Dengung Lebah di Malam Hari dan Malam Pertama yang Terlupakan
Jika kita berjalan di lorong-lorong malam sebuah pemukiman, suara apa yang paling sering kita dengar? Mungkin deru kendaraan yang tak kunjung hening, atau sayup-sayup suara dari layar televisi. Namun, ada sebuah masa ketika suara yang paling mendominasi malam-malam kaum beriman adalah lantunan wahyu yang syahdu, laksana dengungan lebah yang menenangkan. Ini bukan sekadar imajinasi, melainkan sebuah potret nyata tentang kedekatan generasi terbaik umat ini dengan Kalamullah, sebuah gambaran menakjubkan tentang interaksi salaf dengan Al-Qur’an.
Sebuah riwayat indah terabadikan dalam kitab Fadhail al-Qur’an karya Imam Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam, yang melukiskan suasana yang kini terasa begitu langka.
Dari Abu al-Ahwash, ia berkata:
إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيَطْرِقُ الْخِبَاءَ فَيَسْمَعُ فِيهِ كَدَوِيِّ النَّحْلِ، فَمَا لِهَؤُلَاءِ يَأْمَنُونَ مَا كَانَ أُولَئِكَ يَخَافُونَ؟
“Sungguh, dahulu seseorang mendekati sebuah kemah, lalu ia mendengar di dalamnya (lantunan Al-Qur’an) seperti suara dengungan lebah. Lantas, mengapa generasi sekarang ini merasa aman dari apa yang ditakuti oleh generasi terdahulu itu?” (Fadha’il al-Qur’an, Abu ‘Ubaid)
Suara Dengungan Lebah yang Hilang
Mari kita renungkan sejenak. Suara “dengungan lebah” adalah metafora yang luar biasa. Ia bukanlah suara teriakan, melainkan gumaman merdu yang konsisten, berulang-ulang, dan datang dari banyak sumber hingga menyatu menjadi sebuah harmoni. Begitulah rumah-rumah para salaf dahulu. Malam mereka dihidupkan dengan tilawah, shalat, dan munajat. Al-Qur’an bukan hanya pajangan di rak, melainkan napas yang menyertai kesunyian malam mereka.
Namun, yang lebih menusuk kalbu adalah pertanyaan di akhir riwayat itu: “Mengapa generasi sekarang merasa aman dari apa yang ditakuti generasi terdahulu?” Apa yang mereka takutkan? Mereka takut tidak mampu menunaikan hak-hak Al-Qur’an. Mereka gemetar akan ancaman di dalamnya. Mereka cemas jika bacaan mereka tidak diiringi dengan perenungan dan amalan. Rasa takut yang lahir dari pengagungan inilah yang membuat interaksi salaf dengan Al-Qur’an begitu hidup dan berbekas.
Ketika Keajaiban Al-Qur’an Mengalahkan Malam Pertama
Jika riwayat pertama menggambarkan interaksi kolektif, maka kisah kedua melukiskan pengalaman personal yang begitu dalam hingga melampaui fitrah insani. Imam Abu ‘Ubaid melanjutkan riwayatnya:
أَنَّ رَجُلًا أُدْخِلَتْ عَلَيْهِ امْرَأَتُهُ فَقَامَ يُصَلِّي حَتَّى أَصْبَحَ وَمَا الْتَفَتَ إِلَيْهَا، قَالَ: فَعُوتِبَ فِي ذَلِكَ فَقَالَ: «إِنِّي قُمْتُ وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ أُصَلِّيَ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ مِنَ السُّنَّةِ عِنْدَ دُخُولِ أَهْلِ الرَّجُلِ عَلَيْهِ، فَمَا زِلْتُ فِي عَجَائِبِ الْقُرْآنِ حَتَّى نَسِيتُهَا»
“Bahwa seorang laki-laki yang baru saja dipertemukan dengan istrinya (di malam pertama), ia lantas berdiri untuk shalat hingga Subuh tiba dan sama sekali tidak menoleh kepada istrinya. Ia pun ditegur karena hal itu, lalu menjawab: ‘Sesungguhnya aku bangkit untuk melaksanakan shalat sunnah dua rakaat… namun aku terus tenggelam dalam keajaiban-keajaiban Al-Qur’an hingga aku melupakannya (lupa pada istriku).'” (Fadha’il al-Qur’an, Abu ‘Ubaid)
Subhanallah! Malam pertama adalah puncak kebahagiaan duniawi yang dinantikan setiap insan. Namun bagi lelaki saleh ini, kenikmatan bermunajat dan menyelami “keajaiban-keajaiban Al-Qur’an” ternyata jauh lebih memabukkan. Ayat-ayat yang dibacanya dalam shalat membuka pintu-pintu ma’rifat dan keindahan yang membuatnya lupa akan segala sesuatu di sekitarnya. Ini adalah level tertinggi dari tadabbur, sebuah bukti betapa Al-Qur’an bisa menjadi penyejuk mata (qurratu a’yun) yang sesungguhnya. Inilah puncak dari sebuah interaksi salaf dengan Al-Qur’an.
Menemukan Kembali Koneksi yang Hilang
Dua kisah ini bukan untuk membuat kita merasa rendah diri, melainkan untuk menjadi cermin dan inspirasi. Mungkin kita tidak akan sampai pada level melupakan pasangan di malam pertama, namun spiritnya bisa kita adopsi. Spirit untuk tidak menjadikan Al-Qur’an sekadar bacaan rutin tanpa ruh, melainkan sebuah dialog mesra dengan Sang Pencipta.
Kita merasa “aman” karena kita belum benar-benar merasakan “takut” sekaligus “nikmat” yang mereka rasakan. Kita aman karena interaksi kita seringkali hanya di permukaan. Padahal, di kedalaman samuderanya, ada mutiara-mutiara keajaiban yang menanti untuk kita selami. Kunci untuk memulai perjalanan ini adalah dengan belajar, memahami, dan mendekatkan diri pada Al-Qur’an dengan bimbingan yang tepat.
Semoga Allah izinkan kita untuk setidaknya bisa merasakan setetes dari lautan kenikmatan interaksi salaf dengan Al-Qur’an, sehingga rumah dan hati kita pun kembali dihiasi dengan “dengungan lebah” yang merdu, dengungan zikir dan tilawah yang menyambungkan kita dengan Arsy-Nya. Aamiin.
Merasakan keindahan dan keajaiban Al-Qur’an dimulai dari langkah pertama: mempelajarinya dengan benar dan sungguh-sungguh. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami siap mendampingi Anda dalam perjalanan mulia ini, menapaki jejak para salaf dalam mencintai Kalam-Nya.
Daftar Referensi
- Al-Hafizh Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam. Fadha’il al-Qur’an. (tahqiq: Marwan al-‘Athiyah, dkk). Damaskus: Dar Ibnu Katsir.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

