Setiap pagi, kita bangun dengan sederet agenda yang menanti. Pengejaran demi pengejaran, entah itu karier, kekayaan, pendidikan, atau sekadar kenyamanan hidup. Seolah-olah waktu tak pernah cukup untuk meraih semua yang kita inginkan. Dalam riuhnya kesibukan itu, pernahkah kita berhenti sejenak, menilik ke dalam hati, dan bertanya: apa sebenarnya yang sedang kita kejar?
Tanpa terasa, kadang ada pergeseran halus dalam prioritas. Dulu, mungkin semangat ibadah begitu membara. Dulu, mungkin rasa takut akan azab Allah begitu nyata. Tapi seiring waktu, seiring deru kehidupan dunia yang kian memikat, perlahan tapi pasti, ada sesuatu yang meluntur di dalam jiwa kita. Rasa takut itu, khauf itu, seakan menjadi kabur, tertimbun oleh tumpukan harapan dan ambisi duniawi.
Mengapa Cinta Dunia Bisa Melunturkan Khauf kepada Allah?
Cinta dunia, atau yang dalam bahasa agama sering disebut hubbud dunya, bukanlah tentang memiliki harta benda. Bukan pula tentang menikmati rezeki yang Allah karuniakan. Dunia dan segala isinya adalah anugerah, ujian, dan ladang amal. Masalah muncul ketika hati kita terpaut erat dengannya, menjadikannya tujuan akhir, bukan sekadar jembatan menuju akhirat.
Ketika hati telah terpaut erat pada dunia, ia akan menjadi budak dari segala yang dunia tawarkan. Kekayaan, kedudukan, popularitas, dan segala bentuk kemewahan menjadi standar kebahagiaan. Maka tak heran, ketika prioritas bergeser, orientasi hidup pun turut berubah. Bukankah kita sering melihat bagaimana seseorang rela menempuh cara-cara yang tidak halal demi mencapai target duniawinya? Bukankah kita sering menyaksikan bagaimana waktu berharga untuk ibadah terkorbankan demi lembur pekerjaan yang tak ada habisnya?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٞ وَلَهۡوٞ وَزِينَةٞ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٞ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرّٗا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمٗاۖ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٞ شَدِيدٞ وَمَغۡفِرَةٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٞۚ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ
Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini begitu lugas menggambarkan hakikat dunia. Ia hanyalah fana, sementara, dan seringkali menipu. Ketika kita terlalu sibuk dengan “permainan” dan “perhiasan” ini, kita lupa bahwa ada hari perhitungan yang lebih kekal, ada azab yang keras, dan ada pula ampunan serta keridaan Allah yang harus kita kejar. Rasa takut kepada azab Allah dan harapan akan rida-Nya adalah pendorong utama kita untuk taat dan menjauhi maksiat. Jika pendorong ini melemah, maka apa lagi yang akan menahan kita?
Gejala-Gejala Hilangnya Rasa Takut kepada Allah
Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa cinta dunia mulai mengikis rasa takut kita kepada Allah? Beberapa gejala mungkin terasa:
- Sulitnya khusyuk dalam shalat, pikiran melayang pada urusan duniawi.
- Menunda-nunda ibadah atau merasa berat mengerjakannya.
- Menyepelekan dosa kecil, bahkan kadang dosa besar pun dianggap ringan.
- Marahnya ketika harta berkurang atau tidak tercapai target dunia.
- Sedih yang berlebihan atas kehilangan dunia, padahal terhadap kehilangan pahala biasa saja.
- Mengabaikan nasihat kebaikan dan lebih senang membicarakan hal-hal duniawi.
