Perasaan minder dan malu sering kali menjadi batu sandungan. Merumuskan motivasi menghafal alquran bagi yang belum lancar membaca adalah langkah krusial agar tidak ada seorang pun muslim yang merasa terpinggirkan dari rahmat Al-Quran. Banyak orang dewasa yang mengurungkan niatnya menghafal karena tajwidnya masih berantakan dan lidahnya masih terbata-bata mengeja huruf hijaiyah. Padahal, Allah tidak pernah memandang hina mereka yang sedang berproses.
Islam adalah agama yang sangat menghargai proses (effort) melebihi hasil akhir. Kesulitan Anda dalam mengeja setiap huruf justru dinilai sebagai ibadah tersendiri oleh Sang Maha Pengasih. Jangan pernah membandingkan kelancaran Anda dengan qari internasional. Bandingkanlah diri Anda hari ini dengan diri Anda kemarin. Jika hari ini Anda berhasil melafalkan huruf “Kha” lebih baik dari kemarin, maka Anda sudah meraih kemenangan besar.
Kabar Gembira Langsung dari Lisan Nabi
Untuk menghibur dan memotivasi umatnya yang merasa tertinggal, Rasulullah Muhammad memberikan sebuah kabar gembira yang sangat luar biasa. Kabar ini menegaskan bahwa tidak ada kesia-siaan dalam belajar Al-Quran, sekasar apapun suara kita dan selambat apapun lidah kita bergerak merangkai lafaz Arab tersebut.
“Dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa kesulitan dalam membacanya, maka baginya dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Satu pahala diberikan atas bacaannya itu sendiri, dan satu pahala lagi diberikan sebagai kompensasi atas kesabaran dan keletihannya dalam melawan rasa sulit. Hadits ini seharusnya melunturkan segala keraguan. Jika Allah saja memberikan apresiasi ganda atas kekurangan kita, lantas mengapa kita harus merasa malu kepada manusia?
Memperbaiki Fondasi dengan Tahsin
Meskipun mendapat dua pahala, bukan berarti kita boleh berpuas diri dengan bacaan yang salah. Langkah paling bijak bagi yang belum lancar adalah fokus memperbaiki bacaan (tahsin) terlebih dahulu sebelum menargetkan hafalan yang banyak (ziyadah). Jangan memaksakan diri menghafal 30 juz jika makharijul huruf masih tertukar, karena menghafal dengan bacaan yang salah akan sangat sulit diperbaiki di kemudian hari.
Buanglah rasa gengsi Anda. Tidak ada ruginya mengulang kembali pelajaran dasar dari Iqra’ atau metode dasar lainnya. Anda dapat memulai langkah perbaikan kualitas bacaan ini dengan mengklik Executive Tahfizh pendaftaran tahfizh Al-Quran. Di sana, para pengajar yang sabar dan kompeten akan membimbing lisan Anda hingga fasih tanpa ada unsur menghakimi.
Keteguhan Hati Menghadapi Cemoohan
Kadang kala, ujian tidak hanya datang dari kesulitan teknis membaca, tetapi juga dari pandangan meremehkan orang-orang di sekitar. Mungkin ada yang mencibir, “Sudah tua kok ngajinya masih mengeja”. Jadikan cibiran tersebut sebagai cambuk motivasi pembakar semangat, bukan sebagai racun yang mematikan langkah. Para sahabat Nabi yang masuk Islam di usia tua juga memulai proses belajar dari nol di bawah bimbingan Rasulullah.
Keteguhan hati (istiqamah) dalam kondisi terbata-bata ini akan membentuk karakter mental baja. Ketika kelak lidah Anda sudah fasih dan hafalan Anda sudah lancar, Anda akan menjadi pribadi yang sangat tawadhu karena Anda pernah merasakan betapa pahit dan beratnya perjuangan di garis awal.
Penutup
Tetaplah bersemangat walau lisan masih kelu mengeja firman-Nya. Ya Allah, fasihkanlah lisan kami dan lapangkanlah dada kami dalam menuntut ilmu-Mu.
