Ada sebuah ikrar yang jauh melampaui segala komitmen duniawi, sebuah perjanjian yang diukir sebelum kita mengenal bumi, langit, bahkan sebelum ruh ini menyatu dengan jasad. Inilah perjanjian yang membentuk hakikat keberadaan kita, mengikat kita pada Dzat yang menciptakan segalanya.

Mengingat Kembali Janji Teragung

Mari kita kembali merenung pada sebuah momen agung, jauh sebelum alam semesta ini seperti yang kita kenal sekarang. Saat itu, ruh-ruh kita dikumpulkan, dan sebuah pertanyaan dilontarkan oleh Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebuah pertanyaan fundamental yang mengandung janji abadi:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).’ “

(QS. Al-A’raf: 172)

Janji ini, ikrar “bala syahidna” (ya, Engkau Tuhan kami, kami bersaksi), adalah cetak biru spiritual yang tertanam dalam lubuk hati setiap manusia. Ia adalah pengakuan akan keesaan Allah, akan keagungan-Nya, dan akan kedudukan kita sebagai hamba-Nya. Ini bukan sekadar ucapan lisan, namun sebuah pengakuan fitrah yang menyentuh inti terdalam keberadaan kita.

Ketika Ikrar Itu Terlupakan dalam Hiruk Pikuk Dunia

Namun, seiring perjalanan waktu, ketika ruh ini bersemayam dalam jasad dan berinteraksi dengan dunia yang fana, lapisan-lapisan kelalaian seringkali menutupi ingatan akan perjanjian agung itu. Gemerlap fatamorgana dunia, bisikan-bisikan nafsu, dan godaan setan perlahan mengikis kesadaran kita akan ikatan primordial tersebut.

Kita mulai mengejar kesenangan sesaat, menumpuk harta, berebut kedudukan, seolah-olah semua itu adalah tujuan akhir. Nilai-nilai keimanan yang semestinya menjadi kompas hidup, perlahan bergeser menjadi prioritas kedua atau bahkan terlupakan sama sekali. Shalat menjadi rutinitas tanpa ruh, sedekah menjadi beban, dan tilawah Al-Qur’an hanya sebatas bacaan tanpa tadabbur.

Tanda-tanda Lupa Janji

Bagaimana kita bisa mengenali tanda-tanda ketika hati mulai melupakan perjanjiannya dengan Allah? Perhatikanlah beberapa hal ini:

  • Hati yang Keras dan Gelisah: Meskipun segala kebutuhan duniawi terpenuhi, ada kekosongan yang tidak terisi, kegelisahan yang tak berujung.
  • Sulitnya Menerima Kebenaran: Nasihat baik terasa berat, kebenaran Al-Qur’an dan Sunnah terasa asing, bahkan ditolak.
  • Terjerumus dalam Maksiat: Melakukan dosa tanpa rasa penyesalan, atau bahkan merasa nyaman dengannya.
  • Menunda atau Meninggalkan Kewajiban Agama: Shalat yang terlambat, zakat yang diabaikan, atau puasa yang ditinggalkan tanpa alasan syar’i.
  • Mencari Kebahagiaan di Selain Allah: Menggantungkan harapan sepenuhnya pada manusia atau materi, bukan pada Sang Maha Pemberi Rezeki.

Bukan Sekadar Lupa, Namun Bahaya yang Mengintai

Melupakan perjanjian dengan Allah bukanlah perkara sepele. Ia adalah pangkal dari segala kerusakan, baik bagi diri pribadi maupun masyarakat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan kita akan bahaya besar bagi mereka yang memutus ikatan ini:

ٱلَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعْدِ مِيثَٰقِهِۦ وَيَقْطَعُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.”

(QS. Al-Baqarah: 27)

Kerugian yang dimaksud di sini bukan sekadar kerugian materi, tetapi kerugian hakiki yang menimpa jiwa, spiritual, dan tentu saja, kehidupan akhirat. Orang yang melupakan perjanjiannya dengan Allah akan hidup dalam kesempitan, kegundahan, dan kehilangan arah. Allah berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”

(QS. Taha: 124)

Ini adalah peringatan yang sangat serius. Kehidupan yang sempit bukan berarti miskin harta, tetapi sempit dalam arti jiwa yang tidak pernah merasa cukup, hati yang selalu gundah, dan kebahagiaan yang semu. Meskipun harta melimpah, hati terasa hampa. Inilah bahaya terbesar melupakan perjanjian kita dengan Sang Pencipta.

Menata Hati, Memperbaharui Komitmen

Lantas, bagaimana kita menata hati ini agar kembali mengingat dan mengukuhkan perjanjian kita? Jalan untuk kembali selalu terbuka, pintu taubat tak pernah tertutup. Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kuncinya ada pada kesadaran dan kemauan kuat untuk kembali ke fitrah.

Bagaimana Kita Memperkuat Ikatan?

Beberapa langkah yang bisa kita ambil untuk memperbaharui dan memperkuat perjanjian kita dengan Allah:

  • Meningkatkan Kualitas Shalat: Jadikan shalat bukan hanya gerakan fisik, tetapi sarana komunikasi intim dengan Allah. Rasakan kehadiran-Nya dalam setiap takbir, setiap ruku’, dan setiap sujud.
  • Membaca dan Mentadabburi Al-Qur’an: Al-Qur’an adalah firman Allah, petunjuk yang akan mengarahkan kita kembali ke jalan-Nya. Bacalah dengan khusyuk, pahamilah maknanya, dan aplikasikan dalam kehidupan.
  • Memperbanyak Dzikir: Mengingat Allah dalam setiap keadaan akan menguatkan ikatan spiritual kita. Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar adalah zikir yang ringan di lisan namun berat di timbangan.
  • Bertaubat dengan Sungguh-sungguh: Mengakui dosa, menyesali perbuatan, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.
  • Mencari Ilmu Agama: Belajar tentang tauhid, fikih, akhlak, dan sirah Nabi akan memperdalam pemahaman kita tentang Islam dan tujuan hidup.
  • Bergaul dengan Orang Saleh: Lingkungan yang baik akan menarik kita pada kebaikan, sementara lingkungan buruk bisa menjerumuskan.

Sesungguhnya, kehidupan ini adalah perjalanan kembali kepada Allah. Setiap napas yang kita hirup, setiap detak jantung yang berdetak, adalah bukti bahwa kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, untuk mengukuhkan kembali janji kita. Jangan biarkan gemerlap dunia membuat kita lupa akan janji teragung yang telah kita ikrarkan di hadapan Rabb semesta alam.

Marilah kita kembali menyalakan pelita hati, agar cahaya iman menerangi setiap sudut kehidupan kita. Dengan mengingat perjanjian itu, insya Allah kita akan menemukan ketenangan, kebahagiaan hakiki, dan arah hidup yang jelas, menuju ridha-Nya.

*

Penulis: Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran kunjungi halaman ini

WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,