Suara di Keheningan Malam: Keras atau Lirih?
Malam tiba. Hening. Anda, mushaf, dan sebuah kesendirian yang syahdu. Lalu sebuah pertanyaan sederhana namun mendalam mungkin terlintas: haruskah suara ini saya keraskan saat mengaji, atau cukup lirih berbisik pada diri sendiri?
Kita seringkali terjebak dalam pilihan ‘mana yang lebih baik’. Padahal, teladan terbaik kita, Rasulullah ﷺ, telah menunjukkan sebuah kelapangan yang luar biasa dalam hal ini. Beliau tidak kaku pada satu cara. Justru di sanalah letak keindahannya.
Fleksibilitas Sang Teladan Agung
Bayangkan suasana malam di Madinah. Di dalam biliknya yang sederhana, suara terindah di alam semesta sedang mengalunkan Kalam Ilahi. Bagaimana iramanya? Sebuah riwayat dari Abu Hurairah r.a. memberikan kita gambaran yang hidup.
كَانَتْ قِرَاءَةُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ بِاللَّيْلِ يَرْفَعُ طَوْرًا، وَيَخْفِضُ طَوْرًا
“Bacaan Rasulullah ﷺ di malam hari terkadang beliau tinggikan, dan terkadang beliau rendahkan.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadha’il al-Qur’an)
Kadang meninggi. Kadang merendah. Bukan tanpa sebab. Inilah manifestasi dari interaksi hidup beliau dengan Al-Qur’an. Ada ayat yang membakar semangat, ada ayat yang menuntut perenungan mendalam. Inilah salah satu cara Rasulullah membaca Al Quran di malam hari, penuh penjiwaan.
Untuk memastikan, mari kita ketuk pintu rumah beliau. Mari kita bertanya pada Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau adalah saksi mata paling dekat.
سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهَا: كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَةُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ؟ أَيُسِرُّ الْقِرَاءَةَ، أَمْ يَجْهَرُ؟ فَقَالَتْ: «كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُهُ؛ رُبَّمَا أَسَرَّ، وَرُبَّمَا جَهَرَ» . قَالَ: قُلْتُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سِعَةً
Abdullah bin Qais berkata: Aku bertanya kepada ‘Aisyah: “Bagaimana bacaan Rasulullah ﷺ? Apakah beliau melirihkan bacaan (sirr) atau mengeraskannya (jahr)?” Beliau menjawab: “Semua itu pernah beliau lakukan; terkadang beliau melirihkan, dan terkadang mengeraskan.” Aku pun berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kelapangan dalam urusan ini.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadha’il al-Qur’an)
Perhatikan kalimat penutup dari sang penanya. Lega. “Alhamdulillah, Allah telah menjadikan kelapangan dalam urusan ini.” Tidak ada satu aturan baku yang kaku. Yang ada adalah hikmah di setiap pilihan.
Gema Suara Para Sahabat di Malam Hari
Praktik ini tidak berhenti pada Rasulullah ﷺ. Para sahabat, generasi terbaik, mewarisi kebiasaan mulia ini. Suara bacaan Al-Qur’an mereka menjadi penanda hidupnya malam-malam mereka.
Ummu Hani’ binti Abi Thalib bersaksi, dari biliknya ia bisa mendengar lantunan Nabi ﷺ. Sebuah suara yang menembus keheningan, membawa ketenangan.
كُنْتُ أَسْمَعُ قِرَاءَةَ النَّبِيِّ ﷺ وَأَنَا عَلَى عَرِيشِي
“Aku dahulu mendengar bacaan Nabi ﷺ (di malam hari) sementara aku berada di atas bilikku.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadha’il al-Qur’an)
Bahkan, suara keras saat membaca Al-Qur’an di malam hari memiliki fungsi spiritual yang dahsyat. Mu’adz bin Jabal r.a. pernah kehilangan seorang tetangga shalatnya yang biasa mengeraskan bacaan. Apa komentar beliau?
مَا فَعَلَ الَّذِي يُطْرِدُ الشَّيْطَانَ، وَيُوقِظُ الْوَسْنَانَ؟
“Apa yang terjadi pada orang yang biasa mengusir setan dan membangunkan orang yang mengantuk?” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadha’il al-Qur’an)
Subhanallah. Suara bacaan itu bukan sekadar suara. Ia adalah senjata pengusir setan. Ia adalah alarm ruhani yang membangunkan jiwa-jiwa yang lelap. Ia menjadi berkah bukan hanya bagi pembacanya, tapi juga bagi sekitarnya.
Abdullah bin Mas’ud r.a., saat menginap, bacaannya cukup untuk terdengar oleh seisi rumah. Bukan untuk pamer. Tapi untuk menghidupkan rumah itu dengan Kalamullah. Begitu pula kesaksian tentang Mu’adz al-Qari dan Aflah, yang suara bacaan Qur’an mereka menjadi penanda malam bagi orang-orang di sekitarnya.
Menemukan Ritme Kita Sendiri
Jadi, mana yang kita pilih? Keras atau lirih? Jawabannya ada pada hati dan kondisi kita. Inilah inti dari pemahaman cara Rasulullah membaca Al Quran di malam hari.
Saat rasa kantuk menyerang, saat butuh semangat membara, saat ingin mengusir was-was setan, keraskanlah suaramu. Biarkan getaran ayat-ayat itu mengalir dalam darah, membangunkan setiap sel yang lelah.
Namun, saat kita berada di kondisi yang mungkin mengganggu orang lain yang sedang beristirahat, atau saat kita ingin merenung lebih dalam dan intim bersama-Nya, maka melirihkan suara adalah pilihan yang penuh adab dan hikmah.
Intinya bukan pada volume. Tapi pada kehadiran hati. Malam adalah waktu terbaik untuk mengisi daya ruhani kita. Jangan biarkan keraguan menghentikan kita. Mulailah, baik dengan suara yang menggetarkan ruangan, maupun dengan bisikan yang menenangkan jiwa.
Semoga setiap huruf yang kita lantunkan di keheningan malam menjadi saksi cinta kita kepada-Nya. Dan jika Anda ingin dibimbing untuk menemukan irama terbaik dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, baik dalam hafalan maupun pemahaman, kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta siap mendampingi perjalanan Anda.
Daftar Referensi
- Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam. Fadha’il al-Qur’an.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100


