Pernahkah kita merasakan getar kerinduan kepada sosok Rasulullah ﷺ, membayangkan betapa beruntungnya para sahabat yang dapat menatap wajah mulianya secara langsung? Kita mungkin merasa terpisah oleh bentangan empat belas abad, namun ada sebuah suara abadi yang menyambungkan kita langsung kepada seruan iman beliau. Sebuah suara yang tak pernah lekang, sebuah panggilan yang menembus batas ruang dan waktu, menjadikan kita seolah duduk di majelis yang sama dengan generasi terbaik umat ini.
Kisah ini datang dari seorang ulama tabi’in yang mulia, Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi. Beliau merenungkan sebuah ayat yang sering kita baca, di mana Allah ﷻ mengabadikan doa para Ulul Albab, orang-orang yang berakal.
رَبَّنَآ إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِى لِلْإِيمٰنِ أَنْ ءَامِنُوا۟ بِرَبِّكُمْ فَـَٔامَنَّا
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): ‘Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,’ maka kami pun beriman…” (Q.S. Ali ‘Imran: 193)
Pertanyaan yang menggugah jiwa pun muncul: siapakah gerangan “penyeru” (munadiy) yang dimaksud dalam ayat agung ini? Jawaban Muhammad bin Ka’ab, sebagaimana dinukilkan oleh Imam Abu ‘Ubaid al-Qasim ibn Sallam dalam kitabnya *Fadha’il al-Qur’an*, sungguh menyentuh dan memberikan kita sebuah perspektif yang luar biasa.
قَالَ: «هُوَ الْقُرْآنُ، لَيْسَ كُلُّهُمْ رَأَى النَّبِيَّ ﷺ»
Beliau berkata: “Penyeru itu adalah Al-Qur’an, karena tidak semua mereka (yang beriman) melihat Nabi ﷺ.” (Fadha’il al-Qur’an)
Suara yang Menjangkau Setiap Generasi
Subhanallah! Jawaban ini begitu dalam dan menenangkan. Penyeru itu bukanlah semata-mata lisan mulia Rasulullah ﷺ saat beliau masih hidup. Bukan pula para dai yang datang silih berganti. Penyeru hakiki yang panggilannya abadi dan takkan pernah sirna adalah Al-Qur’an itu sendiri. Inilah bukti keagungan risalah ini, bahwa Al-Qur’an sebagai penyeru kepada iman adalah sebuah mukjizat yang terus bekerja hingga hari kiamat.
Alasan yang dikemukakan Muhammad bin Ka’ab—”karena tidak semua mereka melihat Nabi ﷺ”—adalah kunci pemahamannya. Jika penyeru itu hanya terbatas pada sosok fisik Nabi, maka bagaimana nasib generasi-generasi setelahnya? Bagaimana dengan kita yang hidup di zaman ini? Apakah kita kehilangan sumber seruan itu? Tentu tidak. Allah, dengan kasih sayang-Nya, telah mewariskan kepada kita “Sang Penyeru” itu dalam wujud Kalam-Nya yang mulia.
Ketika Mushaf di Tangan Kita ‘Berbicara’
Saudaraku, ini mengubah cara kita memandang mushaf yang ada di rumah kita. Ia bukan sekadar kumpulan kertas bertinta. Ia adalah suara langsung dari langit. Ia adalah surat cinta dari Ar-Rahman. Ia adalah Al-Qur’an sebagai penyeru kepada iman yang setiap saat siap memanggil kita, membisikkan petunjuk, dan mengobati luka di hati.
Ketika kita membuka lembarannya, kita sedang mempersilakan Sang Penyeru untuk berbicara kepada jiwa kita. Setiap ayat yang kita baca adalah gema dari seruan yang sama, yang dahulu didengar oleh Abu Bakar, Umar, dan para sahabat mulia. Kita, dengan izin Allah, sedang menyambungkan frekuensi hati kita pada gelombang iman yang sama.
Menjawab Panggilan dengan Sebaik-baik Jawaban
Ayat di atas tidak berhenti pada “kami mendengar”, tetapi berlanjut dengan “maka kami pun beriman” (fa aamannaa). Ini adalah pelajaran terpenting bagi kita. Mendengar panggilan Al-Qur’an menuntut sebuah respons, sebuah jawaban. Jawaban itu bukan sekadar anggukan kepala, melainkan ketundukan hati, kepatuhan raga, dan perubahan nyata dalam hidup.
Inilah esensi dari berinteraksi dengan Al-Qur’an. Bukan hanya membaca, bukan hanya menghafal, tetapi meresapi panggilannya hingga ia menjadi denyut nadi kehidupan kita. Proses menghafal Al-Qur’an sejatinya adalah proses menginternalisasi seruan-seruan ilahi, agar Al-Qur’an sebagai penyeru kepada iman tidak hanya terdengar di telinga, tetapi bersemayam kuat di dalam dada.
Anda Tidak Pernah Sendirian
Mungkin kita merasa jauh dari masa kenabian. Mungkin kita merasa iman kita sering terkikis oleh hiruk pikuk dunia. Namun, renungkanlah kembali tafsir indah ini. Kita tidak pernah ditinggalkan. Selama Al-Qur’an masih ada di tangan kita, maka Sang Penyeru itu akan selalu bersama kita, siap membimbing kita kembali ke jalan-Nya.
Mari, kita jawab panggilan itu. Kita buka kembali mushaf kita dengan hati yang baru, dengan kesadaran bahwa kita sedang berdialog dengan Rabb semesta alam. Karena sungguh, Al-Qur’an sebagai penyeru kepada iman adalah anugerah terbesar bagi kita, umat yang merindukan Nabinya ﷺ.
Daftar Referensi
- Al-Qur’an, Surah Ali ‘Imran: 193.
- Al-Hafizh Abu ‘Ubaid al-Qasim ibn Sallam, Fadha’il al-Qur’an.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

