Dalam bentangan sejarah peradaban Islam, seringkali kita menemukan titik-titik krusial di mana para generasi awal umat ini menunjukkan keteguhan iman dan kepekaan yang luar biasa terhadap gejolak sosial. Kepekaan ini bukan tanpa alasan; ia lahir dari pemahaman mendalam atas risalah kenabian dan kekhawatiran tulus akan masa depan umat. Salah satu kekhawatiran yang perlu kita renungkan bersama adalah ketika menghafal Al-Quran bukan sekadar lagu, namun esensinya justru tergerus oleh pelbagai degradasi moral dan spiritual. Ini adalah cermin yang mengajak kita untuk menelaah kembali fondasi keimanan dan tujuan hidup.
Pelajaran Berharga dari Sahabat Nabi: Mengapa Kematian Diinginkan?
Kisah ini datang dari zaman tabiin, diriwayatkan oleh Ulaym. Ia berkisah, suatu ketika kami berada di sebuah atap, bersama seorang sahabat Nabi ﷺ yang oleh Yazid disebutkan sebagai Abis Al-Ghifari. Di tengah-tengah wabah tha’un yang melanda, Abis Al-Ghifari melihat banyak orang berbondong-bondong meninggalkan kota, melarikan diri dari penyakit mematikan itu. Dengan heran beliau bertanya, “Ada apa dengan mereka?” Mereka menjawab, “Mereka lari dari tha’un.” Mendengar itu, Abis Al-Ghifari justru menengadahkan tangannya dan berkata, “Wahai tha’un, ambillah aku!”
Tentu saja, ucapan ini menimbulkan keheranan. Mereka bertanya, “Apakah engkau mengharapkan kematian, padahal kami mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian?'” Sebuah pertanyaan yang sangat beralasan, karena ajaran Nabi ﷺ jelas melarang keinginan akan kematian kecuali dalam kondisi tertentu yang tidak relevan dengan situasi tersebut. Namun, jawaban Abis Al-Ghifari sungguh menggugah dan menjadi inti pelajaran bagi kita semua.
قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ وَحَدَّثَنَا يَزِيدُ، عَنْ شَرِيكٍ، عَنْ أَبِي الْيَقْظَانِ عُثْمَانَ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ زَاذَانَ أَبِي عُمَرَ، عَنْ عُلَيْمٍ، قَالَ: كُنَّا عَلَى سَطْحٍ، وَمَعَنَا رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَزِيدُ: لَا أَعْلَمُهُ إِلَّا قَالَ: عَبْسٌ الْغِفَارِيُّ فَرَأَى النَّاسَ يَخْرُجُونَ فِي الطَّاعُونِ، فَقَالَ: مَا لِهَؤُلَاءِ؟ قَالُوا: يَفِرُّونَ مِنَ الطَّاعُونِ. فَقَالَ: يَا طَاعُونُ، خُذْنِي. فَقَالُوا: أَتَتَمَنَّى الْمَوْتَ، وَقَدْ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ؟» فَقَالَ: «إِنِّي أُبَادِرُ خِصَالًا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَي
ْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّفُهُنَّ عَلَى أُمَّتِهِ؛ بَيْعَ الْحُكْمِ، وَالِاسْتِخْفَافَ بِالدَّمِ، وَقَطِيعَةَ الرَّحِمِ، وَقَوْمًا يَتَّخِذُونَ الْقُرْآنَ مَزَامِيرَ، يُقَدِّمُونَ أَحَدَهُمْ، لَيْسَ بِأَفْقَهِهِمْ وَلَا أَفْضَلِهِمْ، إِلَّا لِيُغَنِّيَهُمْ بِهِ غِنَاءً» وَذَكَرَ خَلَّتَيْنِ أُخْرَيَيْنِ قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ لَيْثِ بْنِ أَبِي سُلَيْمٍ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ زَاذَانَ، عَنْ عَابِسٍ الْغِفَارِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ ذَلِكَ أَوْ نَحْوَهُAbu Ubayd berkata: Yazid menyampaikan kepada kami, dari Syarik, dari Abu Al-Yaqzhan Utsman bin Umayr, dari Zadzan Abu Umar, dari Ulaym, ia berkata: “Kami pernah berada di atas atap, dan bersama kami ada seorang sahabat Nabi ﷺ.” Yazid berkata: “Aku tidak mengenalnya kecuali ia bernama Abis Al-Ghifari.” Lalu ia melihat orang-orang berhamburan keluar karena wabah