Menghidupkan Al-Qur’an di Kota Pelajar
Yogyakarta, dengan segala dinamikanya sebagai Kota Pelajar dan pusat budaya, menawarkan atmosfer yang unik bagi para penuntut ilmu. Di tengah hiruk-pikuk kesibukan akademis mahasiswa dan rutinitas profesional yang padat, terselip kerinduan mendalam di hati banyak orang untuk menjadi bagian dari keluarga Allah (Ahlullah) melalui hafalan Al-Qur’an. QLC (Quran Learning Center) Yogyakarta hadir merespons kebutuhan ini, menjadi oase bagi mereka yang ingin menyeimbangkan kesuksesan duniawi dengan kekayaan spiritual. Namun, dalam perjalanan menghafal ini, seringkali muncul kebingungan mendasar mengenai dua pilar utama tahfizh: Ziyadah dan Muraja’ah. Memahami perbedaan dan seni menyeimbangkan keduanya adalah kunci sukses bagi para santri di Jogja agar tidak sekadar hafal sesaat, namun lekat sepanjang hayat.
Banyak pemula yang terjebak dalam euforia menambah hafalan baru tanpa strategi yang matang dalam menjaganya. Akibatnya, hafalan menjadi seperti “buih di lautan”—banyak jumlahnya, namun rapuh kekuatannya. Artikel ini akan mengupas tuntas esensi Ziyadah dan Muraja’ah dalam konteks pembelajaran di QLC Yogyakarta, serta bagaimana metode ini diterapkan untuk mencetak generasi Qur’ani yang mutqin.
Ziyadah: Seni Menambah Hafalan Baru
Secara bahasa, Ziyadah bermakna “tambahan”. Dalam terminologi tahfizh Al-Qur’an, Ziyadah adalah proses menyetorkan hafalan ayat-ayat baru yang belum pernah dihafal sebelumnya kepada seorang guru (muhaffizh/ah). Ini adalah langkah progresif untuk memperluas cakupan hafalan dari satu juz ke juz berikutnya.
Di QLC Yogyakarta, proses Ziyadah tidak dilakukan secara sembarangan. Sebelum menyetorkan hafalan baru, santri diwajibkan untuk memperbaiki bacaan (tahsin) terlebih dahulu. Mengapa demikian? Karena menghafal kesalahan jauh lebih mudah daripada memperbaikinya di kemudian hari. Santri diajarkan untuk melakukan Talqin (mendengarkan bacaan guru) atau menyimak audio syaikh yang mutqin sebelum mulai menghafal mandiri. Bagi kalangan profesional atau eksekutif yang mungkin memiliki keterbatasan waktu dan menginginkan privasi serta fasilitas lebih, program seperti Executive Tahfizh bisa menjadi alternatif solusi untuk mendapatkan bimbingan Ziyadah yang lebih personal dan intensif.
Tantangan terbesar dalam Ziyadah di lingkungan perkotaan seperti Yogyakarta adalah fokus. Distraksi dari gawai, tugas kuliah, atau pekerjaan kantor sering memecah konsentrasi. Oleh karena itu, metode Ziyadah yang efektif menekankan pada penggunaan waktu-waktu emas, seperti ba’da Subuh atau sepertiga malam terakhir, di mana pikiran masih jernih dan belum terkontaminasi urusan dunia.
Muraja’ah: Kunci Keabadian Hafalan
Jika Ziyadah adalah proses membangun bangunan, maka Muraja’ah adalah proses merawat dan memperkokoh pondasinya agar tidak roboh. Kata Muraja’ah berasal dari kata raja’a yang berarti “kembali”. Maknanya adalah kembali membaca atau mengulang hafalan yang sudah pernah disetorkan. Dalam tradisi pesantren dan lembaga tahfizh seperti QLC, Muraja’ah dianggap lebih krusial daripada Ziyadah.
تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنَ الإِبِلِ فِي عُقُلِهَا
“Jagalah Al-Qur’an (dengan sering membacanya). Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh Al-Qur’an itu lebih mudah lepas (hilang dari ingatan) daripada unta dalam ikatannya.” (HR. Bukhari no. 5033)
Hadits di atas menjadi pengingat keras bagi para penghafal. Karakteristik Al-Qur’an memang mudah lepas jika tidak dijaga. Di QLC Yogyakarta, santri ditekankan bahwa “Hafalan yang kuat (Mutqin) adalah hafalan yang sering diulang, bukan yang cepat dihafal.” Ada dua jenis Muraja’ah yang diterapkan:
- Muraja’ah Maqra/Jadid: Mengulang hafalan baru (misalnya 5 halaman terakhir) sebelum menambah Ziyadah baru. Ini untuk memastikan hafalan jangka pendek berpindah ke memori jangka menengah.
- Muraja’ah Kubra/Manzil: Mengulang hafalan lama (keseluruhan yang sudah dihafal) secara berkala. Idealnya, seorang penghafal menyelesaikan putaran seluruh hafalannya minimal sekali dalam sepekan.