Daftar Pustaka:
Al-Nawawi, Abu Zakariya Yahya. At-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an. Di-tahqiq oleh Muhammad al-Hajjar. Beirut: Dar Ibn Hazm, 1996.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh: Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat. Website: kunjungi halaman ini WhatsApp: +6281224003100
Keseimbangan antara karir, keluarga, dan ibadah sering kali menjadi dilema. Menguasai tips menjaga hafalan alquran tetap kuat saat sedang sibuk adalah keterampilan bertahan hidup (survival skill) bagi para penghafal di era modern. Kesalahan terbesar yang sering dilakukan adalah menunggu waktu luang (free time) untuk membuka mushaf. Padahal, waktu luang tidak akan pernah datang dengan sendirinya jika kita tidak dengan sengaja menciptakannya.
Al-Quran adalah tamu yang sangat agung. Jika kita mengundangnya hanya di sisa-sisa waktu lelah kita, maka ia pun akan enggan menetap lama di dalam dada. Jadikanlah murajaah sebagai prioritas utama (first thing first), setara dengan kebutuhan makan, minum, dan bernapas. Ketika paradigma ini terbangun, kesibukan duniawi akan menyesuaikan ritmenya dengan jadwal interaksi Al-Quran Anda, bukan sebaliknya.
Memaksimalkan Waktu Transisi Sehari-hari
Bagi pekerja kantoran atau pengusaha, waktu berjam-jam duduk tenang di masjid mungkin adalah sebuah kemewahan. Namun, setiap orang pasti memiliki waktu transisi—yaitu waktu perpindahan dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Waktu transisi ini meliputi perjalanan komuter (menyetir, di kereta), waktu menunggu rapat dimulai, saat mengantre di bank, hingga waktu berjalan kaki menuju tempat makan siang.
Jika diakumulasikan, waktu-waktu kecil ini bisa mencapai satu hingga dua jam setiap harinya. Gunakanlah momentum ini untuk menggumamkan ayat-ayat yang sudah dihafal. Membaca Al-Quran tanpa melihat mushaf sambil beraktivitas fisik ringan (seperti berjalan atau membereskan rumah) sangat efektif mengikat memori motorik dan menguji spontanitas hafalan bawah sadar Anda.
Membaca Ayat Hafalan di Setiap Shalat Sunnah
Cara paling elegan dan paling kuat dampaknya untuk menjaga kelancaran tanpa menyita waktu khusus tambahan adalah dengan menyisipkan hafalan tersebut ke dalam shalat fardhu dan shalat sunnah rawatib. Mulailah mengganti surah-surah pendek yang biasa Anda baca dengan potongan halaman atau juz yang menjadi target murajaah hari itu.
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 2-3)
Dengan menerapkan metode ini, Anda telah menyelamatkan diri dari kerugian waktu. Jika Anda mengerjakan shalat sunnah qabliyah dan ba’diyah secara disiplin, Anda memiliki banyak rakaat ekstra untuk mengulang berlembar-lembar hafalan. Membaca di dalam shalat menuntut tingkat konsentrasi tinggi, sehingga hafalan akan terkunci jauh lebih rapat dibandingkan membacanya dalam keadaan duduk biasa.
Teknologi Audio Sebagai Asisten Murajaah
Di tengah kelelahan fisik setelah seharian bekerja, mata mungkin sudah tidak sanggup lagi menatap barisan huruf di mushaf. Di sinilah peran teknologi audio sangat membantu. Pasanglah *earphone* Anda dan dengarkan lantunan murattal dari juz yang sedang Anda jaga. Dengarkan dengan saksama dan cobalah mengikuti bacaan qari di dalam hati atau dengan gerakan bibir (lipsync).
