Kita seringkali merasa nyaman dengan apa yang telah ada, dengan cara-cara yang diajarkan turun-temurun, seolah itulah satu-satunya kebenaran. Pikiran kita, tanpa sadar, terbingkai oleh kebiasaan, oleh “kata orang tua dulu”, atau “beginilah seharusnya menurut adat kita”. Ada kehangatan dalam mengikuti jejak para pendahulu, sebuah rasa memiliki yang kuat. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak, menepi dari hiruk-pikuk rutinitas, dan bertanya, “Apakah semua yang kita yakini dan praktikkan ini benar-benar selaras dengan kehendak Sang Pencipta?” Pertanyaan ini, mungkin sederhana, namun menyimpan potensi untuk membuka pintu-pintu pemahaman yang lebih luas, dan melindungi kita dari jurang kekeliruan yang teramat dalam.

Kecenderungan untuk memegang teguh tradisi memang bagian dari fitrah manusia. Kita ingin merasa terhubung dengan masa lalu, dengan identitas, dan dengan komunitas. Namun, di tengah pusaran tradisi yang begitu kuat, kita perlu memiliki kompas yang jelas, sebuah peta yang tak lekang oleh zaman, agar langkah kita tak tersesat. Kompas itu adalah wahyu Ilahi, petunjuk langsung dari Allah subhanahu wa ta’ala yang Maha Tahu, yang senantiasa relevan, dan tak pernah usang.

Akar Masalah: Ketika Hati Terkunci pada Apa yang Ditemukan

Sejarah mencatat, banyak kaum terdahulu yang tersesat bukan karena tidak ada petunjuk, melainkan karena enggan melepaskan apa yang telah mereka warisi. Hati mereka terkunci pada kebiasaan, adat istiadat, dan ajaran nenek moyang, bahkan ketika kebenaran yang hakiki telah jelas di hadapan mata. Ini bukan sekadar kisah lama, melainkan cerminan yang bisa saja terjadi pada kita hari ini, ketika kita terlalu nyaman dengan status quo.

Al-Qur’an mengabadikan dialog antara para Rasul dengan kaumnya yang menolak kebenaran karena alasan tradisi. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘(Tidak), bahkan kami akan mengikuti apa yang kami dapati nenek moyang kami melakukannya.’ Dan apakah (mereka akan mengikuti juga) sekalipun nenek moyang mereka itu tidak mengerti sesuatu pun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah [2]: 170)

Ayat ini mengingatkan kita betapa berbahaya ketika akal sehat dan hati nurani tertutup oleh tirai tradisi. Bukan berarti semua warisan leluhur itu buruk, sama sekali tidak. Banyak di antaranya adalah mutiara kearifan. Namun, kita diajak untuk menjadi pribadi yang kritis, yang senantiasa menimbang segala sesuatu dengan timbangan wahyu, bukan hanya sekadar mengulang apa yang telah ada.

Wahyu sebagai Kompas Hidup: Cahaya di Tengah Kegelapan

Di sinilah peran sentral Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber utama petunjuk. Keduanya adalah “furqan”, pembeda antara yang hak dan yang batil, antara yang benar dan yang keliru. Ia adalah cahaya yang menerangi jalan, terutama ketika kita dihadapkan pada persimpangan antara tradisi yang diwarisi dan kebenaran yang hakiki.

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar.” (QS. Al-Isra’ [17]: 9)

Wahyu ilahi tidak hanya menunjukkan mana yang benar, tetapi juga memberikan alasan, hikmah, dan tujuan dari setiap syariat. Dengan memahami wahyu, kita tidak hanya sekadar mengikuti, tetapi juga meyakini dan merasakan kedalamannya. Ini adalah landasan kokoh yang tidak akan goyah oleh perubahan zaman, apalagi hanya oleh kebiasaan yang tidak berdasar.

Mengenali Batasan: Kapan Tradisi Menjadi Penghalang?

Lantas, bagaimana kita membedakan tradisi yang baik dengan tradisi yang berpotensi menyesatkan? Kuncinya terletak pada kemurnian tauhid dan keselarasan dengan syariat. Tradisi yang baik adalah tradisi yang:

  • Tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
  • Mendukung nilai-nilai kebaikan dan kemaslahatan.
  • Memperkuat tali silaturahim dan persaudaraan.
  • Tidak mengandung unsur kemusyrikan atau bid’ah yang nyata.