Menyeimbangkan Ziyadah dan Muraja’ah
Kesalahan fatal yang sering terjadi pada penghafal pemula adalah terlalu bernafsu mengejar target Ziyadah (khatam 30 juz) namun menelantarkan Muraja’ah. Akibatnya, fenomena “hafal ujung lupa pangkal” pun terjadi. Ketika sampai di juz 30, juz 1 sudah hilang entah kemana. Di QLC Yogyakarta, kurikulum disusun untuk menyeimbangkan keduanya.
Strategi yang disarankan adalah Sistem Paralel. Artinya, dalam satu sesi halaqah, waktu dibagi dua. Misalnya, durasi belajar 2 jam. Maka 1 jam pertama digunakan untuk menyetorkan Muraja’ah (minimal 1/4 juz atau sesuai kemampuan), dan 1 jam berikutnya digunakan untuk menyetorkan Ziyadah. Dengan cara ini, progres penambahan hafalan tetap berjalan, namun “aset” hafalan yang sudah dimiliki tetap terjaga.
Bagi mahasiswa atau pekerja di Jogja, manajemen waktu adalah segalanya. Memanfaatkan waktu luang di sela-sela aktivitas, seperti saat menunggu dosen, saat istirahat kerja, atau dalam perjalanan, untuk melakukan Muraja’ah mandiri (Muraja’ah *Bil Ghaib*) sangat dianjurkan. QLC menyediakan lingkungan (biah) yang kondusif di mana teman sekelompok (circle) saling menyimak hafalan satu sama lain, menciptakan peer pressure yang positif.
Belajar dari Keteladanan Ulama Salaf
Semangat menjaga hafalan ini bukanlah hal baru, melainkan warisan para ulama. Mari kita renungkan kisah Imam Az-Zuhri, seorang ulama besar ahli hadits dan Al-Qur’an. Beliau dikenal sangat disiplin dalam mengulang ilmunya. Beliau pernah berkata, “Sesungguhnya ilmu itu akan hilang jika tidak diulang-ulang (dimuraja’ah).” Bahkan diriwayatkan bahwa beliau sering mengumpulkan pembantu-pembantunya hanya untuk mendengarkan beliau mengulang hafalan hadits dan Al-Qur’an, demi memastikan hafalannya tetap melekat kuat.
Kisah lain datang dari Al-Kisa’i, salah satu imam Qira’at sab’ah. Beliau sadar bahwa manusia tempatnya lupa. Maka, beliau menjadikan setiap momen, bahkan saat berjalan atau hendak tidur, sebagai waktu untuk Muraja’ah. Keteguhan hati seperti inilah yang coba ditanamkan kepada para santri di Yogyakarta. Bahwa menghafal Al-Qur’an bukan sekadar tren gaya hidup hijrah, melainkan komitmen seumur hidup untuk menjaga Kalamullah.
Tantangan Psikologis dan Solusinya
Perjalanan menghafal Al-Qur’an tidak selamanya mulus. Ada fase jenuh (futur) yang pasti menghampiri, terutama saat hafalan semakin banyak dan beban Muraja’ah semakin berat. Di sinilah peran QLC Yogyakarta sebagai komunitas. Dengan adanya pembimbing (musyrif) yang memantau perkembangan santri, rasa lelah bisa dikomunikasikan dan dicarikan solusinya.
Salah satu solusi psikologis adalah mengubah *mindset*. Jangan jadikan Muraja’ah sebagai beban utang yang harus dibayar, tapi jadikanlah sebagai kebutuhan jiwa untuk berkomunikasi dengan Allah. Ketika orientasi kita adalah kenikmatan membaca (Tilawah), maka mengulang-ulang ayat yang sama puluhan kali tidak akan terasa membosankan, justru semakin menambah rasa cinta.
Kesimpulan
Ziyadah dan Muraja’ah adalah dua sayap burung yang tidak bisa dipisahkan. Jika salah satu patah, maka sang burung tidak akan bisa terbang tinggi. Ziyadah memberikan kita harapan untuk menyelesaikan target, sedangkan Muraja’ah memberikan kita kepastian bahwa apa yang kita usahakan tidak sia-sia. Bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, bergabung dengan komunitas seperti QLC adalah langkah strategis untuk menjaga konsistensi (istiqomah) dalam menghafal.
Ingatlah, Allah tidak menilai seberapa cepat kita khatam, tetapi seberapa setia kita menjaga ayat-ayat-Nya di dalam dada. Mulailah dari sekarang, atur jadwal Ziyadah yang realistis, dan disiplinkan diri dalam Muraja’ah. Insya Allah, keberkahan Al-Qur’an akan menaungi kehidupan kita di dunia dan menjadi syafaat di akhirat kelak.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan yang senantiasa menjaga Al-Qur’an, membacanya di penghujung malam dan siang hari, serta mengamalkan isinya. Aamiin.”
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