Untuk merawat semangat Anda yang fluktuatif, Anda butuh lingkungan komunitas yang memahami kesibukan Anda. Bergabunglah bersama para profesional lainnya dengan mendaftar di Executive Tahfizh pendaftaran tahfizh Al-Quran. Anda akan mendapatkan jadwal bimbingan fleksibel yang didesain khusus agar karir cemerlang di dunia bisa berjalan seiring dengan kecemerlangan hafalan di akhirat.
Beristighfar Atas Ayat yang Terlupakan
Pekerjaan duniawi rentan membawa kita pada interaksi yang tidak perlu, ghibah di kantor, atau pandangan yang tidak terjaga di jalanan. Dosa-dosa kecil inilah yang sering kali menjadi kabut penutup memori otak, sehingga ayat yang tadinya sangat lancar tiba-tiba terasa gelap dan sulit diingat kembali.
Setiap kali Anda merasa berat melantunkan sebuah surah, segeralah perbanyak istighfar. Imam Ad-Dahhak pernah berkata bahwa tidaklah seseorang mempelajari Al-Quran lalu melupakannya melainkan karena dosa yang telah ia perbuat. Memohon ampunan Allah adalah kunci pembuka gembok memori yang paling esensial dalam perjalanan spiritual ini.
Penutup
Jadikan kesibukan sebagai ladang ujian untuk membuktikan cinta pada Al-Quran. Ya Allah, mudahkan kami menjaga ayat-Mu di tengah padatnya urusan dunia.
Daftar Pustaka:
Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah. Al-Fawa’id. Di-tahqiq oleh Muhammad ‘Uzair Syams. Makkah: Dar ‘Alam al-Fawa’id, 2008.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh: Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat. Website: kunjungi halaman ini WhatsApp: +6281224003100
Mencari tempat karantina tahfizh yang aman untuk wanita dewasa merupakan sebuah tantangan tersendiri. Berbeda dengan program untuk laki-laki atau anak-anak, wanita dewasa (akhwat/ummahat) memiliki standar kebutuhan privasi, kenyamanan emosional, dan batasan syariat (ikhtilat) yang sangat ketat. Keputusan untuk meninggalkan rumah dan menetap sementara di asrama tahfizh bukanlah hal yang mudah, sehingga memastikan keamanan lingkungan adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar.
Sebuah lembaga karantina yang kredibel untuk muslimah harus mampu memberikan garansi pemisahan total antara area ikhwan dan akhwat. Mulai dari ruang belajar, asrama tidur, hingga fasilitas sanitasi dan ruang makan harus berada di zona yang tertutup rapat dari pandangan non-mahram. Lingkungan yang menjaga kehormatan (iffah) ini sangat penting untuk menciptakan ketenangan batin, karena ketenangan adalah prasyarat utama sebelum otak mampu berkonsentrasi menghafal ribuan ayat suci.
Kurikulum Khusus yang Memahami Fiqih Kewanitaan
Selain faktor keamanan fisik, kenyamanan akademis juga harus disesuaikan dengan kodrat wanita. Wanita mengalami siklus menstruasi bulanan (haid) yang sering kali menjadi dilema dalam proses tahfizh. Tempat karantina yang profesional akan menyediakan kurikulum bimbingan fiqih tahfizh khusus wanita, yang mengajarkan bagaimana cara tetap murajaah dan berinteraksi dengan ayat-ayat Al-Quran tanpa melanggar larangan syariat saat sedang haid (seperti menggunakan mushaf digital atau membaca tanpa menyentuh lembaran mushaf).
Tenaga pengajar (musyrifah) juga harus seluruhnya perempuan yang memiliki sanad yang jelas dan pemahaman psikologis yang matang. Jika Anda mencari rekomendasi lembaga yang memenuhi standar syar’i dan profesionalisme tinggi, silakan melangkah ke Executive Tahfizh pendaftaran tahfizh Al-Quran. Kami menyediakan ekosistem belajar yang memuliakan martabat wanita agar dapat fokus memanen pahala tanpa kerisauan.
