Dalam perjalanan hidup ini, seringkali kita terpukau oleh hal-hal yang bersifat kasat mata, seperti kekayaan, ketenaran, atau kedudukan. Pujian manusia, sanjungan atas pencapaian, atau kekaguman terhadap seseorang seringkali menjadi tolok ukur kebahagiaan. Namun, apakah benar kebahagiaan dan keberkahan sejati itu terletak pada hal-hal fana tersebut?
Sebuah kisah yang diriwayatkan dari Ibrahim bin Yazid An-Nakha’i, seorang tabi’in terkemuka, menggambarkan sebuah sudut pandang yang mendalam. Suatu ketika, ada seorang wanita yang bertemu dengan Nabi Isa alaihissalam. Wanita itu begitu terkesima oleh keagungan Isa hingga ia berseru, “Sungguh beruntung rahim yang mengandungmu, dan payudara yang menyusuimu.” Pujian tulus yang lahir dari kekaguman seorang hamba kepada utusan Allah yang mulia.
Namun, jawaban yang diberikan oleh Nabi Isa alaihissalam sungguh menggetarkan jiwa dan meluruskan persepsi kita tentang keberkahan yang hakiki. Beliau bersabda:
طُوبَى لِمَنْ قَرَأَ كِتَابَ اللَّهِ ثُمَّ اتَّبَعَ مَا فِيهِ
Artinya: “Sungguh beruntunglah (Thuba) bagi siapa saja yang membaca Kitabullah, kemudian mengikuti apa yang ada di dalamnya.”
Kisah ini bukan sekadar narasi belaka, melainkan sebuah petunjuk agung yang mengubah paradigma kita tentang keberuntungan. Keberuntungan yang sejati, menurut Nabi Isa, bukanlah pada ikatan darah, keturunan, atau kemuliaan secara fisik semata, melainkan pada bagaimana kita berinteraksi dengan Kitabullah, Al-Qur’an.
Dua Pilar Keberkahan: Membaca dan Mengikuti
Membaca Kitabullah: Lebih dari Sekadar Melafazkan
Ketika Nabi Isa menyebut “membaca Kitabullah”, ini tentu tidak hanya berarti melafazkan huruf-huruf Arabnya semata. Membaca Al-Qur’an adalah sebuah proses yang holistik. Ia melibatkan indra pendengaran untuk menyimak, mata untuk melihat mushaf, lisan untuk mengucapkan, akal untuk memahami, dan hati untuk meresapi. Inilah yang kita sebut dengan tilawah dan tadabbur.
Tilawah yang benar adalah membaca dengan tartil, sesuai tajwid, dan penuh penghayatan. Setiap huruf yang kita lantunkan memiliki pahala dan keberkahan. Namun, ia tidak akan lengkap tanpa tadabbur, yaitu perenungan mendalam atas makna-makna yang terkandung di dalamnya. Bagaimana mungkin kita dapat mengikuti petunjuk jika kita tidak memahami apa yang sedang kita baca?
Al-Qur’an sendiri menegaskan fungsinya sebagai petunjuk:
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ
Artinya: “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 2)
Jelas sekali, bahwa ia adalah petunjuk. Maka, tugas kita adalah membuka hati dan pikiran untuk menerima petunjuk itu melalui proses membaca dan merenunginya.
Mengikuti Apa yang Ada di Dalamnya: Puncak Keberkahan
Bagian kedua dari sabda Nabi Isa alaihissalam adalah inti dari keberkahan sejati: “kemudian mengikuti apa yang ada di dalamnya.” Setelah kita membaca, memahami, dan merenungi, langkah selanjutnya adalah mengamalkan. Al-Qur’an bukan sekadar buku bacaan indah yang disimpan di rak, atau kumpulan lantunan merdu yang hanya didengarkan tanpa makna. Al-Qur’an adalah panduan hidup, konstitusi ilahi yang menuntun setiap aspek kehidupan seorang mukmin.
Mengikuti apa yang ada di dalam Al-Qur’an berarti:
- Menerima segala perintah-Nya: Melaksanakan shalat, puasa, zakat, haji, berbuat baik kepada sesama, dan seluruh syariat yang diwajibkan.
- Menjauhi segala larangan-Nya: Meninggalkan riba, zina, ghibah, dusta, hasad, dan segala bentuk kemaksiatan yang dilarang.
- Mengambil pelajaran dari kisahnya: Meresapi kisah para nabi dan umat terdahulu sebagai cermin dan motivasi.
- Menjadikan akhlak Al-Qur’an sebagai akhlak kita: Kejujuran, amanah, sabar, syukur, kasih sayang, dan seluruh sifat mulia yang diajarkan Al-Qur’an menjadi karakter diri.
- Merujuk Al-Qur’an dalam setiap permasalahan: Menjadikannya sebagai hakim dan penentu kebenaran dalam setiap perselisihan dan keraguan.
Tanpa pengamalan, pembacaan Al-Qur’an hanya akan menjadi ritual tanpa ruh. Ia tidak akan banyak memberi dampak transformatif pada diri dan lingkungan kita. Seperti pohon yang akarnya kuat, batangnya kokoh, namun tidak menghasilkan buah, demikianlah orang yang hanya membaca tanpa mengamalkan. Berkah sejati akan datang ketika kita menjadikan Al-Qur’an sebagai peta jalan yang kita ikuti dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar teori yang kita hafal.
Menuju Keberkahan Hidup Melalui Al-Qur’an
Ketika kita benar-benar membaca Al-Qur’an dengan hati yang hidup dan mengamalkan setiap petunjuknya, maka kita akan merasakan keberkahan yang luar biasa dalam hidup. Jiwa akan tentram, hati akan lapang, pikiran akan jernih, dan setiap langkah kita akan terasa dalam bimbingan Ilahi. Inilah janji Allah bagi mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai imam dalam kehidupannya.
Mari kita tingkatkan interaksi kita dengan Al-Qur’an. Bukan hanya kuantitas bacaan, tetapi juga kualitas pemahaman dan yang paling penting adalah kualitas pengamalan. Jadikanlah setiap ayat yang kita baca sebagai inspirasi untuk berbuat lebih baik, dan setiap perintah-Nya sebagai pendorong untuk taat. Dengan demikian, kita akan termasuk golongan orang-orang yang “Thuba”, yang diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti yang disabdakan oleh Nabi Isa alaihissalam.
Semoga kita semua dimudahkan untuk menjadi pembaca sekaligus pengamal sejati Al-Qur’an, sehingga keberkahan senantiasa menyelimuti kehidupan kita di dunia hingga akhirat.
Ingin mendalami Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam hidup Anda? Bergabunglah dengan program Executive Tahfizh di Qur’an Learning Center Yogyakarta, tempat Anda akan dibimbing untuk menghafal, memahami, dan menghayati Al-Qur’an secara mendalam.
Daftar Referensi
- Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam, Kitab Fadailul Quran, Bab Fadhilatul Quran Wa Ta’allumihi Wa Ta’limihi Lin Naas, hlm. 57 (Hadits dari Ibrahim bin Yazid An-Nakha’i).
- Q.S. Al-Baqarah: 2
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