tha’un, maka ia bertanya: “Ada apa dengan mereka?” Mereka menjawab: “Mereka lari dari tha’un.” Maka ia berkata: “Wahai tha’un, ambillah aku!” Mereka bertanya: “Apakah engkau mengharapkan kematian, padahal engkau telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian?'” Maka ia menjawab: “Sesungguhnya aku berlomba (untuk menghindari) sifat-sifat yang aku dengar Rasulullah ﷺ mengkhawatirkan atas umatnya: menjual pemerintahan (hukum), meremehkan pertumpahan darah, memutuskan silaturahmi, dan suatu kaum yang menjadikan Al-Quran sebagai nyanyian, mereka mengedepankan salah seorang di antara mereka yang bukan paling faqih (paham agama) dan bukan pula yang paling utama, kecuali hanya untuk menyanyikan Al-Quran bagi mereka sebagai nyanyian.” Dan ia menyebutkan dua sifat lainnya. Abu Ubayd berkata: Ya’qub bin Ibrahim menyampaikan kepada kami, dari Laits bin Abi Sulaim, dari Utsman bin Umayr, dari Zadzan, dari Abis Al-Ghifari, dari Nabi ﷺ dengan makna yang serupa atau mendekatinya. (HR. Abu Ubayd dalam Kitab Fadhail Al-Quran, hlm. 166)
Bahaya Menghafal Al-Quran Bukan Sekadar Lagu: Melestarikan Makna Suci Kalam Ilahi
Jawaban Abis Al-Ghifari mengungkapkan sebuah kekhawatiran yang mendalam, bukan tentang kematian fisik, melainkan kematian ruhani dan moral umat. Beliau justru ingin menyudahi hidup sebelum menyaksikan kemerosotan nilai-nilai fundamental yang telah diperingatkan Rasulullah ﷺ. Empat di antaranya secara eksplisit disebutkan, dan satu di antaranya secara khusus relevan dengan fokus kita, yaitu ketika menghafal Al-Quran bukan sekadar lagu namun juga menjadi sebuah praktik yang meremehkan kemuliaan Kalamullah.
1. Jual Beli Hukum dan Keadilan yang Tergadai
Fenomena ‘بيع الحكم’ atau ‘menjual pemerintahan/hukum’ adalah indikasi runtuhnya integritas dan keadilan dalam masyarakat. Ketika keputusan-keputusan hukum dan amanah kekuasaan dapat diperjualbelikan, kebenaran menjadi barang langka, hak-hak terampas, dan yang kuat menindas yang lemah. Ini adalah bentuk pengkhianatan terbesar terhadap amanah Allah dan Rasul-Nya, menciptakan kerusakan yang masif di tengah kehidupan bermasyarakat. Keadilan adalah tiang utama peradaban, dan ketika tiang ini roboh, maka keruntuhan lainnya akan segera menyusul.
2. Meremehkan Nyawa dan Tumpahnya Darah
‘الاستخفاف بالدم’ atau ‘meremehkan pertumpahan darah’ mencerminkan hilangnya rasa hormat terhadap kehidupan manusia. Dalam Islam, nyawa adalah sesuatu yang sangat mulia dan dilindungi. Pembunuhan tanpa hak adalah dosa besar yang ancamannya sangat berat. Ketika nyawa manusia dianggap remeh, pertumpahan darah menjadi hal biasa, konflik merajalela, dan keamanan terancam. Ini menunjukkan betapa rapuhnya kemanusiaan ketika nilai-nilai agama tidak lagi menjadi pedoman dalam menyikapi konflik dan perbedaan.
3. Putusnya Tali Silaturahmi: Luka dalam Ukhuwah
‘قطيعة الرحم’ atau ‘memutuskan silaturahmi’ adalah akar dari banyak perselisihan dan perpecahan dalam umat. Islam sangat menganjurkan untuk menjaga dan mempererat tali persaudaraan. Ketika hubungan kekeluargaan dan persahabatan tercerai-berai, masyarakat akan kehilangan kohesinya, rasa kasih sayang memudar, dan egoisme merajalela. Padahal, silaturahmi adalah jembatan yang menghubungkan hati, memperkuat persatuan, dan menjadi salah satu pintu keberkahan serta panjangnya umur, sebagaimana sabda Nabi ﷺ.
