Bayangkan sebuah bangunan megah yang kokoh berdiri selama berabad-abad, namun tiba-tiba runtuh bukan karena guncangan gempa besar, melainkan karena rayap-rayap kecil yang memakan fondasinya dari dalam. Begitulah gambaran ukhuwah Islamiyah kita saat ini ketika penyakit ashabiyah atau fanatisme golongan mulai merayapi hati. Pernahkah kita merasa bahwa kelompok kita adalah yang paling benar, paling suci, atau paling layak masuk surga, sementara mereka yang berbeda bendera dianggap sebagai musuh atau orang asing? Jika perasaan itu mulai muncul, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya pada nurani: apakah kita sedang membangun peradaban, atau justru sedang merobek tenunan kasih sayang yang telah Rasulullah SAW jahit dengan tetesan air mata dan darah?
Mengenal Wajah Ashabiyah di Era Modern
Sahabat Qur’an yang saya cintai, ashabiyah bukanlah barang baru. Di zaman jahiliyah, seseorang akan membela saudaranya habis-habisan meski saudaranya itu berbuat zalim. Hari ini, ashabiyah bertransformasi menjadi bentuk yang lebih halus namun tetap mematikan. Ia hadir dalam wujud fanatisme organisasi, partai politik, hingga fanatisme terhadap guru atau mazhab tertentu secara berlebihan. Kita sering lupa bahwa warna-warni perbedaan seharusnya menjadi pelangi yang indah, bukan menjadi tembok tinggi yang memisahkan jabat tangan kita.
Ketika ashabiyah menguasai hati, akal sehat seringkali tertutup. Kita menjadi sulit melihat kebenaran jika ia datang dari luar lingkaran kita. Dampaknya sangat nyata: konflik horizontal pecah, rasisme terselubung muncul, dan energi umat habis hanya untuk bertikai di media sosial atau di dunia nyata. Padahal, musuh-musuh Islam tertawa melihat kita sibuk mencakar wajah saudara sendiri. Kita terjebak dalam rasa bangga semu yang sebenarnya sangat rapuh di mata Allah SWT.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Ukuran Kemuliaan: Bukan Seragam, Tapi Takwa
Al-Qur’an memberikan jawaban yang sangat tegas dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 di atas. Allah SWT menegaskan bahwa identitas kita—baik itu suku, bangsa, maupun kelompok—hanyalah sarana untuk li-ta’arafu, untuk saling mengenal dan berkolaborasi. Tidak ada satu pun golongan yang memiliki hak istimewa untuk merasa lebih tinggi di hadapan Allah hanya karena garis keturunan atau kartu anggota organisasi. Standar tunggal kemuliaan adalah takwa.
Jika kita merasa lebih baik hanya karena kita berada di kelompok tertentu, maka sebenarnya kita sedang mewarisi sifat Iblis yang berkata, “Aku lebih baik darinya.” Sifat sombong inilah yang menjadi akar dari ashabiyah. Sahabat Qur’an, mari kita sadari bahwa surga Allah itu sangat luas. Jangan sampai kita menyempitkan rahmat Allah yang luas hanya untuk kelompok kita saja. Kita perlu belajar untuk mencintai saudara seiman karena kesamaan iman mereka kepada Allah, bukan karena kesamaan baju organisasi mereka dengan kita.
Berpegang Teguh pada Tali Allah Secara Kolektif
Lantas, bagaimana kita menyembuhkan luka akibat fanatisme ini? Langkah pertama adalah kembali kepada Hablullah atau Tali Allah. Dalam dinamika kehidupan bermasyarakat, perbedaan pendapat adalah niscaya, namun perpecahan adalah pilihan yang buruk. Allah SWT memerintahkan kita untuk bersatu di bawah naungan Al-Qur’an dan Sunnah, bukan di bawah fanatisme buta.
وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” (QS. Ali Imran: 103)
Ayat ini menggunakan kata jami’an yang berarti secara kolektif atau bersama-sama. Kita tidak bisa kuat jika berjalan sendiri-sendiri atau hanya berjalan dengan kelompok kecil kita. Kekuatan umat Islam terletak pada persatuan yang melampaui batas-batas ego kelompok. Ketika kita berpegang pada Tali Allah, maka kepentingan agama akan selalu berada di atas kepentingan golongan. Kita akan lebih mudah memaafkan kesalahan saudara kita dan lebih cepat mengajak pada kebaikan tanpa harus merendahkan.
Membangun Budaya Tabayyun dan Kasih Sayang
Salah satu obat ashabiyah adalah menghidupkan budaya tabayyun (klarifikasi) dan husnudzon (berprasangka baik). Seringkali ashabiyah dipicu oleh berita bohong atau prasangka buruk terhadap kelompok lain yang tidak pernah kita konfirmasi. Sebagai Sahabat Qur’an, kita harus menjadi pendingin suasana di tengah bara api kebencian. Jangan biarkan lisan dan jari kita menjadi wasilah atau perantara robeknya ukhuwah.
Mari kita mulai dari diri sendiri. Luaskan pergaulan kita, bukalah ruang dialog dengan mereka yang berbeda pendapat, dan carilah titik temu daripada terus menggali titik perbedaan. Ingatlah pesan Rasulullah SAW bahwa tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya ada kesombongan, dan ashabiyah adalah salah satu bentuk kesombongan yang paling nyata karena ia menolak kebenaran dan merendahkan manusia lain.
Semoga Allah melembutkan hati kita untuk selalu mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, bukan karena hawa nafsu golongan. Mari kita rapatkan barisan, bukan untuk melawan saudara sendiri, melainkan untuk bersama-sama membangun peradaban Qur’ani yang penuh dengan rahmat dan kedamaian.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd. Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’anKepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh: Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat. Website: kunjungi halaman ini WhatsApp: +6281224003100