Membangun Sisterhood (Persaudaraan Islam) yang Kuat
Karantina tahfizh bukan sekadar tempat mengasingkan diri, melainkan tempat bersemainya ukhuwah islamiyah. Bagi wanita dewasa yang mungkin lelah dengan kerasnya persaingan di dunia kerja atau penatnya dinamika rumah tangga, asrama karantina menjadi oase spiritual. Berkumpul dengan sesama muslimah yang memiliki visi hidup yang sama—yaitu mengejar rida Allah melalui Al-Quran—akan memicu munculnya ikatan persaudaraan yang sangat kuat (sisterhood).
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)
Teman sekamar dan seperjuangan di karantina inilah yang kelak akan menjadi alarm pengingat saat iman sedang anjlok. Mereka yang akan membangunkan Anda untuk shalat tahajud, menyimak hafalan Anda dengan sabar, dan mengusap air mata Anda ketika Anda merasa kesulitan menembus hafalan ayat-ayat mutasyabihat. Dukungan emosional antar sesama wanita ini sangat mempercepat durasi hafalan 30 juz.
Fasilitas yang Menunjang Kesehatan Fisik dan Mental
Proses menghafal secara intensif (accelerated learning) membutuhkan stamina fisik yang prima. Tempat karantina yang ideal bagi wanita dewasa harus memperhatikan asupan gizi melalui katering makanan sehat, halal, dan thayyib. Fasilitas olahraga tertutup atau area berjemur matahari pagi khusus muslimah sangat krusial untuk mencegah penurunan imun tubuh selama masa karantina yang ketat.
Kesehatan mental juga harus dikawal. Menghafal dari pagi hingga malam bisa memicu kebosanan tingkat tinggi. Oleh karena itu, lembaga yang baik biasanya menyelipkan agenda rihlah (rekreasi alam), sesi tadabbur tafsir yang menyentuh hati, serta sesi konseling (curhat) bersama para asatidzah senior untuk mengurai benang kusut di kepala para peserta.
Menjaga Izin dan Rida dari Mahram
Satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh wanita dewasa sebelum berangkat ke karantina adalah restu dari mahram (suami bagi yang sudah menikah, atau ayah/wali bagi yang belum menikah). Perjalanan menuntut ilmu adalah ibadah yang agung, namun menaati suami dan menjaga kewajiban rumah tangga adalah fardhu ain.
Pastikan lembaga karantina memberikan akses komunikasi berkala yang proporsional dengan keluarga di rumah agar ketenangan pikiran tetap terjaga, baik bagi peserta di asrama maupun bagi keluarga yang ditinggalkan. Restu suami adalah pembuka pintu langit yang akan memperderas turunnya kemudahan menghafal.
Penutup
Jadilah perhiasan dunia yang paling indah, yakni wanita salihah penghafal Al-Quran. Ya Allah, jagalah kehormatan kami dan muliakan kami dengan kitab-Mu.
Daftar Pustaka:
Al-Ajurri, Abu Bakar Muhammad. Akhlaq Hamalah al-Qur’an. Di-tahqiq oleh Muhammad ‘Amr ‘Abd al-Latif. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003.
\n\n
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh: Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat. Website: kunjungi halaman ini WhatsApp: +6281224003100
Dalam kacamata materialisme, menghabiskan waktu berjam-jam untuk menghafal ayat suci mungkin dianggap tidak produktif dan mengurangi waktu mencari uang. Namun, dalam kacamata iman, mengetahui mengapa menghafal alquran bisa mendatangkan keberkahan rezeki adalah rahasia terbesar menuju kesuksesan finansial dan spiritual. Allah yang menurunkan Al-Quran adalah Allah yang juga menggenggam kunci perbendaharaan langit dan bumi.
