihan yang halal terasa lebih sulit atau kurang menguntungkan secara instan, namun ingatlah bahwa keberkahan sejati datang dari ketaatan kepada Allah. Keyakinan akan janji Allah tentang kebaikan bagi orang yang menjauhi riba akan menjadi kekuatan pendorong kita.
Kisah-kisah para sahabat Nabi ﷺ yang meninggalkan riba meskipun itu berarti kehilangan sebagian harta benda mereka, seharusnya menjadi inspirasi bagi kita. Mereka lebih memilih keridhaan Allah daripada keuntungan duniawi yang fana. Mari kita ikuti jejak mereka, memperkuat azam (tekad) kita untuk hidup bersih dari riba, demi meraih kebahagiaan sejati di dunia dan terhindar dari kengerian hukuman pemakan riba di hari kiamat. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah-langkah kita.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Hadits Riwayat dari Ibnu Mas’ud, tentang gambaran pemakan riba di hari kiamat (seperti yang disebutkan di awal artikel, dengan sanad yang disampaikan).
- Q.S. Al-Baqarah: 275
