Dunia Al-Qur’an adalah samudra ilmu yang tak bertepi, menyimpan keagungan dan detail yang menuntut kita untuk senantiasa mendalaminya. Setiap huruf, setiap harakat, setiap kaidah, memiliki hikmah dan alasannya sendiri. Sebagai seorang muslim yang berintertekstual dengan firman Ilahi, kita dihadapkan pada nuansa-nuansa keilmuan yang memperkaya pemahaman kita terhadap Kalamullah. Salah satu pembahasan yang menarik dan kadang menimbulkan pertanyaan adalah mengenai adab memulai bacaan di tengah-tengah sebuah surat, khususnya yang berkaitan dengan basmalah, dan lebih spesifik lagi, hukum basmalah di tengah Surat At-Tawbah menurut ulama.
Surat At-Tawbah, atau yang dikenal juga dengan nama Surat Bara’ah, memiliki kekhususan yang unik dibandingkan surat-surat lainnya dalam Al-Qur’an. Kita sama-sama mengetahui bahwa setiap surat dalam mushaf Al-Qur’an, kecuali At-Tawbah, diawali dengan bacaan Basmalah: Bismillahirrahmanirrahim. Ketiadaan basmalah di awal surat ini bukan tanpa alasan, melainkan karena ia diturunkan sebagai pernyataan permusuhan dan pemutusan perjanjian dengan kaum musyrikin. Sebuah permulaan yang penuh dengan peringatan keras, sehingga tidak selaras dengan esensi basmalah yang mengandung makna rahmat dan kasih sayang Allah SWT.
Namun, bagaimana jika seseorang memulai bacaan Al-Qur’an di pertengahan Surat At-Tawbah? Apakah keistimewaan tanpa basmalah ini berlaku untuk seluruh bagian surat, atau hanya pada permulaannya saja? Inilah yang menjadi titik perdebatan para ulama, sebuah khilaf yang menunjukkan kedalaman dan ketelitian mereka dalam menjaga kemurnian tata cara membaca Al-Qur’an. Pembahasan mengenai hukum basmalah di tengah Surat At-Tawbah menurut ulama ini telah menjadi perhatian para ahli qira’ah sejak dahulu kala.
Ibnu Al-Jazari, seorang imam besar dalam ilmu qira’at, sebagaimana dikutip oleh Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Itqan fi Ulumil Quran, menyatakan:
قَالَ ابْنُ الْجَزَرِيِّ: الِابْتِدَاءُ بِالْآيِ وَسَطَ بَرَاءَةٍ قَلَّ مَنْ تَعَرَّضَ لَهُ وَقَدْ صَرَّحَ بِالْبَسْمَلَةِ فِيهِ أَبُو الْحَسَنِ السخاوي ورد عليه الجعبري.
“Ibnu Al-Jazari berkata: Memulai bacaan dengan ayat di pertengahan Surat Bara’ah (At-Tawbah) sedikit sekali yang membahasnya. Abu Al-Hasan As-Sakhawi telah menegaskan bolehnya basmalah di dalamnya, namun Al-Ja’bari membantahnya.”
Dari kutipan ini, kita melihat adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama terkemuka. Abu Al-Hasan As-Sakhawi, seorang ulama ahli qira’at, berpendapat bahwa diperbolehkan membaca basmalah ketika memulai dari tengah Surat At-Tawbah. Alasannya mungkin berdasar pada kaidah umum bahwa basmalah dianjurkan ketika memulai bacaan Al-Qur’an dari tengah surat manapun, untuk mencari keberkahan dan memohon pertolongan Allah, terlepas dari kekhususan permulaan Surat At-Tawbah. Namun, pandangan ini kemudian dibantah oleh Al-Ja’bari, ulama lain yang juga ahli dalam ilmu qira’at.
Bantahan Al-Ja’bari kemungkinan didasarkan pada prinsip bahwa larangan basmalah di Surat At-Tawbah adalah sebuah kekhususan yang melekat pada surat itu sendiri, baik di awal maupun di tengah. Hal ini untuk menjaga keseragaman suasana dan makna yang terkandung dalam surat tersebut, yaitu makna pemutusan dan peringatan. Ketika kita memahami detail hukum basmalah di tengah Surat At-Tawbah menurut ulama, kita diajak untuk melihat bagaimana para ulama begitu teliti dalam setiap aspek Al-Qur’an.
