Getaran Rindu dari Seuntai Doa
Dalam heningnya malam, saat semesta mereda dan jiwa-jiwa beristirahat, ada ruh yang justru terjaga. Ia tidak sedang menaklukkan dunia, melainkan sedang tenggelam dalam samudera munajat. Pernahkah kita bayangkan, menghabiskan waktu berjam-jam, dari larut hingga fajar menyingsing, hanya untuk merenungi dan mengulang satu ayat yang sama? Inilah kisah menakjubkan tentang doa Abdullah bin Mas’ud dalam shalat, sebuah cerminan rindu ilmu yang tiada tara.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang digelari sebagai ‘pemilik siwak dan sandal Rasulullah’, yang bacaan Qur’annya begitu merdu hingga membuat Nabi ﷺ meneteskan air mata, mengajarkan kita sebuah pelajaran tentang kedalaman interaksi dengan Kalamullah. Bukan tentang seberapa banyak yang dibaca, tapi seberapa dalam ia meresap ke relung kalbu.
Satu Ayat yang Menemani Hingga Pagi
Sebuah riwayat indah sampai kepada kita melalui kitab Fadha’il al-Qur’an karya Abu ‘Ubayd al-Qasim ibn Sallam. Riwayat ini melukiskan betapa khusyuknya ibadah seorang Abdullah bin Mas’ud. Suatu ketika, orang-orang membicarakan tentang shalat malam beliau yang begitu istimewa.
هَذَا مَقَامُ صَاحِبِكُمْ مُنْذُ اللَّيْلَةِ يُرَدِّدُ آيَةً حَتَّى أَصْبَحَ
“Inilah tempat shalat sahabat kalian (Abdullah bin Mas’ud) semalam suntuk. Ia terus mengulang-ulang satu ayat hingga datang waktu Subuh.”
Ayat apakah yang memiliki daya pikat begitu kuat? Ayat manakah yang mampu menawan hati seorang ahli Qur’an hingga ia rela menanggalkan tidurnya demi berdialog dengannya? Riwayat tersebut melanjutkan bahwa ayat yang dimaksud adalah sebuah doa yang singkat namun sarat makna:
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Ya Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (Q.S. Taha: 114)
Subhanallah. Bukan ayat tentang azab yang mengerikan atau surga yang mempesona. Tapi sebuah permohonan tulus untuk ditambahkannya ilmu. Inilah bukti bahwa bagi Ibn Mas’ud, ilmu adalah segalanya. Ia adalah cahaya, kehidupan, dan jalan untuk semakin dekat kepada Sang Pencipta. Pengulangan ini bukanlah repetisi mekanis, melainkan sebuah desakan rindu dari jiwa yang haus akan petunjuk.
Permohonan yang Sama di Siang Hari
Kerinduan Ibn Mas’ud akan ilmu bukanlah sebuah letupan emosi sesaat di keheningan malam saja. Ia adalah denyut nadi yang konsisten, baik dalam sunyinya tahajjud maupun dalam hiruk pikuknya siang. Hal ini terkonfirmasi dari riwayat lain yang juga dibawakan oleh Abu ‘Ubayd.
قُمْتُ خَلْفَ عَبْدِ اللَّهِ فِي صَلَاةِ النَّهَارِ، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: ﴿رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا﴾ فَعَلِمْتُ أَنَّهُ يَقْرَأُ مِنْ سُورَةِ طه
‘Alqamah berkata, “Aku pernah berdiri (shalat) di belakang Abdullah (bin Mas’ud) pada waktu shalat siang, lalu aku mendengarnya mengucapkan, ‘Rabbi zidnii ‘ilman’ (Ya Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu). Maka aku pun tahu bahwa beliau sedang membaca dari Surat Taha.”
Dua riwayat ini menjadi cermin bagi kita. Betapa sering kita melewati ayat ini tanpa getaran yang sama. Padahal, ia adalah perintah langsung dari Allah kepada Rasul-Nya yang paling berilmu. Jika Nabi Muhammad ﷺ saja diperintahkan untuk terus memohon tambahan ilmu, bagaimana mungkin kita merasa cukup? Kisah tentang doa Abdullah bin Mas’ud dalam shalat ini adalah tamparan lembut bagi jiwa kita yang mungkin telah lama berhenti merasa haus.
Meneladani Spirit Ibn Mas’ud
Dari dua fragmen kehidupan yang mulia ini, kita dapat memetik beberapa hikmah berharga:
- Tadabbur adalah Ruh Ibadah: Shalat dan tilawah bukanlah perlombaan kuantitas. Satu ayat yang diresapi maknanya jauh lebih bernilai daripada ribuan ayat yang dibaca tanpa kehadiran hati.
- Ilmu adalah Kebutuhan Primer: Ibn Mas’ud tidak meminta harta atau jabatan. Beliau memohon ilmu. Karena dengan ilmulah, seseorang mengenal Rabb-nya, mengetahui hakikat hidup, dan mampu meniti jalan yang lurus.
- Konsistensi dalam Doa: Permohonan ilmu bukanlah doa musiman. Ia adalah napas kehidupan seorang mukmin, yang dipanjatkan di kala sunyi maupun ramai, di gelap malam maupun terang siang.
Kisah agung tentang doa Abdullah bin Mas’ud dalam shalat ini seharusnya menjadi bahan bakar bagi semangat kita. Semangat untuk kembali membuka Al-Qur’an bukan sekadar untuk membaca, tapi untuk disapa, untuk berdialog, dan untuk memohon petunjuk tanpa henti. Mari kita hidupkan kembali doa “Rabbi Zidni ‘Ilma” dalam setiap sujud dan munajat kita, dengan kesadaran dan kerinduan yang sama.
Jika kerinduan itu mulai tumbuh di hati, dan Anda mencari bimbingan untuk menyelami lautan Al-Qur’an lebih dalam, mungkin inilah saatnya untuk memulai perjalanan yang lebih serius. Sebuah perjalanan untuk memahami, menghafal, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam hidup.
Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami siap mendampingi Anda dalam perjalanan mulia tersebut. Dengan metode yang terstruktur dan lingkungan yang mendukung, mari kita bersama-sama meneladani semangat para sahabat dalam mencintai Al-Qur’an.
Daftar Referensi
- Al-Qasim bin Sallam, Abu ‘Ubayd. Fadha’il al-Qur’an. (tahqiq: Marwan al-‘Athiyah, dkk). Damaskus: Dar Ibn Katsir, 1415 H/1995 M.
- Q.S. Taha: 114
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100