4. Al-Quran Sebagai Hiburan Semata: Bahaya Memperalat Al-Quran
Inilah poin yang sangat krusial dan patut direnungkan, khususnya bagi kita yang berkecimpung dalam dunia tahfizh dan pembelajaran Al-Quran. Abis Al-Ghifari menyebutkan, “suatu kaum yang menjadikan Al-Quran sebagai nyanyian, mereka mengedepankan salah seorang di antara mereka yang bukan paling faqih (paham agama) dan bukan pula yang paling utama, kecuali hanya untuk menyanyikan Al-Quran bagi mereka sebagai nyanyian.” Ini adalah peringatan keras bahwa menghafal Al-Quran bukan sekadar lagu yang indah didengar, apalagi hanya untuk hiburan semata.
Ketika Al-Quran hanya dihargai dari sisi estetikanya, dari merdu suaranya, tanpa diiringi pemahaman, penghayatan, dan pengamalan, maka ia telah kehilangan ruhnya. Memilih imam atau pemimpin qari hanya berdasarkan kemerduan suara, tanpa mempertimbangkan kefaqihan ilmu dan keutamaan akhlak, adalah sebuah kekeliruan fatal. Ini mereduksi Kitabullah yang agung menjadi alat hiburan, padahal ia adalah petunjuk hidup, sumber hukum, dan penuntun ke jalan kebenaran. Ini adalah salah satu bentuk bahaya memperalat Al-Quran yang bisa menggerus keberkahan dan hikmahnya dari hati umat.
Fenomena ini bukan sekadar tentang boleh tidaknya melantunkan Al-Quran dengan indah, sebab Nabi ﷺ sendiri menganjurkan untuk membaca Al-Quran dengan suara yang diperindah. Namun, masalahnya terletak pada niat dan prioritas. Apakah kita membaca dan menghafal Al-Quran bukan sekadar lagu yang memukau telinga, melainkan sebagai sumber ilmu, hikmah, dan petunjuk yang membentuk karakter dan perilaku? Apakah fokus kita hanya pada melodi tanpa memahami pesan-pesan ilahiah yang terkandung di dalamnya? Ketika keindahan suara mengalahkan kedalaman makna, maka sesungguhnya kita sedang menyaksikan salah satu kekhawatiran terbesar Rasulullah ﷺ terhadap umatnya.
Menghafal Al-Quran Bukan Sekadar Lagu: Menjaga Kemuliaan Kalam Ilahi
Maka, refleksi dari kisah Abis Al-Ghifari ini mengajak kita untuk mengoreksi diri. Bukan hanya tentang menghindari jual beli hukum, meremehkan nyawa, atau memutus silaturahmi, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan Al-Quran. Sudahkah kita menjadikan Al-Quran sebagai panduan hidup sejati? Apakah setiap hafalan yang kita miliki diiringi dengan usaha memahami maknanya, mentadabburinya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari? Atau jangan-jangan, tanpa sadar, kita telah terjebak dalam perangkap menjadikan menghafal Al-Quran bukan sekadar lagu, namun kehilangan ruhnya?
Mari bersama-sama menjaga kemuliaan Al-Quran. Jadikanlah ia sebagai petunjuk yang membimbing setiap langkah, cahaya yang menerangi setiap kegelapan, dan obat bagi segala penyakit hati. Hafalkanlah ia dengan niat yang tulus untuk mendekatkan diri kepada Allah, pahami maknanya dengan sungguh-sungguh, dan amalkanlah ajarannya dengan sepenuh hati. Dengan begitu, kita akan menjadi bagian dari umat yang dicintai Allah, bukan umat yang dikhawatirkan oleh Nabi ﷺ.
Untuk melangkah lebih jauh dalam memahami dan menghafal Al-Quran dengan pendekatan yang utuh dan mendalam, yang mengutamakan pemahaman dan pengamalan, kami mengajak Anda untuk bergabung bersama kami. Bersama Qur’an Learning Center Yogyakarta, kita akan belajar bagaimana menghafal Al-Quran bukan sekadar lagu yang indah, tetapi sebuah perjalanan spiritual yang mengubah hidup, membangun pribadi yang berintegritas, dan mewujudkan generasi yang diridhai Allah.
Daftar Referensi
- Abu Ubayd Al-Qasim bin Sallam, Kitab Fadhail Al-Quran, hlm. 166 (Maktabah Syamilah: sumber di Perpustakaan Islam Shamela).
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center YogyakartaInformasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

