Dalam perjalanan menuntut ilmu, kita seringkali dihadapkan pada berbagai situasi yang menguji kematangan spiritual dan adab kita. Salah satu ujian terberat adalah ketika menerima koreksi atau teguran, terutama dari guru atau ustadz yang membimbing. Naluri pertama mungkin adalah membela diri, menjelaskan, atau bahkan membantah. Namun, justru pada momen inilah, ada pelajaran berharga yang dapat kita petik: kekuatan dari belajar diam.
Adab seorang penuntut ilmu bukanlah sekadar menghafal materi atau memahami konsep. Lebih dari itu, ia adalah cerminan dari hati yang bersih, jiwa yang rendah hati, dan lisan yang terjaga. Ketika seorang guru memberikan bimbingan atau koreksi, sesungguhnya itu adalah sebuah anugerah, sebuah cerminan kasih sayang yang tulus untuk mengarahkan kita menuju kebaikan. Ibarat seorang penjahit yang sedang merapikan jahitan yang kurang sempurna, koreksi itu hadir untuk menyempurnakan diri kita.
Koreksi adalah sebuah ujian keikhlasan. Mengapa demikian? Karena dorongan untuk membantah seringkali berasal dari ego dan nafsu yang ingin mempertahankan persepsi diri sebagai pribadi yang “benar” atau “tidak salah”. Hati kita diuji, apakah kita lebih mencintai kebenaran dan kemajuan diri, atau justru pembelaan terhadap ego semata. Belajar diam bukanlah berarti pasrah tanpa pikir, melainkan sebuah pilihan sadar untuk memberikan ruang pada hati dan akal untuk merenung, menimbang, dan memahami esensi dari teguran tersebut.
Mari kita merenungi kisah agung dalam Al-Qur’an, yaitu pertemuan Nabi Musa ‘alaihissalam dengan Nabi Khidir ‘alaihissalam, sebagaimana dikisahkan dalam Surah Al-Kahf. Nabi Musa, seorang nabi yang mulia, menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa dengan bersedia belajar dari hamba Allah yang dianugerahi ilmu khusus. Namun, dalam perjalanannya, beliau sempat merasa kesulitan untuk bersabar dan menahan diri dari pertanyaan atas tindakan-tindakan Nabi Khidir yang sekilas nampak aneh atau tidak sesuai syariat yang beliau pahami.
قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا (٦٦) قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا (٦٧) وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا (٦٨) قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا (٦٩)
Artinya: Musa berkata kepadanya: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentangnya?” Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.” (Q.S. Al-Kahf: 66-69)
Kisah ini mengajarkan kita tentang pentingnya kesabaran dan kepercayaan kepada seorang guru, bahkan ketika apa yang diajarkan atau dilakukan nampak tidak selaras dengan pemahaman awal kita. Nabi Musa, meskipun seorang nabi, diajarkan untuk bersabar dan tidak terburu-buru menghakimi. Ini adalah pelajaran universal bagi setiap penuntut ilmu: belajar untuk diam dan memberi kesempatan pada diri untuk memahami perspektif yang lebih luas, terutama dari orang yang memiliki ilmu dan pengalaman lebih.
Lalu, mengapa kita seringkali sulit diam saat ingin membantah? Seringkali alasannya adalah karena kita merasa tahu, merasa gengsi, atau bahkan takut terlihat salah di mata orang lain. Pikiran kita segera merangkai argumen untuk membela diri, seolah-olah koreksi adalah sebuah serangan yang harus ditangkis. Padahal, justru pada saat itulah kita memiliki kesempatan emas untuk menundukkan ego, melatih kerendahan hati, dan membuka pintu hikmah yang lebih besar.
Kekuatan diam yang hakiki bukan berarti kita tidak punya pendapat atau tidak boleh bertanya. Diam di sini adalah sebuah jeda reflektif, sebuah ruang hening untuk mendengar dengan seksama, memproses informasi tanpa emosi, dan menginternalisasi nasihat. Ini adalah sikap kesadaran bahwa kita adalah manusia yang tak luput dari kesalahan dan kekurangan, serta selalu membutuhkan bimbingan untuk menjadi lebih baik. Dengan diam, kita memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk melihat ke dalam, mengoreksi niat, dan membersihkan hati dari kotoran kesombongan.
Agama kita yang mulia ini adalah agama nasihat. Rasulullah ﷺ bersabda:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
Artinya: “Agama itu adalah nasihat.” Kami (para sahabat) bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan segenap kaum muslimin.” (H.R. Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa nasihat adalah pilar utama agama. Menerima nasihat dengan baik, apalagi dari guru yang kita percayai, adalah bagian dari menjalankan agama itu sendiri. Ini bukan hanya tentang pasif menerima, tetapi aktif meresapi dan mengamalkannya demi kebaikan diri dan umat. Nasihat, termasuk koreksi, adalah bentuk kepedulian. Jika kita menolaknya, sama saja kita menolak kebaikan yang Allah kirimkan melalui lisan hamba-Nya.