Meskipun ada khilaf, pandangan yang lebih umum dan banyak dipegang oleh para ulama adalah tidak disunahkan membaca basmalah saat memulai dari tengah Surat At-Tawbah, serupa dengan permulaannya. Cukup dengan membaca ta’awwudz (A’udzu billahi minasy syaithonir rajim) sebagai perlindungan dari godaan setan. Ini sejalan dengan firman Allah SWT:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Surat An-Nahl ayat 98: “Apabila kamu membaca Al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
Ayat ini menjadi dalil umum bagi kita untuk senantiasa berta’awwudz sebelum membaca Al-Qur’an. Sementara itu, mengenai basmalah, Nabi Muhammad SAW bersabda:
كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيهِ بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ أَقْطَعُ
Hadits Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad (dengan sanad yang diperbincangkan): “Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan ‘Bismillahirrahmanirrahim’, maka terputus (kurang berkah).”
Hadits ini seringkali menjadi dasar anjuran basmalah dalam setiap perkara baik, termasuk membaca Al-Qur’an. Namun, dalam konteks Surat At-Tawbah, keunikan surat tersebut menjadi pengecualian yang diakui oleh mayoritas ulama. Jadi, dalam aplikasi praktis, ketika kita memulai bacaan dari tengah Surat At-Tawbah, cukup dengan berta’awwudz saja, tanpa perlu basmalah. Ini adalah bentuk ketawadhuan kita terhadap ilmu dan adab yang telah digariskan para ulama.
Memahami perbedaan pandangan ini bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk memperkaya khazanah keilmuan kita dan melatih kedewasaan kita dalam beragama. Ini menunjukkan betapa dinamisnya ilmu dalam Islam, di mana setiap pendapat didasari oleh dalil dan penalaran yang kuat. Mengkaji hukum basmalah di tengah Surat At-Tawbah menurut ulama adalah jembatan untuk kita semakin dekat dengan Al-Qur’an, bukan hanya sekadar membaca, tapi juga memahami ruh dan adab di baliknya.
Maka, mari kita jadikan setiap momen bersama Al-Qur’an sebagai kesempatan untuk merenung, mempelajari, dan mengamalkan. Dengan ilmu yang mendalam, kita akan lebih yakin dan mantap dalam beribadah. Setiap kali kita membuka mushaf dan membaca kalam-Nya, baik itu di awal surat yang dihiasi basmalah, maupun di tengah Surat At-Tawbah tanpa basmalah, hati kita akan dipenuhi dengan ketenangan dan kekhusyukan yang hakiki. Inilah esensi dari menjadi seorang pembelajar Al-Qur’an sejati.
Perjalanan kita dalam memahami Al-Qur’an memang takkan pernah usai. Setiap detail kecil, seperti hukum basmalah di tengah Surat At-Tawbah menurut ulama, adalah gerbang menuju hikmah yang lebih besar. Dengan semangat untuk terus belajar, mencari kebenaran, dan mengamalkan setiap petunjuk-Nya, kita akan menemukan kedamaian dan keberkahan dalam hidup. Mari terus bersemangat dalam menimba ilmu Al-Qur’an, agar setiap langkah kita selalu dalam bimbingan-Nya.
Apakah Anda siap untuk menggali lebih dalam keindahan Al-Qur’an dan menjadi bagian dari generasi yang mencintai dan mengamalkan setiap ajarannya? Qur’an Learning Center Yogyakarta, dengan program Executive Tahfizh, siap membimbing Anda mencapai impian menghafal dan memahami Al-Qur’an dengan metode yang terbukti efektif. Bergabunglah bersama kami untuk merasakan pengalaman belajar yang transformatif, di mana setiap ayat akan membuka cakrawala pemahaman dan ketenangan hati Anda.
Daftar Referensi
- As-Suyuthi, Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar. Al-Itqan fi Ulumil Quran. Kairo: Al-Haiah Al-Mishriyyah Al-Ammah Lil Kitab, 1394 H/1974 M, Juz 2.
- Q.S. An-Nahl: 98
- H.R. Abu Dawud No. 4840, Ibnu Majah No. 1894, dan Ahmad No. 8712.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

