Kita sering melihat sejarah sebagai lembaran-lembaran usang yang terpisah dari realitas kita saat ini. Seolah-olah, kesalahan yang pernah terjadi di masa lalu adalah milik orang lain, bukan potensi yang juga bersemayam dalam diri kita. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membentangkan kisah-kisah umat terdahulu dalam Al-Qur’an bukan sekadar untuk dibaca, melainkan untuk direnungkan, dipelajari, dan dijadikan cermin. Cermin yang jernih itu memantulkan bukan hanya perilaku mereka, tetapi juga kecenderungan hati manusia yang sama, yang bisa saja terwujud dalam kehidupan kita.
Di antara banyak kisah tersebut, kisah Bani Israil adalah salah satu yang paling kaya akan pelajaran. Sebuah kaum yang dipilih, diistimewakan dengan mukjizat, diselamatkan dari kezaliman Firaun, namun ironisnya, seringkali tergelincir dalam lupa dan ingkar nikmat. Mengapa demikian? Dan pelajaran apa yang bisa kita petik agar tidak mengulangi kesalahan serupa?
Keistimewaan dan Mukjizat yang Dilupakan
Bani Israil adalah kaum yang menyaksikan langsung kebesaran Allah, berulang kali. Mereka dibelahkan lautan di hadapan mata mereka, menyeberang dengan selamat, sementara musuh mereka, Firaun dan pasukannya, ditenggelamkan. Sebuah peristiwa monumental yang seharusnya menancapkan iman dan syukur yang tak tergoyahkan di sanubari mereka. Setelah itu, mereka diberi karunia makanan langsung dari langit, yaitu manna dan salwa, tanpa perlu bersusah payah mencarinya. Air yang memancar dari batu hanya dengan satu pukulan tongkat. Segala kebutuhan dipenuhi, kesulitan diangkat.
Allah berfirman:
وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَىٰ ۖ كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ۖ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu manna dan salwa. Makanlah dari (makanan) yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiri. (QS. Al-Baqarah: 57)
Dengan semua nikmat yang begitu nyata di hadapan mereka, semestinya hati mereka dipenuhi rasa syukur yang tak bertepi. Namun, sejarah mencatat, kelalaian dan ingkar nikmat justru sering menghiasi perjalanan mereka.
Wujud Lupa Nikmat dalam Perilaku Bani Israil
Ada beberapa contoh nyata bagaimana Bani Israil melupakan nikmat Allah, yang menjadi cermin bagi kita:
Mengeluh dan Menuntut yang Lebih Rendah
Setelah sekian lama menikmati manna dan salwa, mereka justru mengeluh dan merindukan makanan yang lebih rendah nilainya seperti bawang merah, bawang putih, dan kacang-kacangan. Mereka menginginkan variasi, melupakan bahwa manna dan salwa adalah karunia langsung dari Tuhan yang tak perlu usaha, murni, dan penuh berkah.
وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَن نَّصْبِرَ عَلَىٰ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنبِتُ الْأَرْضُ مِن بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا ۖ قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَىٰ بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ ۚ
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Wahai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, mentimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.” Musa berkata: “Maukah kamu menukar sesuatu yang lebih rendah dengan sesuatu yang lebih baik?” (QS. Al-Baqarah: 61)Apakah kita juga sering mengeluhkan karunia yang sudah ada, lalu mendambakan sesuatu yang sebenarnya lebih rendah nilainya, bahkan mungkin dosa?
Meminta Tuhan Selain Allah
Setelah diselamatkan dari Firaun, mereka melewati suatu kaum yang menyembah berhala. Apa yang terjadi? Mereka meminta Musa untuk membuatkan tuhan bagi mereka, sebagaimana kaum tersebut memiliki tuhan-tuhan. Ini adalah puncak kelupaan terhadap mukjizat yang baru saja mereka saksikan.
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَىٰ أَصْنَامٍ لَّهُمْ ۚ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala-berhala mereka, Bani Israil berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan.” Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).” (QS. Al-A’raf: 138)Bukankah terkadang kita juga mencari ‘jalan lain’ atau ‘pertolongan lain’ di luar pertolongan Allah ketika menghadapi kesulitan, padahal Allah-lah satu-satunya Penolong sejati?
