Bentuk Cinta Sejati: Adab Memuliakan Al-Qur’an
Ada getar yang berbeda ketika Kalamullah mulai bersemayam dalam jiwa. Ia bukan sekadar untaian kata yang dihafal, melainkan cahaya yang membentuk ulang kepribadian, meluruskan perilaku, dan menghaluskan adab. Al-Qur’an menuntut untuk dimuliakan, dan pemuliaan itu bukanlah ritual kosong, melainkan cerminan cinta yang paling jujur dari seorang hamba. Inilah esensi dari adab memuliakan Al-Qur’an, sebuah seni menjaga kemuliaan firman-Nya dalam setiap sendi kehidupan kita.
Para salafus shalih telah memberikan kita teladan agung tentang bagaimana seharusnya interaksi ini terjalin. Bagi mereka, menjadi seorang haamilul qur’an (pembawa Al-Qur’an) adalah sebuah kehormatan yang menuntut konsekuensi adab di level tertinggi. Mari kita selami beberapa mutiara hikmah dari kitab Fadhailul Qur’an karya Imam Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam.
Cermin Adab dari Sang Teladan Utama
Segala kebaikan berhulu pada sosok mulia, Rasulullah ﷺ. Cara beliau mengagungkan Al-Qur’an tercermin bahkan dalam urusan yang paling personal sekalipun. Sebuah riwayat menyentuh datang dari ibunda kita, ‘Aisyah Ash-Shiddiqah radhiyallahu ‘anha.
مَا بَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قَائِمًا مُنْذُ أُنْزِلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ
‘Aisyah berkata, “Rasulullah ﷺ tidak pernah buang air kecil sambil berdiri sejak Al-Qur’an diturunkan kepadanya.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhailul Qur’an)
Subhanallah. Coba kita renungkan sejenak. Apa hubungan antara wahyu yang turun dengan adab buang air kecil? Inilah kedalaman cinta dan pengagungan. Sejak membawa Kalamullah di dalam dirinya, Rasulullah ﷺ meninggikan standar adabnya dalam segala hal. Beliau seakan berkata, “Diri ini telah menjadi wadah bagi firman yang Maha Agung, maka tidak pantas baginya melakukan sesuatu kecuali dengan cara yang paling terhormat dan paling mulia.” Ini adalah pelajaran pertama dan utama dalam adab memuliakan Al-Qur’an: ia dimulai dari kesadaran diri.
Menjaga Kemurnian “Jalan” Al-Qur’an
Para ulama generasi awal sangat memahami bahwa mulut yang melantunkan Al-Qur’an bukanlah mulut biasa. Ia adalah gerbang, jalan penghubung antara hati seorang hamba dengan Kalam Rabb-nya. Karena itu, mereka menjaganya dengan kesungguhan luar biasa.
Lihatlah bagaimana sikap seorang Tabi’in mulia, Qatadah rahimahullah.
مَا أَكَلْتُ الْكُرَّاثَ مُنْذُ قَرَأْتُ الْقُرْآنَ
Qatadah berkata, “Aku tidak pernah makan daun bawang (kurrats) sejak aku membaca (menghafal) Al-Qur’an.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhailul Qur’an)
Hal serupa juga diungkapkan oleh Yazid bin Abi Malik, yang menasihati dengan untaian kalimat puitis dan penuh makna.
إِنَّ أَفْوَاهَكُمْ طُرُقٌ مِنْ طُرُقِ اللَّهِ تَعَالَى فَنَظِّفُوهَا مَا اسْتَطَعْتُمْ
Yazid bin Abi Malik berkata, “Sesungguhnya mulut-mulut kalian adalah jalan dari jalan-jalan Allah Ta’ala, maka bersihkanlah semampu kalian.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhailul Qur’an)
Pesan ini begitu kuat hingga sang perawi setelahnya berkata, “Maka aku tidak pernah makan bawang sejak aku membaca Al-Qur’an.” Apakah ini berarti bawang dan sejenisnya haram? Tentu tidak. Ini adalah tentang *ihtiram* (penghormatan). Ini tentang menjaga agar “jalan” yang akan dilalui oleh ayat-ayat suci senantiasa dalam keadaan bersih dan wangi. Ini adalah praktik nyata dari adab memuliakan Al-Qur’an yang bisa kita terapkan, setidaknya dengan bersiwak atau menggosok gigi sebelum membacanya.
Dari Pengagungan Hati Menuju Perilaku Mulia
Kisah-kisah di atas bukanlah sekadar aturan kaku, melainkan buah dari pengagungan yang bersemi di dalam hati. Ketika hati telah mengagungkan Al-Qur’an, secara otomatis ia akan menggerakkan seluruh anggota tubuh untuk turut memuliakannya.
Maka, mari kita bertanya pada diri sendiri. Sudahkah getaran cinta dan pengagungan itu hadir? Sudahkah ia mengubah cara kita berbicara, cara kita bersikap, bahkan cara kita memilih apa yang masuk ke dalam lisan kita? Perjalanan menghafal Al-Qur’an sejatinya adalah perjalanan transformasi adab. Semakin banyak ayat yang kita hafal, seharusnya semakin mulia pula akhlak yang kita tampilkan. Inilah bukti bahwa Al-Qur’an benar-benar telah hidup dalam diri kita, bukan sekadar singgah di memori. Mengamalkan adab memuliakan Al-Qur’an adalah tanda kesuksesan sejati seorang penghafal.
Semoga Allah Ta’ala membimbing kita untuk tidak hanya menjadi penghafal lafazh Al-Qur’an, tetapi juga menjadi penjaga kemuliaan dan pengamal adab-adabnya. Perjalanan ini memang butuh bimbingan dan lingkungan yang mendukung. Memahami dan mengamalkan adab mulia ini adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan tahfizh yang kami bimbing dengan sepenuh hati di Qur’an Learning Center Yogyakarta, tempat di mana Al-Qur’an dihidupkan dalam hafalan dan amalan.
Daftar Referensi
- Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam. Fadhailul Qur’an. (tahqiq: Marwan Al-Athiyah, dkk). Damaskus: Dar Ibnu Katsir.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

