Dalam bentangan ajaran Islam yang luas, silaturahim menempati posisi yang amat mulia. Ia bukan sekadar tradisi bertegur sapa atau kunjungan fisik semata, melainkan sebuah ikatan suci yang melampaui sekat materi, menyatukan hati, dan merajut kembali tali persaudaraan yang mungkin renggang oleh jarak atau kesalahpahaman. Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkali-kali menekankan pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan ini, bahkan mengancam dengan siksa bagi mereka yang berani memutuskannya. Fenomena qath’ur rahim, atau tindakan memutus silaturahim, adalah sebuah dosa besar yang tidak hanya merusak tatanan sosial, tetapi juga mengikis keberkahan hidup dan menjauhkan pelakunya dari rahmat Ilahi.

Memahami Hakikat Silaturahim dan Bahaya Memutuskannya

Silaturahim berasal dari kata shilah yang berarti hubungan, dan rahim yang berarti kerabat atau rahim ibu. Secara harfiah, ia berarti menghubungkan tali kekerabatan. Namun, maknanya jauh lebih dalam dari itu. Silaturahim adalah upaya aktif untuk menjaga komunikasi, saling peduli, mengunjungi, membantu, dan menunjukkan kasih sayang kepada sanak saudara. Ini adalah manifestasi nyata dari keimanan kita kepada Allah dan hari akhir.

Ketika kita bicara tentang qath’ur rahim, kita tidak hanya merujuk pada ketidakhadiran fisik di acara keluarga. Lebih dari itu, ia mencakup sikap acuh tak acuh, permusuhan, melupakan hak-hak kerabat, bahkan enggan untuk berkomunikasi atau memaafkan. Seringkali, ego, kesalahpahaman kecil, atau harta dunia menjadi pemicu utama keretakan dalam hubungan kekeluargaan ini. Padahal, Allah subhanahu wa ta’ala telah memperingatkan dengan sangat jelas tentang konsekuensi berat bagi mereka yang memutusnya.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ

“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (Q.S. Ar-Ra’d: 21)

Ayat ini secara eksplisit menyebutkan sifat orang-orang beriman yang senantiasa menjaga hubungan yang diperintahkan Allah untuk dihubungkan, termasuk di dalamnya adalah silaturahim. Sebaliknya, Allah juga berfirman tentang golongan yang menyimpang:

وَالَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (jahannam).” (Q.S. Ar-Ra’d: 25)

Ancaman “kutukan” dan “tempat kediaman yang buruk (jahannam)” adalah peringatan yang sangat serius bagi kita semua. Ini menunjukkan betapa besarnya dosa memutus tali silaturahim di sisi Allah.

Dampak Buruk Memutus Silaturahim dalam Kehidupan

Dampak dari qath’ur rahim tidak hanya terasa di akhirat, tetapi juga di dunia ini. Pertama, secara spiritual, ia dapat menutup pintu keberkahan dan rahmat Allah. Doa bisa tertahan, amal ibadah terasa hampa, dan hati menjadi keras. Kita mungkin merasa ada kekosongan, meski secara lahiriah semua tampak baik-baik saja.

Kedua, dalam dimensi sosial, memutus silaturahim akan merusak tatanan masyarakat. Ketika ikatan kekeluargaan renggang, maka jaring-jaring sosial akan melemah. Kepercayaan terkikis, rasa persatuan memudar, dan benih-benih permusuhan mudah tumbuh. Masyarakat menjadi individualistis, dan semangat tolong-menolong akan luntur. Bayangkan sebuah keluarga yang anggotanya saling membenci atau tidak peduli, bagaimana mungkin mereka bisa membangun masyarakat yang kuat dan harmonis?

Ketiga, secara personal, memutus silaturahim akan menimbulkan penyesalan dan kegelisahan. Hati kita diciptakan dengan fitrah untuk saling menyayangi. Ketika fitrah ini dilanggar, maka akan ada gejolak batin yang tidak tenang. Rasa bersalah, kesepian, dan kecemasan seringkali menyertai mereka yang memilih jalan ini.

Pentingnya Menjaga Silaturahim: Kunci Keberkahan Hidup

Sebaliknya, menjaga silaturahim membawa begitu banyak kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus (tali silaturahim).” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini adalah peringatan keras sekaligus motivasi bagi kita. Surga adalah tujuan tertinggi setiap mukmin, dan silaturahim adalah salah satu jalannya. Ada juga hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, “Barangsiapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung tali silaturahim.” Ini adalah janji yang sangat indah dari Nabi kita, bahwa menjaga silaturahim adalah kunci untuk dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umur, tentu saja dalam konteks keberkahan dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Rezeki yang dilapangkan bukan hanya soal materi, tetapi juga ketenangan jiwa, kesehatan, anak-anak yang sholeh, dan kemudahan dalam segala urusan. Umur yang panjang bukan hanya soal kuantitas tahun, tetapi juga kualitas hidup yang penuh manfaat dan keberkahan.

Langkah Praktis untuk Menguatkan Silaturahim

Mungkin ada di antara kita yang sedang mengalami kerenggangan silaturahim. Jangan berputus asa, pintu taubat dan perbaikan selalu terbuka. Berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa kita ambil:

  • Memulai Memaafkan
    Lepaskan beban dendam dan amarah. Memaafkan adalah obat untuk hati kita sendiri. Bahkan jika pihak lain belum meminta maaf, kita bisa memaafkan demi Allah.
  • Berinisiatif Menghubungi
    Jangan menunggu dihubungi. Kita bisa menjadi yang pertama menelepon, mengirim pesan, atau bahkan mengunjungi. Sedikit perhatian seringkali dapat melelehkan kebekuan hubungan.
  • Memberi Hadiah
    Hadiah tidak harus mahal. Sebuah makanan kecil, sebuah buku, atau sekadar salam dengan senyum tulus dapat menumbuhkan kembali benih-benih kasih sayang.
  • Mendoakan Mereka
    Bahkan jika hubungan masih dingin, doakan kerabat kita dalam shalat. Doa memiliki kekuatan yang luar biasa untuk melunakkan hati dan memperbaiki keadaan.
  • Memahami Perbedaan
    Setiap individu unik. Cobalah memahami sudut pandang kerabat, meskipun kita tidak sepenuhnya setuju. Toleransi dan empati adalah kunci.

Mari kita jadikan menjaga silaturahim sebagai bagian integral dari ibadah kita. Sadarilah bahwa setiap senyuman, sapaan, dan kunjungan kepada kerabat adalah investasi pahala yang tak ternilai harganya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan menguatkan kembali ikatan silaturahim, kita tidak hanya membangun jembatan persaudaraan yang kokoh di dunia, tetapi juga membuka jalan menuju kebahagiaan abadi di surga.

Jika kita merasa berat untuk memulai, ingatlah bahwa setiap langkah kebaikan akan Allah balas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Menguatkan silaturahim adalah salah satu amalan terbaik yang dapat kita lakukan untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Ia adalah cerminan kemuliaan akhlak seorang muslim, sebuah bukti nyata keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir.

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • Q.S. Ar-Ra’d: 21
  • Q.S. Ar-Ra’d: 25
  • H.R. Bukhari No. 5984 dan Muslim No. 2556 (tentang tidak masuk surga pemutus silaturahim)
  • H.R. Bukhari No. 5986 dan Muslim No. 2557 (tentang dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umur)
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,