Pembangkangan dan Penguluran Waktu
Ketika Musa diperintahkan untuk menyembelih seekor sapi betina sebagai petunjuk, Bani Israil malah memperbanyak pertanyaan dan penguluran waktu, mempersulit diri sendiri. Mereka seharusnya segera taat, namun memilih untuk mencari detail yang tidak perlu.
Pola ini menunjukkan kecenderungan manusia untuk menunda atau bahkan menolak perintah yang tidak sepenuhnya sesuai dengan keinginan atau nalar picik kita.
Ketakutan dan Penolakan Terhadap Perintah
Allah memerintahkan mereka untuk memasuki tanah suci (Palestina), sebuah tempat yang dijanjikan. Namun, karena rasa takut terhadap penduduk yang kuat di sana, mereka menolak untuk berperang dan meminta Musa serta Tuhannya saja yang maju. Akibatnya, mereka dihukum tersesat di padang pasir selama empat puluh tahun.
Kisah ini mengingatkan kita, bahwa kadang kita tahu perintah Allah itu untuk kebaikan kita, namun karena ketakutan pada rintangan atau ketidaknyamanan, kita memilih untuk mundur dan mengabaikannya.
Pelajaran Universal untuk Kita
Kisah Bani Israil ini bukanlah sekadar cerita dongeng yang terpisah dari kita. Ia adalah potret universal dari kecenderungan manusia. Kita, sebagai umat Islam, kadang juga memiliki sifat yang sama:
- Melupakan nikmat kecil: Kita sibuk mengeluhkan kekurangan, padahal banyak nikmat kecil seperti kesehatan, udara, makanan, keluarga, yang sering kita lupakan untuk disyukuri.
- Mencari jalan pintas: Ketika menghadapi ujian, kita cenderung mencari solusi instan, bahkan yang menyimpang dari syariat, alih-alih bersabar dan bertawakal penuh kepada Allah.
- Menunda ketaatan: Perintah shalat, berpuasa, sedekah, membaca Al-Qur’an, seringkali kita tunda dengan seribu alasan, padahal itu adalah kebaikan yang tak ternilai.
- Takut pada masa depan: Kekhawatiran berlebihan akan rezeki, jodoh, atau masa depan membuat kita lalai dari usaha dan doa yang benar, bahkan kadang mengambil jalan yang tidak halal.
Lalu, apa obatnya?
Mengingat, Merenung, dan Bersyukur
Pelajaran terpenting dari Bani Israil adalah pentingnya “tazakkur” (mengingat) dan “tadabbur” (merenung). Mengingat janji-janji Allah, mengingat nikmat-nikmat-Nya yang tak terhitung, dan merenungkan setiap ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tujuan hidup kita. Dengan mengingat dan merenung, kita akan sampai pada “syukur” (bersyukur). Syukur bukan hanya lisan, tapi juga dengan hati dan perbuatan, yaitu menggunakan nikmat itu di jalan yang Allah ridhai.
Al-Qur’an adalah petunjuk yang sempurna, sebuah manual kehidupan yang tiada tandingannya. Di dalamnya terdapat obat bagi penyakit lupa dan ingkar nikmat. Dengan memahami, menghafal, dan mengamalkan isi Al-Qur’an, hati kita akan senantiasa terhubung dengan Sang Pencipta, dan kita akan selalu berada di jalan syukur dan ketaatan.
Mari kita jadikan kisah Bani Israil sebagai pengingat abadi. Jangan biarkan hati kita mengeras dan melupakan betapa banyak nikmat Allah yang telah kita terima. Setiap helaan napas adalah nikmat, setiap tegukan air adalah karunia, setiap kalimat Al-Qur’an yang kita baca adalah hidayah. Semoga kita senantiasa termasuk golongan hamba-hamba-Nya yang bersyukur.
Penulis: Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

TAGS: Pelajaran Bani Israil, Lupa Nikmat Allah, Bersyukur, Tadabbur Quran, Sejarah Islam, Executive Tahfizh, Qur’an Learning Center, Mengingat Allah, Hikmah Al-Quran