- Tidak tertarik untuk mendalami ilmu agama, merasa sudah cukup dengan pengetahuan dasar.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا. فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
Artinya: “Hampir saja bangsa-bangsa menyerbu kalian sebagaimana orang-orang menyerbu makanan di nampan. Seorang sahabat bertanya, ‘Apakah karena sedikitnya jumlah kami pada waktu itu?’ Beliau menjawab, ‘Bahkan pada waktu itu jumlah kalian banyak, tetapi kalian adalah buih seperti buih banjir. Dan sungguh Allah akan mencabut dari hati musuh-musuh kalian rasa takut kepada kalian, dan sungguh Allah akan menanamkan dalam hati kalian al-wahn.’ Seorang sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah al-wahn itu?’ Beliau menjawab, ‘Cinta dunia dan takut mati.'” (HR. Abu Dawud)
Hadits ini adalah peringatan yang sangat dalam. Al-wahn, penyakit cinta dunia dan takut mati, adalah akar dari banyak kelemahan umat. Ketika kita terlalu mencintai dunia, kita akan takut kehilangannya. Rasa takut kehilangan itulah yang membuat kita tidak berani berkorban di jalan Allah, tidak berani menyuarakan kebenaran, dan akhirnya, rasa takut kepada Allah pun semakin sirna.
Menata Kembali Hati, Menumbuhkan Kembali Khauf
Lalu, bagaimana kita bisa menata kembali hati ini? Bagaimana kita bisa menumbuhkan kembali rasa takut yang semestinya selalu ada dalam jiwa seorang mukmin?
1. Mengingat Hakikat Kehidupan
Mari kita merenung, betapa singkatnya kehidupan ini. Bukankah kita hanya singgah sebentar? Apa yang kita kejar mati-matian di dunia ini, apakah bisa kita bawa mati? Harta, jabatan, popularitas, semua akan ditinggalkan. Hanya amal saleh yang akan menemani. Perbanyaklah membaca Al-Qur’an dan menadaburi ayat-ayat tentang akhirat, tentang kematian, tentang surga dan neraka.
2. Memahami Tujuan Penciptaan
Kita diciptakan bukan untuk sekadar hidup dan mati, bukan pula untuk memuaskan hawa nafsu dunia semata. Tujuan utama kita adalah beribadah kepada Allah. Dengan memahami ini, kita akan menyadari bahwa setiap detik hidup adalah kesempatan untuk mengumpulkan bekal akhirat. Rasa takut akan perhitungan amal di hari kiamat akan menjadi pendorong untuk senantiasa beramal saleh.
3. Bergaul dengan Lingkungan yang Baik
Lingkungan sangat memengaruhi hati kita. Jika kita bergaul dengan orang-orang yang hanya memikirkan dunia, sulit bagi kita untuk tidak terbawa arus. Sebaliknya, jika kita bergaul dengan para ahli ilmu, para penghafal Al-Qur’an, dan orang-orang saleh, hati kita akan senantiasa diingatkan akan akhirat dan pentingnya rasa takut kepada Allah.
4. Memperbanyak Dzikir dan Doa
Dzikir adalah penawar hati yang keras. Dengan dzikir, hati akan merasa tenang dan senantiasa terhubung dengan Allah. Doa juga merupakan senjata orang mukmin, memohon kepada Allah agar dijauhkan dari hubbud dunya dan dikaruniai rasa takut yang benar kepada-Nya.
5. Mempelajari Al-Qur’an dan Hadits
Al-Qur’an adalah petunjuk hidup. Di dalamnya terkandung begitu banyak pengingat tentang dunia yang fana dan akhirat yang kekal. Dengan mempelajarinya secara mendalam, memahami maknanya, dan merenungkan setiap ayatnya, hati kita akan terpaut pada kebenaran dan rasa takut kepada Allah akan kembali tumbuh subur.
Mari kita bersama-sama menata kembali hati, membersihkannya dari noda cinta dunia yang berlebihan, dan menumbuhkan kembali rasa takut kepada Allah yang menjadi benteng dari segala kemaksiatan. Sesungguhnya, kedamaian sejati itu ada pada hati yang tunduk kepada-Nya, hati yang senantiasa ingat akan hari perhitungan, dan hati yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya.
Bukankah kita mendambakan kedamaian yang hakiki, yang tidak tergerus oleh ujian dunia? Kedamaian itu ada saat kita mampu meletakkan dunia di tangan, bukan di hati. Saat kita menjalani hidup ini dengan kesadaran penuh bahwa setiap hembusan napas adalah amanah, setiap rezeki adalah ujian, dan setiap musibah adalah penghapus dosa.
Maka, mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai lentera penuntun hidup kita, agar setiap langkah kita selaras dengan ridha-Nya, dan hati kita senantiasa dipenuhi dengan rasa cinta dan takut kepada Sang Pencipta.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100