Ketika seseorang menyibukkan diri mengurus firman Allah, maka Allah sendiri yang akan turun tangan mengurus segala keperluan duniawi orang tersebut. Rezeki yang datang kepada para penjaga Al-Quran sering kali bukan dari jalur matematika manusia, melainkan dari arah yang tidak pernah disangka-sangka (min haithu la yahtasib). Urusan bisnis yang tadinya rumit tiba-tiba dimudahkan, dan pintu-pintu peluang terbuka lebar tanpa harus melakukan intrik kotor.
Jaminan Kecukupan bagi Ahlul Quran
Terdapat sebuah hadits qudsi yang sangat menyentuh hati tentang jaminan rezeki bagi orang yang sibuk bersama kitabullah. Waktu yang dikorbankan untuk murajaah tidak akan pernah sia-sia. Allah berjanji akan memberikan balasan yang jauh lebih besar daripada apa yang diminta oleh orang-orang yang berdoa dengan lisan biasa.
“Barangsiapa yang disibukkan oleh Al-Qur’an (membaca dan menghafalnya) dari berdzikir kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberikan kepadanya sesuatu yang lebih utama daripada yang Aku berikan kepada orang-orang yang memohon.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini adalah garansi tingkat tinggi. Seorang pengusaha yang rutin memurajaah hafalannya di pagi hari akan mendapati waktu kerjanya sangat efektif dan rezekinya dipenuhi dengan keberkahan. Uang yang sedikit terasa sangat mencukupi, dan harta yang banyak menjadi sarana ketaatan, bukan menjadi sumber pertikaian keluarga.
Menghindari Sifat Rakus dan Tamak
Interaksi yang intens dengan Al-Quran akan membersihkan hati dari sifat tamak, rakus, dan cinta dunia yang berlebihan (hubbud dunya). Pemahaman terhadap ayat-ayat tentang sifat fana dunia dan keabadian akhirat membuat seorang hafizh memiliki sifat qana’ah (merasa cukup). Ketika hati sudah merasa kaya, maka seluruh kekayaan dunia akan bertekuk lutut mengabdi kepadanya.
Untuk melatih jiwa Anda agar memiliki ketangguhan tauhid rezeki ini, segeralah bergabung ke lingkungan yang tepat. Hubungi dan klik Executive Tahfizh pendaftaran tahfizh Al-Quran. Anda akan dibimbing mengutamakan rida Allah melalui hafalan, hingga rezeki dunia mengikuti Anda seperti bayangan yang mengikuti pemiliknya.
Kisah Keberkahan Rezeki Para Ulama
Banyak ulama terdahulu yang kehidupan materinya sangat sederhana, namun karya dan sedekah mereka mampu menghidupi ribuan orang. Imam Abu Hanifah adalah seorang pedagang kain yang sangat sukses, namun lisan dan hatinya tak pernah lepas dari murajaah hafalan saat menjaga tokonya. Keberkahan inilah yang membuat harta beliau bersih dan ilmunya tersebar ke seluruh penjuru dunia.
Keberkahan (barakah) bukanlah tentang seberapa banyak nominal angka di rekening bank, melainkan seberapa besar harta tersebut membawa ketenangan dan memfasilitasi ketaatan kepada Sang Pencipta. Menghafal Al-Quran adalah magnet terkuat untuk menarik keberkahan tersebut ke dalam rumah kita.
Penutup
Jadikan hafalan sebagai jalan tol menuju kekayaan hati. Ya Allah, cukupkanlah kami dengan rezeki yang halal dan berkah melalui perantara kalam suci-Mu.
Daftar Pustaka:
Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ ‘Ulum ad-Din. Juz 1. Kairo: Dar al-Hadith, 2004.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh: Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat. Website: kunjungi halaman ini WhatsApp: +6281224003100
Banyak pemula bertanya-tanya, mengapa harus hafal alquran dengan bimbingan guru tahfizh padahal di era digital ini sudah banyak tersedia aplikasi murattal dan panduan tajwid di internet? Jawabannya terletak pada hakikat pewarisan Al-Quran itu sendiri. Al-Quran tidak diturunkan dalam bentuk teks buku siap baca, melainkan diturunkan melalui lisan (suara) dari Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Nabi kemudian membacakannya langsung di hadapan para sahabat (talaqqi), lalu sahabat membacakannya kepada tabi’in, dan seterusnya berantai (sanad) hingga sampai kepada kita saat ini tanpa terputus satu huruf pun. Menghafal tanpa guru berarti memutus rantai transmisi suci ini. Rekaman audio tidak bisa membenarkan jika lidah Anda keliru membedakan antara huruf ‘Sin’ dan ‘Syin’, atau kurang menahan dengung (ghunnah).
