Bagaikan seekor burung yang takkan pernah bisa terbang hanya dengan satu sayap, demikian pula ilmu syariat. Ia memiliki dua sayap agung yang saling menguatkan: Al-Qur’an dan As-Sunnah (Hadits). Al-Qur’an adalah firman-Nya yang mulia, sebuah samudra hikmah yang tak bertepi. Sementara itu, hadits adalah penjabar, penjelas, dan cerminan praktis dari samudra tersebut melalui lisan dan laku Nabi Muhammad SAW. Ironisnya, dalam perjalanan menimba ilmu hadits, seringkali kita lebih terpesona pada proses pengumpulan (riwayah) dan sedikit abai pada perenungan (dirayah). Padahal, mengutamakan dirayah daripada riwayah dalam belajar hadits adalah esensi sesungguhnya dari warisan kenabian ini.

Memahami Dua Sayap Ilmu Syariat
Al-Imam Husein bin Al-Mansur Billah dalam kitabnya Adab al-‘Ulama’ wa al-Muta’allimin mengingatkan kita bahwa hadits adalah salah satu dari dua sayap ilmu syariat. Ia tidak hanya mendampingi Al-Qur’an, tetapi juga menjadi penjelas bagi banyak kandungan di dalamnya. Betapa banyak perintah shalat, zakat, atau haji dalam Al-Qur’an yang bersifat global, lalu dirincikan tata caranya secara sempurna dalam hadits-hadits Rasulullah SAW. Inilah fungsi profetik yang Allah SWT tegaskan dalam firman-Nya:
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (Q.S. An-Nahl: 44)
Kata kunci “litubayyina” (agar kamu menerangkan) menunjukkan peran sentral Nabi SAW. Penjelasan beliau inilah yang terangkum dalam hadits. Maka, mengabaikan hadits sama artinya dengan mencoba memahami Al-Qur’an dalam ruang hampa, memisahkan teks dari konteks hidupnya yang paling otentik. Keduanya adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam membimbing kita menuju cahaya kebenaran.
Mengutamakan Dirayah daripada Riwayah dalam Belajar Hadits: Sebuah Keharusan
Dalam dunia ilmu hadits, kita mengenal dua istilah sentral: Riwayah dan Dirayah. Riwayah adalah proses transmisi atau periwayatan hadits. Ia berfokus pada keabsahan sanad (rantai perawi), kekuatan hafalan, dan ketepatan redaksi. Ini adalah fondasi yang sangat vital. Tanpa riwayah yang shahih, sebuah hadits kehilangan otentisitasnya. Namun, sang penulis kitab mengingatkan agar kita tidak berhenti di sini, sebagaimana kebanyakan ahli hadits di zaman ini.
Tantangan sesungguhnya terletak pada jenjang berikutnya, yaitu Dirayah. Dirayah adalah pemahaman mendalam terhadap matan (isi) hadits. Ia adalah upaya untuk menyelami makna, menggali hukum, menangkap hikmah, dan memahami konteksnya. Jika riwayah adalah wadah, maka dirayah adalah air jernih yang mengisi wadah tersebut. Riwayah adalah jasad, sedangkan dirayah adalah ruhnya. Mengapa ini penting? Karena tujuan utama hadits diwariskan bukanlah untuk sekadar dihafal dan diriwayatkan, melainkan untuk dipahami, direnungi, dan diamalkan. Inilah jiwa dari pesan itu sendiri.
Dimensi Kajian Dirayah yang Sering Terlupakan
Proses mengutamakan dirayah daripada riwayah dalam belajar hadits menuntut kita untuk tidak hanya menjadi “penghafal”, tetapi juga menjadi “pemikir” dan “perenung”. Ini mencakup beberapa dimensi krusial:
1. Analisis Sanad dan Perawi (Ilmu Rijal)
Ini adalah jembatan antara riwayah dan dirayah. Kita tidak hanya memastikan sanadnya bersambung, tetapi juga mempelajari biografi dan karakter para perawi (rijal). Mengetahui siapa mereka membantu kita memahami konteks sosial dan intelektual saat hadits itu diriwayatkan.
2. Membedah Makna dan Konteks (Asbabul Wurud)
Sama seperti Al-Qur’an yang memiliki Asbabun Nuzul, hadits pun memiliki Asbabul Wurud (sebab-sebab munculnya hadits). Sebuah sabda Nabi SAW bisa jadi merupakan jawaban atas sebuah pertanyaan, solusi atas masalah, atau komentar atas sebuah peristiwa. Memahaminya menghindarkan kita dari penafsiran yang kaku dan tekstualis.
3. Menggali Hukum dan Faedah (Istinbath)
Inilah puncak dari dirayah. Dari satu matan hadits, para ulama mampu menggali (istinbath) berbagai hukum fiqih, kaidah ushul, hikmah tarbiyah, hingga adab dan akhlak. Proses ini membutuhkan perangkat keilmuan yang komprehensif, menunjukkan betapa dalamnya samudra sabda Rasulullah SAW.
Ketika Riwayah Tanpa Dirayah Menjadi Bumerang
Fokus pada riwayah semata, tanpa diimbangi dirayah yang kuat, bisa menjadi berbahaya. Seseorang mungkin hafal ribuan hadits dengan sanadnya, tetapi gagal menangkap pesan utamanya. Ia bisa menjadi kaku dalam beragama, mudah menyalahkan orang lain, dan kehilangan substansi spiritual dari sebuah ajaran. Ia memiliki teks, tetapi kehilangan ruh. Inilah yang dikhawatirkan oleh para ulama sejati.
Bukankah kebaikan tertinggi yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba adalah pemahaman yang mendalam terhadap agamanya? Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang mulia:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
Artinya: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan memberinya pemahaman yang mendalam dalam urusan agama.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Kata “yufaqqihhu” (memberinya pemahaman mendalam) adalah inti dari dirayah. Kebaikan yang dimaksud bukanlah sekadar kemampuan menghafal, melainkan anugerah untuk memahami esensi ajaran. Oleh karena itu, mari kita geser paradigma belajar kita. Mari kita jadikan riwayah sebagai gerbang pembuka, namun tujuan akhir kita adalah menyelami lautan dirayah yang tak bertepi. Karena dengan itulah, kedua sayap ilmu syariat akan membawa kita terbang tinggi menuju keridhaan-Nya.
Perjalanan ini memang tidak mudah, ia menuntut kesabaran, ketekunan, dan bimbingan guru yang lurus. Namun, setiap tetes keringat yang kita curahkan untuk memahami sabda Sang Kekasih SAW adalah investasi terbaik untuk dunia dan akhirat kita. Memulai dengan disiplin menghafal Al-Qur’an adalah fondasi yang kokoh untuk membangun istana pemahaman yang lebih agung, termasuk pemahaman hadits.
Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami percaya bahwa disiplin dan metode yang tepat dalam menghafal Al-Qur’an dapat menjadi modal utama untuk melangkah ke jenjang pemahaman ilmu yang lebih dalam. Mari bersama-sama menapaki jalan mulia ini, bukan sekadar menjadi penghafal, tetapi menjadi pewaris ilmu para nabi yang sesungguhnya.
Daftar Referensi
- Al-Qur’an, Surah An-Nahl: 44.
- Hadits Riwayat Bukhari, no. 71, dan Muslim, no. 1037.
- Al-Husain bin Al-Mansur Billah, Adab al-‘Ulama’ wa al-Muta’allimin.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

