Dalam proses dakwah dan pembelajaran Al-Qur’an, setiap guru Al-Qur’an dihadapkan pada beragam latar belakang santri. Ada yang baru belajar membaca, ada yang sudah hafal banyak juz meskipun bacaannya belum sempurna, ada pula yang sudah fasih namun butuh penguatan hafalan.

Pola dakwah kami berangkat dari prinsip apresiasi, bukan keluhan. Setiap murid yang hadir di majelis ilmu disambut dengan penghargaan atas kehadirannya. Setelah itu, dilakukan pengecekkan kemampuan awal, lalu kembali diberikan apresiasi atas kualitas dan usaha mereka. Dari sanalah proses peningkatan potensi dimulai, agar mereka dapat mengoptimalkan apa yang dimiliki selama mengikuti program 28 Hari Hafal Qur’an.

Apresiasi sebagai Pilar Utama

Dalil Al-Qur’an tentang Menghargai Amal

Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah: 7-8)

Ayat ini menjadi dasar bahwa sekecil apa pun usaha santri dalam mempelajari Al-Qur’an patut diapresiasi. Guru tidak boleh meremehkan usaha murid, karena Allah pun menilai sekecil apapun kebaikan.

Hadits tentang Memudahkan Urusan Orang Lain

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
“Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menegaskan bahwa guru Al-Qur’an harus memberi kemudahan, motivasi, dan apresiasi. Jangan sampai sikap guru membuat santri minder atau putus asa.

Ragam Pencapaian Santri dalam 28 Hari Hafal Qur’an

Dalam program 28 Hari Hafal Qur’an, santri memiliki capaian beragam sesuai potensi masing-masing:

  1. Tahsin Tilawah 30 Juz
    Santri yang fokus memperbaiki bacaan sesuai kaidah tajwid, sehingga tilawah 30 juz menjadi indah dan benar.
  2. Mahir Terjemah 30 Juz
    Ada yang lebih menonjol pada aspek pemahaman makna, sehingga mampu menerjemahkan isi Al-Qur’an secara menyeluruh.
  3. 30 Juz Ziyadah
    Ada pula yang Allah mudahkan untuk menambah hafalan 30 juz secara cepat.
  4. 30 Juz Mutqin
    Beberapa santri diberi kekuatan untuk mencapai hafalan 30 juz yang mutqin (kokoh, kuat, dan terjaga).

Setiap pencapaian tersebut memiliki nilai yang tinggi, karena semua adalah jalan menuju pengabdian kepada Allah.

Prinsip Guru Al-Qur’an: Tidak Mengeluh, Tetapi Membimbing

Ada kalanya seorang murid mengaku sudah hafal banyak juz, namun ternyata bacaan dasarnya masih kurang baik. Pada kondisi ini, guru tidak boleh mengeluh.

Sebaliknya, guru harus:

  • Mengapresiasi hafalan yang sudah ada.
  • Membimbing cara memperbaiki bacaan (tahsin).
  • Menguatkan mental santri agar tetap semangat.
  • Mengajarkan strategi peningkatan potensi dengan penuh kasih sayang.

Dalil tentang Menjaga Lisan Guru

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُؤْمِنُ لَيْسَ بِالطَّعَّانِ، وَلَا اللَّعَّانِ، وَلَا الْفَاحِشِ، وَلَا الْبَذِيءِ
“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, dan berkata buruk.”
(HR. Tirmidzi)

Guru Al-Qur’an seharusnya menjadi teladan kelembutan, bukan sumber keluhan atau kata-kata kasar.

Mengoptimalkan Potensi Santri

Fokus pada Kekuatan

Setiap murid memiliki potensi unik. Ada yang lebih kuat di hafalan, ada yang lebih mudah memahami makna, ada yang tekun dalam murojaah. Tugas guru adalah menemukan kekuatan itu lalu mengembangkannya.

Metode Apresiasi-Optimalisasi

  1. Apresiasi kehadiran → memberikan rasa diterima.
  2. Pengecekkan kemampuan awal → mengetahui titik mulai.
  3. Apresiasi pencapaian awal → menumbuhkan percaya diri.
  4. Optimalisasi potensi → mendorong pencapaian maksimal.

Pola dakwah dalam pembelajaran Al-Qur’an harus berangkat dari apresiasi, bukan keluhan. Setiap murid berhak dihargai usahanya, sekecil apa pun itu. Dengan metode apresiasi dan optimalisasi, guru Al-Qur’an dapat melahirkan santri yang beragam pencapaiannya: ada yang kuat di bacaan, ada yang mahir terjemah, ada yang bertambah hafalannya, bahkan ada yang mutqin 30 juz.

Inilah esensi dakwah Qur’ani: memberi kabar gembira, memudahkan, dan mengantarkan umat agar semakin dekat dengan Kitabullah.

author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri