Pendahuluan: Melampaui Batas Kemampuan Biasa

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْقُرْآنَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِ الْأَنَامِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْكِرَامِ

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan. Shalawat serta salam bagi pemimpin manusia (Nabi Muhammad), keluarga, dan para sahabatnya yang mulia.”

Hadirin yang dirahmati Allah, ketika kita berbicara tentang Ramadhan, kita seringkali merasa bangga jika berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an satu kali dalam sebulan. Namun, jika kita menengok sejarah para raksasa iman terdahulu, kita akan menemukan standar yang luar biasa. Salah satunya adalah Imam Syafi’i rahimahullah, pendiri mazhab Syafi’i yang menjadi panutan mayoritas umat Islam di negeri kita.


Rahasia 60 Kali Khatam dalam Sebulan

Diriwayatkan secara sahih oleh murid-murid beliau, bahwa Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali selama bulan Ramadhan. Itu berarti beliau mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali dalam sehari semalam; satu kali di siang hari dan satu kali di malam hari.

Mungkin akal kita bertanya, “Bagaimana mungkin?” Hal ini bukan soal kecepatan lisan semata, melainkan tentang keberkahan waktu yang Allah berikan kepada orang-orang yang mencintai-Nya. Allah berfirman:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (QS. Al-Isra: 9)

Bagi Imam Syafi’i, Al-Qur’an adalah sumber energi. Beliau tidak merasa lelah membacanya karena jiwanya sudah menyatu dengan ayat-ayat Allah. Semangat Imam Syafi’i ini lahir dari pemahaman bahwa Ramadhan adalah waktu yang sangat terbatas untuk memanen pahala yang tak terbatas.

Kualitas di Balik Kuantitas

Sering ada anggapan bahwa membaca terlalu cepat menghilangkan tadabbur. Namun, bagi ulama sekelas Imam Syafi’i, Al-Qur’an sudah mengalir dalam darahnya. Beliau membacanya dengan cepat namun tetap dalam keadaan shalat atau sedang bermunajat. Beliau membuktikan bahwa kesibukan mengajar dan berijtihad tidak boleh mengalahkan interaksi pribadi dengan Kalamullah.

Hal ini memberikan pelajaran bagi kita bahwa hambatan terbesar dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an bukanlah kesibukan, melainkan kurangnya rasa cinta. Jika kita mencintai sesuatu, kita akan selalu menemukan waktu untuknya.


Kesimpulan dan Penutup

Hadirin sekalian, mungkin kita belum mampu mengkhatamkan 60 kali seperti beliau. Namun, mari kita teladani semangatnya. Tingkatkan durasi interaksi kita dengan Al-Qur’an. Jika biasanya sehari hanya satu lembar, naikkan menjadi satu juz. Jika biasanya satu juz, naikkan menjadi dua juz. Jadikan Imam Syafi’i sebagai motivasi bahwa batas kemampuan manusia bisa meluas dengan bantuan keberkahan dari Allah.

Mari kita berdoa agar Allah mencintai kita melalui Al-Qur’an:

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا تِلَاوَةَ الْقُرْآنِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي يُرْضِيكَ عَنَّا

“Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kemampuan membaca Al-Qur’an di waktu malam dan siang, dengan cara yang membuat-Mu ridha kepada kami.”

Semoga Allah memberkahi waktu kita semua. Mohon maaf atas segala kekurangan.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Karantina Tahfidz Quran Jogja
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,