Sebaliknya, tradisi akan menjadi penghalang ketika ia mulai diyakini sebagai bagian dari agama padahal tidak ada dasar syar’i-nya, atau bahkan ketika ia bertentangan langsung dengan ajaran Islam. Di titik inilah kita perlu berani melakukan evaluasi, berani bertanya, dan jika perlu, berani meninggalkan demi meraih keridaan Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami (agama) ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi rambu-rambu penting bahwa dalam urusan agama, kita harus berpegang teguh pada tuntunan yang telah ditetapkan. Inovasi dalam perkara duniawi tentu dianjurkan, namun dalam perkara ibadah dan akidah, kehati-hatian adalah kunci.

Konsekuensi Bergesernya Prioritas: Bahaya yang Mengintai

Ketika kita tanpa sadar menempatkan tradisi di atas wahyu, ada beberapa bahaya besar yang mengintai:

  1. Penyimpangan Akidah
    Ini adalah bahaya terbesar. Tradisi bisa saja mengandung unsur kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid murni, seperti syirik dalam bentuk persembahan kepada selain Allah atau keyakinan khurafat.
  2. Bid’ah dalam Ibadah
    Menambah-nambah atau mengurangi tata cara ibadah yang tidak pernah diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun diyakini sebagai kebaikan agama.
  3. Perpecahan Umat
    Perbedaan dalam praktik tradisi yang diyakini sebagai kebenaran mutlak seringkali memicu perselisihan dan perpecahan di antara umat, padahal Allah memerintahkan persatuan.
  4. Stagnasi dan Ketertinggalan
    Terlalu terpaku pada tradisi yang kaku tanpa membuka diri terhadap perkembangan dan pemahaman yang lebih baik akan membuat umat tertinggal dan tidak mampu menjawab tantangan zaman.
  5. Kekeringan Spiritual
    Ibadah yang dilakukan berdasarkan tradisi semata, tanpa pemahaman yang benar dari wahyu, bisa membuat hati kosong dan kehilangan makna sejati dari ketaatan.

Menggeser prioritas dari wahyu kepada tradisi adalah menukar permata dengan kerikil, menukar petunjuk terang dengan bayangan yang semu.

Jalan Kembali: Memurnikan Pemahaman, Menguatkan Keyakinan

Jika kita menyadari bahwa mungkin ada beberapa tradisi yang tanpa sadar kita agungkan melebihi wahyu, tidak ada kata terlambat untuk kembali. Jalan kembali itu adalah dengan:

  • Mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah
    Menjadikannya rujukan utama, menggali maknanya, dan memahami konteksnya dengan bimbingan para ulama yang terpercaya.
  • Bersikap Terbuka dan Kritis
    Tidak mudah menerima begitu saja tanpa menelaah, namun juga tidak menolak mentah-mentah tanpa dasar ilmu.
  • Mendahulukan Dalil
    Mengedepankan argumen yang kuat dari Al-Qur’an dan Hadits di atas segala bentuk argumen lainnya, termasuk tradisi.
  • Berdoa dan Memohon Petunjuk
    Memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar senantiasa dibimbing kepada jalan yang lurus dan dijauhkan dari kesesatan.

Ini adalah sebuah perjalanan pemurnian diri, sebuah ikhtiar untuk menata ulang cara berpikir kita agar sepenuhnya selaras dengan kehendak Ilahi. Ini adalah perjalanan yang membutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan keberanian untuk mengubah apa yang selama ini sudah terbiasa.

Pada akhirnya, kebahagiaan sejati dan keselamatan hakiki akan kita temukan ketika kita secara total menyerahkan diri kepada petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala. Bukan sekadar ikut-ikutan, melainkan dengan pemahaman yang mendalam, keyakinan yang kokoh, dan hati yang tulus. Marilah kita jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama, sebagai cahaya yang membimbing setiap langkah kita, di atas segala bentuk tradisi yang mungkin kita warisi. Dengan demikian, kita akan selamat di dunia dan mendapatkan kebahagiaan abadi di akhirat.

Untuk membantu kita memahami dan menghidupkan kembali Al-Qur’an dalam kehidupan, Qur’an Learning Center Yogyakarta hadir membersamai. Bersama, kita akan mendalami wahyu Ilahi, bukan sekadar menghafal, melainkan meresapi makna dan mengaplikasikan dalam setiap denyut kehidupan.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

TAGS: tradisi Islam, wahyu ilahi, Al-Qur’an, Hadits, bid’ah, mengikuti sunnah, pemurnian agama, Qur’an Learning Center, tafsir Al-Qur’an, bahaya tradisi

author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,