Menghindari Penyakit Lahn (Kesalahan Bacaan)
Bahasa Arab memiliki presisi fonetik (makharijul huruf) yang sangat ketat. Perbedaan posisi lidah yang sangat tipis bisa mengubah makna kata secara drastis, dan ini bisa berakibat fatal jika terjadi dalam bacaan shalat. Ada kesalahan yang jelas terdengar oleh orang awam (lahn jali), namun ada pula kesalahan tersembunyi (lahn khafi) yang hanya bisa dideteksi oleh telinga seorang guru yang ahli dalam ilmu qiraat.
“Sebenarnya, Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.” (QS. Al-‘Ankabut: 49)
Ayat ini menegaskan bahwa Al-Quran dijaga di dalam “dada” orang-orang berilmu, bukan sekadar di lembaran kertas. Untuk memindahkan cahaya dari satu dada ke dada yang lain, dibutuhkan pertemuan fisik, adab bermajelis, dan interaksi spiritual antara murid dan guru. Membaca secara otodidak rentan mendatangkan penafsiran dan pelafalan yang menyimpang dari kaidah yang sebenarnya.
Guru Sebagai Penjaga Motivasi dan Adab
Selain memperbaiki teknis bacaan, peran sentral seorang guru tahfizh adalah sebagai pembimbing spiritual (murabbi ruhani). Menghafal 30 juz adalah perjalanan maraton yang panjang dan melelahkan. Akan ada fase futur (turunnya iman), kebosanan, dan putus asa. Saat itulah nasihat, pelukan, dan doa dari seorang guru menjadi sumber energi yang membangkitkan kembali semangat yang layu.
Pastikan Anda mempercayakan proses menghafal Anda pada pendidik yang kompeten. Anda bisa memulainya dengan masuk ke tautan Executive Tahfizh pendaftaran tahfizh Al-Quran. Bersama guru yang tepat, Anda tidak hanya diajarkan cara menghafal, tetapi juga diajarkan bagaimana berakhlak dengan akhlaknya ahli surga.
Keberkahan Memiliki Sanad Keilmuan
Dalam Islam, sanad (mata rantai keilmuan) adalah sebagian dari agama. Abdullah bin Mubarak pernah menegaskan bahwa seandainya tidak ada sanad, niscaya siapa pun bisa berkata apa pun sesuka hatinya tentang agama ini. Memiliki guru bersanad berarti menyambungkan silsilah keilmuan Anda langsung kepada Rasulullah.
Bayangkan kebanggaan kelak di hari kiamat ketika nama Anda disebut dalam daftar panjang para penjaga kalamullah yang bersambung hingga ke penghulu para Nabi. Keberkahan ilmu yang didapat dari guru yang mengikhlaskan niatnya akan membuahkan ketawadhuan. Sebaliknya, ilmu yang dicari dari internet tanpa bimbingan sering kali membuahkan kesombongan merasa pintar (ujub).
Penutup
Menghafal bersama guru adalah wujud ketundukan adab di atas ilmu. Ya Allah, pertemukanlah kami dengan guru-guru ikhlas yang membimbing kami menuju rida-Mu.
Daftar Pustaka:
Suyuti, Jalaluddin. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an. Di-tahqiq oleh Mustafa Dib al-Bugha. Juz 1. Damaskus: Dar Ibn Kathir, 1993.
\n\n
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh: Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat. Website: kunjungi halaman ini WhatsApp: +6281224003100