Untuk menumbuhkan adab diam saat ingin membantah, kita bisa memulainya dengan beberapa langkah praktis:
- Berniat tulus mencari kebenaran. Sebelum bereaksi, tanyakan pada diri sendiri, “Apa niatku? Apakah aku ingin mencari kebenaran atau hanya ingin membela diri?”
- Memahami posisi guru. Guru adalah pewaris para nabi dalam menyampaikan ilmu. Menghormati mereka berarti menghormati ilmu yang mereka bawa.
- Mengendalikan lisan. Berlatih untuk tidak langsung memotong pembicaraan atau melontarkan bantahan. Biarkan guru menyelesaikan bimbingannya.
- Merenungkan koreksi. Setelah guru selesai berbicara, luangkan waktu untuk merenung. Jangan langsung membantah atau mencari pembenaran. Pikirkan kemungkinan kebenaran dari apa yang disampaikan.
- Memohon petunjuk Allah. Jika ada hal yang belum jelas, tanyakanlah dengan adab dan rendah hati setelah momen koreksi selesai dan pikiran sudah tenang, bukan dengan nada membantah.
Manfaat dari belajar diam dan menerima koreksi dengan lapang dada sangatlah besar. Ilmu yang kita dapatkan akan menjadi lebih berkah, hati kita menjadi lebih lapang, dan diri kita akan senantiasa mengalami peningkatan. Kita akan menjadi pribadi yang lebih bijaksana, mampu menahan diri, dan lebih dicintai oleh Allah serta sesama. Sikap ini akan membuka pintu-pintu hikmah yang sebelumnya tertutup karena ego dan kesombongan. Ini adalah jalan menuju kematangan spiritual dan mental, menjadikan kita hamba yang senantiasa haus akan kebenaran dan perbaikan diri.
Pada akhirnya, setiap koreksi adalah undangan untuk tumbuh. Setiap teguran adalah kesempatan untuk membersihkan hati. Marilah kita jadikan setiap momen bimbingan sebagai ladang pahala, di mana kita menundukkan ego dan mengutamakan adab. Dengan demikian, ilmu yang kita pelajari akan meresap lebih dalam, memberikan manfaat yang luas, dan menjadi bekal berharga di dunia maupun akhirat.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Q.S. Al-Kahf: 66-69
- H.R. Muslim No. 55

Masukkan di AIOSEO: FAQ_SCHEMA (JSON-LD):
“`json
{
“@context”: “https://schema.org”,
“@type”: “FAQPage”,
“mainEntity”: [
{
“@type”: “Question”,
“name”: “Mengapa penting belajar diam saat dikoreksi guru?”,
“acceptedAnswer”: {
“@type”: “Answer”,
“text”: “Belajar diam saat dikoreksi adalah bentuk adab dalam menuntut ilmu. Ini melatih keikhlasan, meredam ego, dan membuka hati untuk menerima kebenaran. Diam memberi ruang refleksi untuk memahami bimbingan guru dan membersihkan hati dari kesombongan, sehingga ilmu yang didapat lebih berkah dan bermanfaat.”
}
},
{
“@type”: “Question”,
“name”: “Bagaimana cara melatih diri untuk tidak langsung membantah koreksi?”,
“acceptedAnswer”: {
“@type”: “Answer”,
“text”: “Latih diri dengan berniat tulus mencari kebenaran, memahami posisi guru sebagai pewaris nabi, mengendalikan lisan agar tidak langsung memotong, merenungkan koreksi tanpa mencari pembenaran, dan memohon petunjuk Allah. Jika ada yang perlu ditanyakan, lakukanlah dengan adab setelah suasana tenang.”
}
},
{
“@type”: “Question”,
“name”: “Apa manfaat menerima koreksi dengan lapang dada?”,
“acceptedAnswer”: {
“@type”: “Answer”,
“text”: “Menerima koreksi dengan lapang dada membawa banyak manfaat, di antaranya adalah keberkahan ilmu, hati yang lebih lapang, peningkatan diri yang berkelanjutan, dan menjadi pribadi yang lebih bijaksana. Ini juga menunjukkan kerendahan hati yang dicintai Allah dan sesama, serta membuka pintu-pintu hikmah.”
}
},
{
“@type”: “Question”,
“name”: “Apakah kisah Nabi Musa dan Khidir relevan dengan adab menerima koreksi?”,
“acceptedAnswer”: {
“@type”: “Answer”,
“text”: “Ya, kisah Nabi Musa dan Khidir dalam Surah Al-Kahf sangat relevan. Kisah ini mengajarkan pentingnya kesabaran dan kepercayaan kepada seorang guru, bahkan ketika tindakan atau bimbingan mereka awalnya tidak dipahami. Nabi Musa menunjukkan kerendahan hati dan kesabaran untuk tidak langsung menghakimi, yang merupakan pelajaran penting bagi setiap penuntut ilmu.”
}
}
]
}
“`
