Setiap perjalanan agung memiliki garis finis, sebuah puncak yang dirindukan. Begitu pula perjalanan kita bersama Al-Qur’an. Saat lisan kita tiba di surat An-Nas setelah meniti ayat demi ayat dari Al-Fatihah, ada sebuah gerbang langit yang terbuka. Ini bukan sekadar akhir dari sebuah bacaan, melainkan sebuah permulaan dari terkabulnya pengharapan. Sebuah momen sakral yang diajarkan oleh generasi terbaik umat ini.
Tradisi Agung Para Sahabat: Pintu Doa yang Terbuka
Mengkhatamkan Al-Qur’an bukanlah perayaan biasa bagi para sahabat. Ia adalah sebuah perhelatan ruhani, sebuah kesempatan emas untuk menengadahkan tangan dengan keyakinan penuh. Salah satu sahabat mulia yang mengajarkan kita tentang keistimewaan ini adalah Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Beliau tidak hanya meyakininya, tetapi juga mempraktikkannya dengan cara yang begitu menyentuh.
Perhatikanlah bagaimana sebuah atsar yang agung dari kitab Fadhail al-Qur’an karya Abu ‘Ubayd al-Qasim bin Sallam menuturkan tradisi indah ini:
«مَنْ خَتَمَ الْقُرْآنَ فَلَهُ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ» . قَالَ: فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ إِذَا خَتَمَ الْقُرْآنَ جَمَعَ أَهْلَهُ ثُمَّ دَعَا وَأَمِّنُوا عَلَى دُعَائِهِ
“Barangsiapa yang mengkhatamkan Al-Qur’an, maka baginya doa yang mustajab.” Sang perawi berkata, “Maka Abdullah (ibn Mas’ud), apabila beliau mengkhatamkan Al-Qur’an, beliau mengumpulkan keluarganya, lalu beliau berdoa dan keluarganya mengaminkan doanya.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubayd dalam Fadhail al-Qur’an)
Subhanallah. Ini bukan sekadar teori, tetapi sebuah amalan nyata. Kalimat “da’wah mustajabah” atau doa yang terkabul adalah jaminan yang begitu berharga. Ibn Mas’ud memahami betul bahwa saat kalam Allah tuntas dibaca, rahmat-Nya turun dengan begitu deras. Maka, beliau tidak menyia-nyiakan momen itu sendirian. Beliau berbagi keberkahan itu dengan mengumpulkan orang-orang terkasihnya, keluarganya. Beliau memimpin doa, dan seluruh rumahnya menjadi panggung langit yang mengaminkan harapan bersama. Inilah esensi sejati dari doa mustajab setelah mengkhatamkan Al-Quran; sebuah momen kebersamaan ruhani.
Anas bin Malik dan Keberkahan yang Dihimpun
Tradisi mulia ini tidak hanya diamalkan oleh Abdullah ibn Mas’ud. Sahabat lain yang terkenal akan khidmahnya kepada Rasulullah, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, juga melakukan hal serupa. Beliau pun menjadikan momen khatam Qur’an sebagai ajang untuk menghimpun keluarga dalam kebaikan dan doa.
أَنَّهُ كَانَ يَجْمَعُ أَهْلَهُ عِنْدَ الْخَتْمِ
“Bahwasanya beliau (Anas bin Malik) senantiasa mengumpulkan keluarganya ketika khatam Al-Qur’an.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubayd dalam Fadhail al-Qur’an)
Mengapa para sahabat begitu antusias mengumpulkan keluarga? Karena mereka tahu, saat itu adalah waktu turunnya berkah. Mereka ingin seluruh anggota keluarga, dari yang tua hingga yang belia, turut merasakan getaran spiritual, turut membasahi lisan dengan “Aamiin”, dan turut menjadi saksi atas agungnya kalam Ilahi. Mereka mengajarkan kepada kita bahwa Al-Qur’an adalah poros keluarga, pusat dari segala kebaikan yang ingin kita raih bersama.
Mengapa Momen Khatam Begitu Istimewa?
Dari dua atsar di atas, kita bisa merenungi beberapa hikmah mengapa momen khatam Qur’an menjadi begitu istimewa:
- Puncak Ketaatan: Menyelesaikan bacaan 30 juz adalah sebuah bentuk ketaatan dan kesabaran yang luar biasa. Allah sangat menghargai hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam berinteraksi dengan firman-Nya.
- Turunnya Rahmat: Para ulama menyebutkan bahwa saat Al-Qur’an dikhatamkan, rahmat Allah turun menyelimuti majelis tersebut. Di saat rahmat turun dengan deras inilah, setiap doa lebih berpeluang untuk diijabah.
- Syukur dan Harapan: Momen khatam adalah perpaduan antara rasa syukur karena telah diberi nikmat menyelesaikan bacaan Al-Qur’an, dan rasa harap agar Allah menerima amalan tersebut. Kombinasi syukur dan harap inilah yang menjadi adab terbaik dalam berdoa.
Maka, sungguh berharga nilai sebuah doa mustajab setelah mengkhatamkan Al-Quran. Ia bukan sekadar ritual, melainkan sebuah puncak apresiasi kita terhadap firman-Nya, yang kemudian dibalas oleh Allah dengan karunia doa yang terkabul.
Sudahkah kita menjadikan momen khatam Qur’an sebagai perhelatan ruhani di tengah keluarga kita? Sudahkah kita mempersiapkan daftar hajat dan harapan terbaik untuk dipanjatkan di momen emas itu? Mari kita hidupkan kembali sunnah yang indah ini, menjadikan setiap khataman sebagai oase doa bagi diri dan keluarga tercinta.
Mewujudkan tradisi mulia ini tentu dimulai dari langkah pertama: konsistensi dalam membaca dan menghafal Al-Qur’an hingga tuntas. Perjalanan ini memang membutuhkan bimbingan dan lingkungan yang mendukung. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami siap mendampingi Anda dalam meniti perjalanan indah bersama Al-Qur’an, hingga tiba di garis finis yang penuh berkah dan doa yang mustajab.
Daftar Referensi
- Abu ‘Ubayd al-Qasim bin Sallam. Fadha’il al-Qur’an. (Damaskus – Beirut: Dar Ibn Katsir, 1415 H / 1995 M).
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

