Mukadimah: Syukur atas Nikmat Persaudaraan
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِنَا فَأَصْبَحْنَا بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
“Segala puji bagi Allah yang telah mempersatukan hati kami, sehingga dengan nikmat-Nya kami menjadi bersaudara. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Rahmat, Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.”
Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala, yang dengan rahmat-Nya kita dipertemukan kembali dalam suasana penuh kehangatan di bulan Ramadhan. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada teladan kita, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang sangat menekankan pentingnya menjaga hubungan kasih sayang di antara sesama manusia, terutama keluarga.
Buka Bersama: Lebih dari Sekadar Makan
Hadirin yang dimuliakan Allah, fenomena buka bersama atau “bukber” telah menjadi tradisi yang tak terpisahkan di masyarakat kita. Namun, seringkali kita terjebak pada euforia kumpul-kumpul semata, tanpa menyentuh esensi yang lebih dalam. Ramadhan adalah bulan rekonsiliasi—waktu terbaik untuk memperbaiki hubungan yang retak, menyambung kabel yang putus, dan meluluhkan ego yang membeku.
Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan kita untuk senantiasa menjaga silaturahmi, sebagaimana firman-Nya dalam Surah An-Nisa ayat 1:
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”
Bahaya Memutuskan Tali Persaudaraan
Hadirin sekalian, betapa ruginya orang yang berpuasa namun masih menyimpan dendam atau memutus hubungan dengan kerabatnya. Tahukah kita bahwa amal ibadah orang yang bermusuhan akan tertahan? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda dalam hadis sahih:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
“Tidak akan masuk surga orang yang memutus (tali silaturahmi).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, momentum buka bersama keluarga harus kita jadikan sebagai meja perundingan hati. Saat kita duduk melingkar menghadapi hidangan yang sama, saat itulah waktu yang tepat untuk saling memaafkan. Jangan biarkan pahala puasa kita menguap begitu saja hanya karena gengsi untuk meminta maaf atau memberi maaf.
Kisah Inspiratif: Kelapangan Hati Abu Bakar
Mari kita teladani kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Beliau pernah sangat marah kepada kerabatnya yang bernama Misthah karena ikut menyebarkan fitnah terhadap putri beliau, Aisyah. Abu Bakar pun bersumpah tidak akan memberi bantuan lagi kepada Misthah.
Namun, ketika Allah menurunkan ayat yang menganjurkan untuk memaafkan, Abu Bakar langsung mencabut sumpahnya dan kembali memberi bantuan, seraya berkata, “Demi Allah, aku sangat ingin Allah mengampuniku.” Inilah esensi rekonsiliasi: kita memaafkan orang lain agar Allah pun memaafkan dosa-dosa kita.
Mewujudkan Rekonsiliasi di Meja Makan
Bagaimana cara menjadikan buka bersama sebagai sarana rekonsiliasi yang efektif? Pertama, luruskan niat. Datanglah ke acara keluarga bukan untuk pamer keberhasilan, melainkan untuk merajut kasih sayang. Kedua, hindari topik pembicaraan yang sensitif atau memicu perdebatan. Ketiga, jadilah pihak yang memulai sapaan atau jabat tangan.
Ingatlah, hidangan yang paling lezat dalam buka bersama bukanlah rendang atau es buah, melainkan rasa tenang karena hati yang sudah bersih dari penyakit hati berupa benci dan dengki.
Kesimpulan dan Doa Penutup
Sebagai kesimpulan, mari kita manfaatkan sisa Ramadhan ini untuk mendekap kembali anggota keluarga yang mungkin selama ini menjauh. Jadikan momen berbuka sebagai saksi kembalinya cinta di tengah keluarga kita. Semoga Allah memudahkan langkah kita dalam menyambung kebaikan.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ
“Ya Allah, perbaikilah hubungan di antara kami, persatukanlah hati kami, dan tunjukkanlah kami jalan-jalan kedamaian.”
Demikian yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf atas segala kekurangan. Semoga keluarga kita selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wata’ala.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

